KA

Rico Tsiau
Chapter #44

Yang Tak Terucap

"Waktu adalah barang aneh."

Along tak langsung ingin membantah, ia melemparkan tanya.

"Kenapa?"

Asun menghela napas.

"Kau tak merasa?"

Along berdecak, tak paham arah pembicaraan kawannya itu.

"Apa?" tukasnya.

"Tak lama lagi mereka akan meninggalkan kita—"

Kalimat itu masih menggantung. Asun tampak sedikit tenggelam dalam lamunan. Perlahan Along bisa menebak arah. Tapi tak ingin menyuarakannya. Ia membiarkan, memberi ruang untuk apa yang mengganggu pikiran Asun.

"Tak ada SMA di kampung kita," Asun mulai.

Kini Along sepenuhnya yakin tebakannya benar, namun ia tetap diam.

"Siau Cin akan ke kota, untuk melanjutkan sekolah," lanjut Asun. "Dan rumah akan sepi."

Kini Along melihat ke dalam dirinya sendiri. Benar, tak lama lagi Ai Phing tentu juga akan melanjutkan sekolah. Tak di kampung ini. Ke kota. Rencana sudah ada, Ai Phing akan kembali ke rumah keluarga Ng, ke Toaku dan Toakim-nya. Dan sepertinya rumah hanya akan tinggal ia dan Ka Thiam. Sempat terpikir olehnya, kalau Ka Thiam ikut saja dengan Cici-nya ke kota. Tapi anak itu malah sudah betah di kampung, tak ingin pergi. Setidaknya itulah yang Along dengar ketika Ka Thiam dan Ai Phing berdebat tentang ini.

Along melihat Asun masih setengah melamun.

"Ai Phing juga," kata Along dengan suara pelan.

Dan ketika akhirnya ia menyuarakan itu, ada rasa aneh yang bergulat dalam dadanya. Kebersamaan dalam dua setengah tahun ini jelas telah merekatkan sesuatu. Delapan tahun yang hilang memang tak akan kembali, tetap tinggal sebagai masa lalu yang tak dapat diubah lagi.

Namun melihat anak gadisnya tumbuh bersamanya selama waktu yang masih terhitung singkat itu, tak urung membuat dada terasa lebih sempit, bahkan bisa mengaduk hatinya sebentar lewat pikiran singkat yang terkadang muncul tanpa diundang.

Asun rupanya tak mendengar suara Along yang pelan itu.

"Kau tak merasa berat? Ai Phing juga bakal ke kota, kan?"

Along kembali berdecak. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam, mengembuskannya pelan.

"Aku—"

Tapi Along tak menyelesaikan kata-katanya.

"Aku tahu, kau juga merasa berat."

"Tidak."

Gantian Asun yang berdecak.

"Bohong," tukasnya cepat.

"Itu kan memang seharusnya," timpal Along dengan nada yang ia usahakan datar. "Kita sudah tahu itu akan terjadi, mereka akan melangkah keluar dari rumah bila saatnya tiba."

Dari kalimat yang seakan telah diukur terlebih dahulu itu, Asun langsung tahu kawannya tak menunjukkan perasaannya dengan jujur. Tapi ia juga tak ingin sampai menekan.

"Kurasa itu juga benar," katanya. Matanya menatap jauh. "Tapi kita tak pernah siap."

Along kembali diam.

Asun menenggak birnya dengan tegukan besar.

"Ah…" ia mendesah. "Anak-anak kita bagaikan anak burung juga. Suatu saat mereka akan terbang pergi. Bedanya pada burung—anak-anak mereka tak akan pulang ke sarang, sarang mereka rusak. Kita…"

Asun berhenti sejenak, meneguk lagi seteguk.

Lihat selengkapnya