KA

Rico Tsiau
Chapter #52

Berteduh

Orang bilang, kalau sudah makan Bakcang, musim kemarau sudah menunggu di depan pintu. Entah datangnya cepat atau masih malu-malu, tak ada yang benar-benar tahu. Yang jelas, kalau kemarau sudah benar-benar betah, debu akan menjadi kawan sehari-hari.

Tapi orang-orang pulau tak pernah menunggu sampai bak air tinggal separuh. Mereka sudah lebih dulu menadah hujan terakhir, menyimpannya baik-baik di dalam bak beton, berharap cukup sampai langit kembali bermurah hati beberapa bulan kemudian.

Bakau Panjang yang dikepung air asin sudah lama belajar hidup seperti itu.

"Oiii… oiii… oiii…"

Khadijah menggerutu sambil memandang langit.

"Hah?" Saman yang sedang bersiap-siap pergi mendorong gerobak es tebunya menatap heran pada istrinya.

"Abang tengok ke atas," tunjuk Khadijah ke langit.

Saman mendongak. Awan hitam berarak rapat dan menggantung cukup rendah di beberapa titik, seakan sedang mengertak tanah. Sesekali matahari mengintip dari baliknya.

"Ah, sudah dua hari begitu," katanya sambil lalu. "Tak hujan pun."

"Nak hujan nih, Bang," tukas Khadijah.

Saman mungkin tak setuju. Sudah dua hari langit menghitam, tapi tak pernah berakhir dengan hujan. Ia yakin, hari ini juga begitu. Tapi ia sedang tak ingin berdebat dengan istrinya. Menurut pengalaman Saman, langit bisa menggertak berkali-kali sebelum benar-benar menumpahkan air. Selama tanah masih kering, gerobak es tebunya tetap harus jalan.

"Kalau kau yakin hujan, ha… jaga kayu bakar baik-baik." Kata Saman menunjuk terpal di samping rumah dengan mulutnya.

Khadijah memang risau kalau hujan turun tiba-tiba. Kayu bakar yang dijemurnya sejak semalam akan sia-sia kalau air dari langit itu menimpa.

Maka pikirannya langsung teralihkan dari suaminya yang masih nekat mendorong gerobak esnya ke tepi pasar.

Kayu bakar lebih penting, pikirnya.

Dan baru saja ia selesai menutupi tumpukan panjang kayu leban yang telah terbelah kecil itu, suaminya sudah menghilang dengan gerobaknya, sebelum terpal benar-benar dirapikan ujungnya.

"Aih…" ia mendesah risau, menatap langit sambil geleng-geleng.

Andai saja Saman mau mendengar istrinya…

Ai Phing meminta Siau Cin dan Salma tak menantinya. Bahkan ia tak mau dibantu ketika Susilawati menawarkan diri.

"Kalian pulang saja duluan, dah mau hujan."

Ketika ketiga kawannya dilanda ragu, Ai Phing menegaskan kembali.

"Aku bawa payung, sedangkan tak satupun dari kalian yang bawa. Kan?"

Alasan itu tak bisa dibantah.

"Nanti kumpul di rumahku, ya," ujar Siau Cin sebelum beranjak.

"Kalau tak hujan," jawab Ai Phing sambil tersenyum.

Setelah mereka pergi, Ai Phing segera kembali ke kelas. Hari itu kelompok piketnya seharusnya bertujuh, tapi yang hadir hanya tiga orang. Seorang demam, seorang lagi jatuh dari sepeda. Dua lainnya bahkan tak muncul tanpa kabar, dan tanpa belas kasihan wali kelas langsung menulis nama mereka di kolom alpa.

Cukup lama kemudian, ketika di luar awan menggantung makin rendah, makin hitam.

Klak!

Pintu kelas ditutup rapat. Akhirnya tugas penting itu selesai. Sambil saling lambai, mereka yang berpiket memisahkan diri.

Gemuruh pertama yang tadinya seolah masih jauh, masih di ujung langit, sekarang bagai dibujuk angin mengumpul di atas Bakau Panjang. Sang mentari telah bersembunyi sepenuhnya di awan hitam. Dan—

Terang kilat membelah langit…

DUM!

Bentakannya terdengar kemudian.

"Aih… keras sekali."

Ai Phing terkejut. Refleks ia menutup kedua telinganya dengan tangan. Tapi tentu saja sudah terlambat, suara itu sudah terlanjur mengagetkannya.

Ia melirik ke atas. Hujan belum datang. Tapi tak perlu diragukan, hanya sekejap lagi tanah akan basah.

Tanpa berlengah, Ai Phing berlari ke sepedanya di bangsal kiri sekolah. Tasnya bergoyang ke kiri dan kanan mengikuti langkah cepatnya. Payung segera dilepas dari stang, masih terlipat, siap dibuka kapan saja.

Semoga sempat sampai rumah, harapnya.

Sepeda dikayuh cepat-cepat. Melaju di jalan cor semen yang retak-retak.

"Pelan-pelan…"

Sayup-sayup ia masih mendengar seorang wanita tua mengingatkannya ketika berpapasan dengannya di simpang.

"Ya," sahutnya sambil tetap mengayuh.

Lepas dari jalan cor, roda sepedanya kini harus berdamai dengan jalan tanah yang tak rata. Oleng kiri, oleng kanan, tapi masih dapat ia kendalikan dengan baik. Kecepatan tak berkurang.

Beberapa kayuhan kemudian—

Syash!

Tiupan angin kencang membawa tetasan air, menimpakannya ke atas atap rumbia yang rendah sebuah bangsal di tepi jalan. Lalu tetes demi tetes air menghujam rambut dan wajah remaja itu. Ia bahkan dapat melihat serat kain seragam sekolahnya mulai penuh bintik basah.

Di depan, lebih gelap. Memang sudah separuh jalan untuk sampai rumah. Tapi kalau diterobos—tak hanya baju, tas dan buku juga akan basah semua.

Ai Phing menghentikan sepedanya di tengah jalan, kedua kaki menjejak tanah. Tangannya membentangkan payung.

SSH!

Angin menyambarnya. Pegangan payung terlepas dari tangannya. Payung itu melayang.

"Duh!"

Lihat selengkapnya