KA

Rico Tsiau
Chapter #50

Bakcang dan Beras

Jingga baru mulai menetes di ufuk barat ketika Along memikul travo lasnya pulang.

Masih ada waktu kalau ingin membuka bengkel sebentar. Beberapa pesanan kecil menunggu. Ai Phing juga sempat mencatat dua pelanggan yang datang siang tadi.

Namun langkah Along melambat. Entah kenapa yang terlintas justru wajah Ahao.

Pak Kadir memperkerjakannya. Didukung Haji Tamar.

Barangkali dua orang tua itu sedang memberi pemuda tersebut sebuah jalan. Kesempatan.

Along mengembuskan napas pelan.

Niat mereka baik. Tapi jalan keluar dari jurang semacam itu tak pernah mudah.

Ia tahu.

Pemuda itu pernah datang melamar kerja kepadanya. Ia tolak. Pernah mencoba menjual besi curian. Ia usir. Pernah pula menawarkan arak selundupan. Kalau waktu itu Ahao membawa barang yang lebih gelap daripada itu, mungkin Along tak sekadar mengusir.

Namun hari ini berbeda. Sepanjang hari pemuda itu bekerja tanpa banyak bicara. Tak memilih pekerjaan. Disuruh mengangkat besi, ia mengangkat. Mengetam papan, ia mengetam. Mengaduk semen pun ia lakukan tanpa mengeluh.

Along tak tahu apakah itu pertanda apa-apa. Satu hari tak cukup mengubah seseorang.

Tapi paling tidak hari ini Ahao memilih bekerja.

Along berdecak pelan.

Pikiran itu berhenti di sana. Ia tak pernah suka mengurusi hidup orang lain terlalu lama. Sesampainya di rumah, ia bahkan memutuskan tak membuka bengkel lagi. Badannya pegal, matahari pun hampir tenggelam.

Lebih baik mandi, istirahat, lalu malam nanti menikmati kopi buatan Ai Phing.

Asal saja Asun tak muncul membawa selusin bir lagi.

"Phing, tahun ini kita bikin Bakcang yuk."

Senyum remaja itu langsung merekah.

"Mau," jawabnya cepat, tanpa perlu berpikir.

Asuang ikut tersenyum.

"Nanti kamu bantu Ako rebus sama bersihin daun bambu, ya."

"Tentu."

Ai Phing memang ingin belajar. Namun sesaat kemudian ia teringat bahan-bahannya. Beras pulut, jamur hioko, ebi, bumbu, kecap, dan terutama daging bagian perut yang berlemak. Menjelang Festival Bakcang, harganya hampir selalu naik.

"Daging sudah ada di kulkas," gumam Asuang sambil menekuk jari satu per satu, seolah sedang menghitung daftar belanja. "Jamur hioko, ebi kasar, pulut, kecap... tinggal daun bambu sama beberapa bumbu lagi."

Ai Phing tahu kebiasaan Ako-nya. Kalau Asuang sudah mulai menghitung seperti itu, berarti hampir semua keperluan sudah disiapkannya.

Tahun ini Asuang ingin memasak Bakcang di rumah Along.

"Biar Ai Phing sekalian belajar," begitu alasannya ketika tadi meminta Along membuatkan tungku dari besi.

Sebenarnya ada alasan lain. Di rumah mertuanya, Siau Li yang semakin besar dan semakin aktif tak akan membiarkan siapa pun bekerja dengan tenang. Semua ingin dipegangnya, semua ingin dicobanya, ia merasa harus ikut campur dan mengerjakan apa pun yang dilakukan orang dewasa.

"Ahia nanti carikan juga kayu bakar, ya," kata Asuang sebelum pulang. "Kalau pakai kompor minyak lama matangnya."

Along bahkan belum sempat mengangguk ataupun menolak. Adiknya sudah lebih dulu berjalan pergi.

"Ck."

Ia hanya bisa berdecak.

Lihat selengkapnya