KA

Rico Tsiau
Chapter #53

Lamunan

Hari-hari bergulir begitu saja. Kemarau akhirnya datang ke Bakau Panjang. Tapi orang-orang tua di kampung selalu bilang, masih ada masa yang mereka sebut kemarau yang basah. Matahari menyengat sejak pagi, sementara hujan sesekali masih turun tanpa aba-aba. Tak lama. Hanya cukup untuk membasahi tanah, membuat debu diam sebentar, lalu langit kembali biru seperti tak pernah terjadi apa-apa.

Itulah yang membuat Ka Thiam sering bersungut-sungut.

"Tadi panasnya bukan main, eh petang hujan pula."

Ai Phing tak menanggapinya. Tangannya tetap sibuk menjahit ujung kaus kaki adiknya yang robek di bagian jempol.

Ka Thiam mendongak lagi ke langit.

"Kalau begini mana bisa main terus."

Kali ini Ai Phing mengangkat wajah. Jarumnya berhenti sesaat.

"Kan bagus," katanya tenang. "Bisa sesekali belajar daripada keluyuran tiap petang."

Ka Thiam mendesah. Baginya, kalau PR sudah dikerjakan, itu artinya urusan sekolah selesai. Baca-baca ulang tak perlu. Toh tak ada yang bakal lengket di kepalanya.

Pada akhirnya, ketika langit masih muram dengan gerimis tak berkesudahan, Ka Thiam menyerah. Ia memilih komik untuk mengisi petangnya.

Ai Phing hanya geleng-geleng melihat adiknya duduk manis di pojok, tenggelam pada komik yang sama yang telah dibaca berulang kali. Masih belum bosan.

Apa semua anak laki-laki memang begitu? Tak pernah bosan pada satu hal yang benar-benar menarik hatinya. Ai Phing mengingat-ingat. Herman juga begitu—yang hampir duduk di bangku SMA—tak jemu-jemunya membahas mobil Tamiya dengan kawannya sesama cowok. Atau Heru, Januardi, dan Malim yang bisa berdebat panjang hanya karena panjang pendek joran pancing.

Seru sekali mereka.

Lalu entah bagaimana pikirannya berbelok.

Kalau Ahao masih sekolah... sekarang dia kelas berapa, ya?

Ai Phing langsung menggigit bibirnya sendiri. Kenapa pula jadi memikirkan Ahao? Ia jadi malu sendiri, untungnya tak ada yang memperhatikannya.

Tapi begitulah. Sejak peristiwa kehujanan itu, entah bagaimana Ahao lebih sering muncul.

Tidak. Bukan muncul. Lebih tepatnya, mereka jadi lebih sering bertemu. Selalu kebetulan. Tak pernah ada janji.

Beberapa kali di warung, saat ia belanja, Ahao ada di sana membeli rokok. Atau saat mengantar kopi untuk papanya yang bekerja di gedung SMA, Ahao juga di sana. Berpapasan di jalan atau persimpangan, atau di kelenteng.

Tak setiap kali terlibat pembicaraan. Kadang hanya saling tukar senyuman. Tapi pertemuan terakhir, mereka bicara cukup banyak.

Saat itu Ai Phing pulang dari rumah Salma. Di tengah jalan, rantai sepedanya terlepas. Celakanya nyangkut pula di sela gigi roda. Tangannya sudah hitam penuh oli ketika berusaha menarik lepas rantai terjepit itu. Sampai Ahao muncul entah dari mana. Tanpa banyak bicara, ia langsung menolong.

Setelahnya, entah siapa yang mulai, keduanya tertawa ketika menyadari tangan masing-masing sudah hitam.

Tak ada kain. Ahao menawarkan sejumput rumput kering untuk membersihkan tangan.

"Lumayan," katanya. "Daripada hitamnya menular ke mana-mana."

Ai Phing meniru gerakan Ahao yang menggosok-gosokkan tangannya ke rumput. Benar, meski oli masih membandel, setidaknya cukup bersih—tak membuat stang sepedanya ikut kotor.

Ketika kecanggungan hilang oleh tawa, Ai Phing berkata dengan ringan.

"Ahao, kau banyak keahlian juga ya."

Itu bukan pujian kosong. Ai Phing melihat Ahao bisa melakukan pekerjaan tukang kayu, membantu papanya memotong besi. Kali lain ia pernah melihat Ahao membantu seorang pria membuka dan memasang busi sepeda motor. Kali ini pula Ahao dengan cekatan dapat mengatasi rantai sepedanya.

Bagi Ahao, itulah pertama kalinya Ai Phing menyebut namanya. Ia tertegun sejenak.

"Ah… kau seharusnya panggil aku Koko." Ia pasang mimik tersinggung.

"Ha?"

"Ya, aku lebih tua beberapa tahun darimu. Panggil Koko lebih sopan."

Ai Phing tahu Ahao tak serius.

"Tak mau."

Sedetik kemudian, ia terkejut sendiri. Bisa menanggapi dengan cara seperti itu—ringan dan mengalir, tanpa sedikit pun kecanggungan yang terasa seperti saat-saat sebelumnya.

Ahao cekak pinggang, kepalanya digeleng-gelengkan.

"Cis… anak cewek jaman sekarang."

Bahkan Ai Phing tahu, nada mencela itu bagian dari candaan.

"Kau bicara seperti orang tua," balasnya.

"Itu benar kan?" tukas Ahao. "Aku memang lebih tua darimu."

"Hanya setahun dua tahun," timpal Ai Phing sambil mendorong sepedanya.

Ahao mempercepat langkah, hingga berjalan sejajar dengannya.

"Lebih."

"Masa?"

"Tebak usiaku."

"Tak mau."

Ahao berdecak, mirip Along. Hal itu malah membuat Ai Phing tertawa.

Lihat selengkapnya