KA

Rico Tsiau
Chapter #49

Hari-hari Bergulir

Hari-hari bergulir bagai angin dari kuala. Kadang terasa melintas begitu saja, kadang seolah enggan beranjak.

Baru kemarin anak-anak sibuk menyiapkan semester baru. Semester terakhir bagi Ai Phing di SMP, sementara Ka Thiam bersiap meninggalkan bangku SD. Tahu-tahu Imlek sudah di depan mata.

Kalau dipikir-pikir, waktu memang aneh.

Rasanya baru kemarin Ka Thiam sibuk mengunyah kue keranjang bercampur parutan kelapa saat Imlek. Kini bocah itu sudah berdiri di pemakaman keluarga, menempelkan potongan-potongan kertas warna-warni di sekeliling makam Akong dan Amah-nya.

Tiga makam lain juga harus ditempelinya.

Papanya sudah berkali-kali memberitahu siapa yang berbaring di sana, juga bagaimana ia harus memanggil mereka. Tapi setiap tahun Ka Thiam lupa lagi.

Untunglah tahun ini banyak saudara datang membantu. Ada keluarga jauh yang datang dari tempat lain khusus untuk chimia. Ada yang harus dipanggil Acek Ahui, istrinya Acim Amui. Ada pula seorang lelaki tua berkumis lebat, dengan alis yang tak kalah tebal, yang harus dipanggil Apek Atat. Istrinya bertubuh kurus, tapi cekatan luar biasa, dipanggil A'em tanpa embel-embel nama.

Tapi baru sebentar saja, Ka Thiam sudah lupa nama. Pokoknya panggil saja Acek, Acim, Apek, dan A'em… tak bakal salah. Dan tak ada yang protes.

Mereka datang bersama anak-anaknya. Semuanya lebih tua daripada Ka Thiam, sehingga sejak pagi bocah itu tak henti-hentinya memanggil "Koko" atau "Cici" kepada siapa saja.

Asuang dan Asan juga bergabung. Makam keluarga Tiu sudah mereka bersihkan sehari sebelumnya. Memang begitu tradisinya—keluarga suami dulu, baru keluarga asal. Hampir tiap tahun Asan selalu mengurus makam keluarganya lebih dahulu, agar pada hari Chimia Asuang bisa sepenuhnya mengikuti ritual bersama keluarga Lim.

Setelah kertas warna-warni selesai ditempel, hio mulai dinyalakan. Satu per satu anggota keluarga maju. Dimulai dari yang paling tua, diakhiri oleh yang paling muda.

Lalu Kimcoa dibakar. Bagian itulah yang paling ditunggu Ka Thiam. Begitu pakaian dan sepatu kertas dikeluarkan, bocah itu langsung mengangkat tangan.

"Yang itu aku!"

Tak seorang pun memperebutkannya. Semua membiarkan Ka Thiam menikmati tugas yang menurutnya paling penting itu. Bahkan Ai Phing pun hanya tersenyum melihat adiknya begitu bersemangat.

Selesai dari pemakaman, rombongan berpindah ke rumah Along.

Tak ada yang ingin duduk di dalam. Angin dari selat bertiup sejuk membelai teras, membuat semua orang memilih duduk melingkar di luar sambil bercakap-cakap.

Makan siang dipesan dari rumah makan Padang yang baru enam bulan buka di kampung itu. Along dan Asan yang pergi mengambil pesanannya.

Sementara itu Asuang dan Ai Phing mondar-mandir dari dapur. Menyeduh kopi, menuang teh, mengisi gelas sirup, lalu mengeluarkan piring-piring kue.

Ka Thiam sudah sepenuhnya lupa semua nama sepupu yang baru dikenalnya pagi tadi. Tapi itu tak menghalanginya bermain. Dalam waktu singkat mereka sudah ribut mengelilingi Siau Li—gadis kecil imut dengan rambut yang terlalu pendek untuk diikat rapi—yang hari itu menjadi pusat perhatian.

Di dapur, istri Atat yang dipanggil A'em oleh anak-anak Along itu memperhatikan dengan senyum tipis.

Matanya lekat pada Ai Phing yang cekatan menuang kopi.

"Ini anak Along, usia berapa?" tanyanya pada Asuang pelan.

"Tujuh belas."

Sebenarnya Ai Phing belum tujuh belas, tapi dalam hitungan Tionghoa, usia sejak kandungan dihitung satu tahun. Sehingga Ai Phing yang baru enam belas lewat beberapa bulan sudah dihitung tujuh belas.

"Cantiknya…"

Asuang tersenyum lalu mengangguk. Tapi Ai Phing bisa mendengarnya, ia tersipu dipuji demikian.

"Rajin kali."

Pujian itu datang lagi.

Belum sempat Asuang menjawab, Along kebetulan masuk mengambil teko.

"Aku minta air panas."

"Long," sapa si A'em. "Anakmu pandai kerja rumah."

Along menoleh sebentar pada Ai Phing yang sedang menyusun cangkir.

"Hm." Jawabannya singkat. "Memang dari dulu begitu."

"Tak lama lagi kau bisa jadi Akong."

Along tertawa. "Masih lama, anakku baru mau SMA."

Lalu ia membawa teko itu keluar lagi.

Asuang sempat melirik punggung abangnya yang menjauh. Bibirnya nyaris membentuk senyum. Hanya Asuang yang sempat menangkap perubahan kecil itu.

Beberapa tahun lalu, mungkin Along masih akan menjawab,

"Ai Phing."

Hari ini, tanpa berpikir, ia menyebutnya...

"Anakku."

Ada hari ketika waktu merangkak lambat, bagai siput menyeberang jalan.

Hari itu Ka Thiam duduk lesu di teras, sementara Ai Phing mengawasinya mengerjakan contoh soal matematika. Besok ulangan. Dan Ai Phing tak sudi adiknya kembali membawa nilai yang membuat guru hanya bisa menggeleng.

Beberapa kali Ka Thiam melirik papanya yang mondar-mandir di depan bengkel. Tatapan minta tolong itu jelas sekali. Tapi Along hanya lewat begitu saja, seolah tak melihat. Menurutnya, kalau soal pelajaran, Ai Phing memang jauh lebih galak daripada guru di sekolah. Dan itu baik.

Lihat selengkapnya