KA

Rico Tsiau
Chapter #45

Rindu

Along melangkah ke dapur, memandang berkeliling. Toples kue di atas meja—Ai Phing yang mengisi ulang sebelum ia pergi. Sandal kecil Ka Thiam yang tertinggal di sudut, satu, pasangannya entah ke mana. Buku pelajaran yang tersusun rapi di rak kecil yang ia buat sendiri dari kayu dan triplek bekas pakai.

Rumah ini penuh oleh mereka. Bahkan ketika mereka tak ada, jejaknya tetap di sana, mengisi ruang yang seharusnya kosong.

Ia menghela napas. Berdecak pelan—kali ini bukan pada siapa pun, hanya pada dirinya sendiri.

Malam itu, Along makan sendirian seperti seminggu terakhir ini. Nasi yang ia masak sendiri, terlalu banyak air, ikan goreng yang terlalu sedikit garam. Ia makan juga, tanpa berkata apa pun, karena memang tak ada yang lain di sampingnya.

Rumah ternyata hidup bukan karena dirinya, pikirnya, meski tak sepenuhnya berani mengakuinya keras-keras, bahkan pada dinding rumahnya sendiri.

Rumah ini hidup karena ada yang mengisinya.

Dua setengah tahun ini…

Dengan piring bekas makan yang masih ada di meja, Along kembali melamun.

Lamunannya sampai ke sore itu, sewaktu ia pulang, baju kerja penuh debu besi, bau oli menempel sampai ke rambutnya. Ia menuju kamar mandi, mengambil handuk yang sudah tergantung rapi di pakunya—Ai Phing yang selalu memastikan itu.

Tapi rumah sepi.

Teras jelas tak ada siapa pun. Ia melongok ke dapur, ke luar pintu belakang—kosong. Ke kamar anak-anak—kosong. Ia tak perlu bertanya pada siapa pun. Ia tahu. Ai Phing sedang ke rumah Siau Cin, mungkin. Atau ke warung, membeli sesuatu untuk makan malam. Hal-hal kecil yang tak benar-benar pernah ia pikirkan, waktu itu otomatis muncul di kepalanya begitu rumah terasa kosong sedikit saja.

Ia membuka keran air, membasuh wajahnya. Air dingin menampar kulitnya yang lelah. Lima belas menit kemudian, ia mendengar suara sandal di teras. Ai Phing masuk membawa kantong plastik berisi cabai dan bawang.

"Papa sudah tutup bengkel?" tanyanya, kaget sedikit.

"Baru saja," jawab Along singkat.

Tak ada yang istimewa dari percakapan itu. Tapi rumah, seketika, terasa penuh lagi.

Kini Along menghela napas, menyalakan sebatang rokok. Masih tetap duduk, pikirannya kembali melayang.

Ka Thiam datang ke bengkel sore itu, seperti biasa, duduk di sudut sambil memperhatikannya bekerja.

Hari itu, tanpa diminta, ia meraih tang dari kotak perkakas, menyodorkannya sebelum Along sempat memintanya.

Lihat selengkapnya