Ai Phing dan Siau Cin ternyata membutuhkan waktu paling lama hanya untuk berurusan dengan daun bambu. Dua lembar daun harus disusun sejajar agar cukup lebar.
"Salah." Sesekali Asuang mengambil alih. "Lihat... begini."
Tangannya melipat perlahan, memperlihatkan bagaimana bagian bawah harus dibentuk lebih dulu.
"Lipatan awal harus rapi," Ayin ikut menimpali. "Kalau dari awal sudah miring, nanti waktu masukin pulut sama daging pasti susah."
Kedua remaja putri itu mengangguk-angguk.
Melihat memang mudah. Mencoba ternyata lain cerita.
Pulut yang terlalu banyak membuat daging tak muat. Terlalu sedikit, Bakcang menjadi kempis. Belum lagi bagian penutupnya. Ujung daun harus dilipat rapat, lalu diikat kuat tanpa menyisakan celah agar saat direbus isinya tidak bocor.
Beberapa kali ikatan mereka terlepas. Beberapa kali pula Asuang membuka lagi hasilnya dan menyuruh mereka mengulang.
Menjelang siang, akhirnya belasan Bakcang hasil tangan Ai Phing dan Siau Cin selesai juga.
Bentuknya masih belum seragam. Ada yang terlalu gemuk, ada yang kurus memanjang. Ikatannya pun tak secantik buatan Asuang dan Ayin. Disandingkan dengan hasil tangan dua perempuan yang sudah bertahun-tahun membuat Bakcang, perbedaannya langsung terlihat.
Namun tak ada yang mempermasalahkan. Justru Bakcang pertama yang matang itulah yang paling diperebutkan.
Katanya, Bakcang paling enak dimakan setelah sehari atau dua hari, ketika tekstur dan rasa benar-benar seirama. Tetapi setiap tahun, yang baru diangkat dari rebusan panjang itulah yang paling cepat habis.
Asap putih masih mengepul tebal ketika Ka Thiam dan Siau Cin buru-buru membuka ikatan daunnya.
"Panas!"
Meski kepanasan, keduanya tetap meniup-niup isinya sambil tertawa.
"Hmmm... enak!"
Seruan mereka hampir bersamaan.
Ai Phing ikut mengambil satu. Ia meniupnya perlahan, lalu menggigit sedikit. Ia tersenyum.
"Enak."
"Mau lagi."
Bakcang pertama Ka Thiam bahkan belum habis ketika tangannya sudah terulur lagi.
Ai Phing terkekeh melihat tingkah adiknya.
"Nih."
Ia menyerahkan satu lagi.
Tak lama kemudian semua ikut menikmati. Asuang bahkan membawa dua buah untuk Along yang masih bekerja di bengkel.
Di tengah suasana riuh itu, entah bagaimana pikiran Ai Phing melayang sebentar. Wajah seseorang muncul begitu saja.
Ahao.
Hanya sekejap.
Sesaat kemudian Siau Cin menyenggol lengannya.
"Hei... malah bengong."
Ai Phing tersentak kecil.
"Ha? Enggak."
Ia cepat-cepat tersenyum, tetapi entah kenapa pipinya terasa sedikit hangat. Untunglah Siau Cin sudah lebih dulu sibuk membuka Bakcang berikutnya.
…
Petang itu juga Ka Thiam mendapat tugas.
Ia harus mengantar lima belas Bakcang ke rumah keluarga Tan. Keluarga itu masih berkabung. Menurut adat, selama masa berkabung mereka berpantang membuat Bakcang sendiri. Maka Asuang dan Ayin sepakat mengirimkan sebagian hasil masakan hari itu.
Meski sempat bersungut-sungut, Ka Thiam akhirnya menurut juga. Perintah Ako-nya saja sudah sulit ditolak. Apalagi tatapan Cici-nya.
Sesampainya di rumah keluarga Tan, seorang gadis kecil berdiri di halaman.
"Apa itu?"
Matanya langsung tertuju pada kantong plastik hitam yang menggantung di stang sepeda.