KA

Rico Tsiau
Chapter #47

Rumah Bernapas

Rumah bersih. Ayi Bi Ling datang membersihkan hari itu, setelah menuntaskan cucian. Rantang dari Bi Suat juga sudah jalan. Along sendiri yang semalam mampir ke rumahnya memberitahu bahwa anak-anak akan pulang, dan meminta Bi Suat kembali mengantar lauk-pauk.

Rice cooker masih tercolok, lampu hijau bertulis warm menyala di sudut bawahnya.

Along baru saja akan menyuruh anak-anak membereskan barang bawaan ke dalam kamar dan makan siang. Tapi Ai Phing mendahului.

"Thiam, kita pasang Hio dulu."

"Yuk," Ka Thiam mengangguk.

Ya, benar. Harusnya itu dulu, pikir Along. Ia lalu bergerak ke tepi altar, mengeluarkan dua lilin lalu menyalakannya dengan korek api. Ketika lilin merah itu berdiri rapi di tatakan kuningan, Along menerima enam batang hio dari Ai Phing, menyalakannya, lalu menyerahkan kembali. Tiga untuk Ai Phing, tiga untuk Ka Thiam.

Ai Phing berlutut lebih dahulu, Ka Thiam menyusul di sampingnya. Menghadap Papan Abu leluhur, kedua anak itu memberitahukan kembalinya mereka dari kota, dan untuk hari ini dan setelahnya, mereka akan berada di rumah ini.

Along sendiri tak pasang hio, ia hanya menatap kedua anaknya. Lalu berpaling pada Papan Abu, berbisik dalam hati.

"Pa, Ma… anak-anak hari ini pulang."

Anak-anak hari ini pulang. Kalimat itu menyesap dan tinggal lama dalam hatinya.

Dan, ya… rumah tak lagi sunyi.

Tas dibongkar. Ka Thiam tak sabaran lagi—menurutnya makan siang bisa menunggu. Lagi pula perutnya "sedikit berputar" karena gelombang yang mengayunkan kapal tanpa henti sepanjang perjalanan.

Along segera tahu, uang jajan yang diberikannya tak mungkin cukup untuk membawa pulang begitu banyak makanan kecil, mainan Ka Thiam, juga beberapa setel pakaian baru. Lai Sim pasti telah banyak mengeluarkan uang untuk kedua keponakannya itu.

Mau tak mau Along merasa tak enak. Ia bahkan sempat menyesal tak menyelipkan uang lebih kepada Ai Phing sebelum mereka berangkat.

Pandangannya kemudian berhenti pada anak gadisnya itu. Entah sejak kapan, kata bocah tak lagi terasa tepat.

Bukan semata karena tubuhnya bertambah tinggi atau wajahnya mulai kehilangan garis-garis kanak-kanak. Ada sesuatu pada pembawaannya yang membuat Along berhenti memandangnya sebagai anak kecil.

Dewasa.

Kata itulah yang akhirnya muncul di kepala Along.

Ia mengingat-ingat. Rasanya bukan baru hari ini. Hampir sejak kembali tinggal bersamanya, Ai Phing perlahan berubah menjadi seperti itu.

Along berdecak pelan.

Keadaan.

Mungkin keadaanlah yang memaksa anak itu tumbuh lebih cepat. Kehilangan mamanya, lalu sedikit demi sedikit mengambil alih hal-hal yang dulu dikerjakan perempuan itu.

Along menghela napas.

"Makan dulu, nanti baru beresin," katanya singkat pada kedua anaknya.

Ai Phing mengangkat wajahnya.

"Iya," ia menjawab papanya, lalu berpaling pada Ka Thiam. "Cepat."

Meski Ka Thiam belum puas membongkar mainannya, ia manggut. Lalu berdiri mendahului ke dapur.

Ai Phing teringat sesuatu. Tangannya merogoh sampai ke dasar tas, mengeluarkan satu kotak plastik makanan yang dibungkus rapi dengan koran bekas. Isinya: daging ayam beku yang telah dibumbui oleh Toakim-nya—Apin—tinggal digoreng kalau mau dihidangkan.

"Ini harus masuk kulkas dulu," tangannya merogoh lagi. "Lempuk durian," katanya dengan senyum menghias bibirnya.

"Beli?" tanya Along.

Lihat selengkapnya