Jatah oleh-oleh untuk Siau Cin dan Salma adalah asinan salak, gantungan kunci mungil yang lucu, serta ikat rambut bermanik-manik warna-warni. Empat buah, sama persis, satu untuk masing-masing anggota kelompok kecil mereka.
Namun petang itu Susilawati tak datang ke teras Along. Hanya Siau Cin dan Salma yang bertandang.
Untuk keduanya, Ai Phing memotong bolu gulung selai nanas dari dapur, lalu membawanya keluar bersama segelas besar sirup rasa kurma.
"Phing, kau tahu, kan?" celetuk Salma begitu duduk.
"Apa?" Siau Cin lebih dulu menyambar.
Tapi Salma pura-pura tak mendengar. Matanya tetap pada Ai Phing.
"Kita tak jadi pisah."
Ai Phing mengernyit.
"Karena Pak Kadir."
Mata Ai Phing langsung membesar.
"SMA," lanjut Salma antusias. "Bayangkan. Akhirnya kampung kita punya SMA."
"Jangan bilang kau masih mau pindah ke kota," sela Siau Cin cepat.
Ai Phing tertawa kecil.
"Tentu aku tinggal."
"Nah, itu baru benar." Siau Cin mengangguk puas.
"Kita bakal cetak sejarah," kata Salma lagi.
"Sejarah apa?"
"Kita angkatan pertama."
"SMA PGRI Bakau Panjang," sambung Siau Cin dengan bangga.
Salma mengangguk berkali-kali, mulutnya masih penuh bolu.
"Nanti kalau sudah tua, kita bisa cerita ke anak-anak kita. Dulu kami murid angkatan pertama."
Mau tak mau Ai Phing ikut terkekeh. Membayangkan hal itu saja sudah cukup membuat dadanya makin ringan.
Dari Salma pula kabar tentang sekolah baru itu mengalir semakin lengkap.
Meski pendaftaran masih enam bulan lagi, kakeknya, Haji Tamar sudah mulai memesan papan dan broti. Seng akan menyusul setelah dihitung kebutuhannya. Tukang pun kabarnya sedang dicari. Bahkan urusan saluran air dan jamban sudah mulai dibicarakan.
"Papannya nanti diserut pakai ketam sampai licin, kata Atok."
Salma menyeruput sirupnya.
Slrrp!
"Terus dicat pakai cat minyak."
Ketiga gadis itu mendengarkan dengan penuh minat, meski tak satu pun benar-benar memahami berapa biaya dan tenaga yang harus dikeluarkan untuk membangun sebuah sekolah.
Bagi mereka, yang terpenting hanya satu. Mereka tak perlu berpisah. Dan bagi remaja seusia mereka, alasan itu saja sudah lebih dari cukup.
…
Di ambang senja itu Ka Thiam tak berhenti mengoceh. Celotehnya dimulai sejak pulang bermain bulu tangkis. Masih berlanjut ketika ia mandi, bahkan suaranya tetap terdengar dari balik pintu kamar mandi. Setelah berganti pakaian dan akhirnya duduk di meja makan pun, mulutnya tetap bekerja.
Besok pagi harus potong rambut. Lusa sudah sekolah. Tali sepatu harus dipasang lagi karena kemarin dilepas waktu dicuci. Dan urusan tali sepatu itu, tak boleh Ai Phing, tak boleh dirinya sendiri. Harus Papa.
"Papa buat simpulnya paling keren."
Along hanya mendecak sambil menyendok nasi.
Dan belum selesai.
Lapangan bulu tangkis di sekolah katanya mulai ditumbuhi rumput lagi. Pak Guru sudah pesan pada anak-anak untuk bersih-bersih. Juned bilang garis lapangannya nanti digambar ulang pakai kapur.
Barulah, setelah potongan terakhir ikan parang goreng berpindah ke mulutnya, Ka Thiam teringat sesuatu.
"Oh iya!"