Malam sebelum kepulangan anak-anak. Asun bertandang. Di tangan kirinya, satu kantong plastik berisi selusin bir. Tangan kanan pula, selain senter, satu kantong plastik berisi mangkuk stainless, asap tipis mengepul—ayam goreng buat tambul.
"Long!" Suaranya keras sekali.
Along masih di dapur, baru saja selesai mencuci piring kotor dari berhari-hari lalu. Sempat mendecak kecil ketika mengenali suara Asun, ia kemudian berseru tak kalah keras.
"Masuk saja!"
Di luar terdengar suara kekeh riang. Derit papan di lantai teras, lalu menyusul suara kaleng bir diletakkan di meja kayu kecil. Suara pantat menghenyak di kursi panjang.
Dan—
"Hoi… keluar kau."
Bentakan riang itu sampai ke dapur. Along berdecak lagi, lebih keras. Sambil mengelap tangannya di baju yang dipakainya, ia berjalan keluar.
Yang pertama menyambutnya adalah aroma harum ayam goreng bawang putih yang dibawa Asun. Lalu seringai misterius Asun, yang langsung membuka dua kaleng bir dingin yang ia bawa tadi.
Css!
"Mari bersulang," kata Asun. Tangannya mengulurkan kaleng yang telah dibuka pada Along.
"Ha?" Along sedikit terkejut dengan sikap itu. Tapi ia tetap menyambut bir yang diulurkan padanya.
"Kabar gembira," tukas Asun lagi, lebih riang. "Langit menjawab doaku."
Mata Along menyipit, penasaran. Namun ia tahu, tak perlu tanya. Asun akan ngoceh panjang setelah ini.
Dan Along benar.
"Long, anak-anak tak perlu ke kota."
Along menahan diri untuk menanggapi. Biar saja, pikirnya. Ia kenal Asun lebih dari cukup, sobatnya ini kadang bisa berbicara tanpa ujung pangkal, tapi setelah selesai—semua akan tersusun rapi.
"Kita gelisah, kan?" lanjut Asun.
Kita? Pikir Along. Tapi tak menyuarakannya. Ia mengambil seketul ayam goreng. Masih sabar menanti kawannya menuntaskan apa yang ia bawa.
"Nah sekarang, tak usah risau lagi."
Asun kadang memang menyebalkan seperti ini. Kadang mutar dulu di hal-hal tak perlu baru kemudian sampai di penjelasan. Namun mungkin karena sudah terbiasa menghadapinya, Along hanya menyesap birnya pelan-pelan sambil mengunyah ayam.
Dan benar, Asun akhirnya sampai pada apa yang membuatnya begitu sumringah malam ini.
Pak Kadir yang sudah pensiun itu, bersama istrinya, Ibu Rosma yang masih mengajar di SMP kampung ini, sudah lama punya hajat besar. Sudah bertahun-tahun lalu pasangan guru ini ingin menghadirkan Sekolah Menengah Atas di Desa Bakau Panjang.
"Dan mereka berhasil, dinas terkait menyetujui. Jumlah murid memadai, dan memang sudah waktunya kampung kita punya SMA."
Asun masih sangat antusias.
"Belum bisa negeri. Pak Kadir bilang, sementara pakai yayasan dulu. PGRI kalau tak salah namanya."
Along kini tahu maksud Asun.