Musim kemarau adalah musim layangan. Raket bulu tangkis Ka Thiam tak pernah lagi keluar dari sarungnya di pojok lemari. Siapa pula yang mau bermain bulu tangkis kalau langit sedang dipenuhi layangan? Apalagi setiap saat ada saja yang putus, melayang tak tentu arah, mengundang siapa pun untuk mengejarnya. Setidaknya, begitulah menurut Ka Thiam.
Maka hampir setiap petang, teras rumah Along berubah menjadi markas anak-anak kampung.
Juned dan Ka Thiam seperti pemimpin kecil bagi belasan bocah yang berkumpul di sana. Merekalah yang menentukan layangan mana yang akan diterbangkan, benang siapa yang paling layak dipakai, atau ke mana harus berlari kalau terdengar teriakan, "Putus... putus!"
Petang itu, satu anak datang dengan mata merah dan sembab.
Bi Le.
Rupanya layangan kesayangannya putus. Sudah dikejar sampai ke ujung kebun, tapi akhirnya lenyap ditelan belukar.
Juned dan Ka Thiam saling pandang.
Mereka tahu persis bagaimana kalau Bi Le sudah menangis. Bukan karena ia cengeng, melainkan setelah tangisnya reda biasanya ia akan mencari gara-gara pada siapa saja yang ada di dekatnya.
Untunglah tak lama kemudian mereka berhasil mengejar satu layangan putus entah milik siapa. Layangan itu langsung dihadiahkan kepada Bi Le.
Sayangnya kertasnya robek lebar.
"Tak apa," kata Ka Thiam sambil jongkok memeriksa layang itu. "Bisa diperbaiki."
Bi Le langsung berhenti manyun.
Dan sekarang ia duduk bersila di lantai teras, dagunya bertumpu di kedua lutut, memperhatikan tangan Ka Thiam yang dengan cekatan mengganti bagian kertas yang robek.
Ai Phing yang sedari tadi menjahit di samping hanya bisa menghela napas.
Tak habis pikir olehnya bagaimana mungkin seorang anak perempuan bisa begitu tergila-gila pada layangan.
Lebih aneh lagi, hampir semua kawannya justru anak laki-laki. Yang seusianya ada, yang lebih tua seperti Ka Thiam dan Juned pun ada. Dan Bi Le tampaknya sama sekali tak merasa aneh dengan itu.
Saat itulah, seorang pemuda kampung—anak Pak Manurung, yang biasa membantu ayahnya berjualan buah—lewat dengan sepeda motornya, melambat sedikit, lalu menyapa.
"Ai Phing."
Senyumnya lebar.
"Ya, Bang Jansen," sahut Ai Phing ramah.
Hanya sapaan biasa.
Namun Along, yang kebetulan sedang berdiri di atas tangga membetulkan seng bengkel, sempat melihat pemuda itu menoleh sekali lagi sebelum benar-benar melaju pergi.
Along tak berkata apa-apa.
Ia hanya turun dari tangga, lalu kembali bekerja seperti biasa.
Malam itu, ketika makan bersama, pandangan Along tanpa sengaja jatuh pada Ai Phing.
Anak gadisnya sedang menyendokkan nasi ke piring Ka Thiam. Gerakannya cekatan. Rambutnya terikat sederhana. Wajah yang dulu bulat kekanak-kanakan kini mulai memperlihatkan garis-garis seorang gadis dewasa.
Entah sejak kapan.
Along terdiam.
Kapan anak ini jadi sebesar ini?
Pertanyaan itu muncul begitu saja. Tak meminta jawaban.
"Ci."
Ka Thiam mengangkat wajah dari piringnya.
"Nanti kalau Cici sudah besar... Cici nikah, ya?"
Ai Phing tertawa kecil sambil menjitak pelan kepala adiknya.
"Kau ini. Makan saja yang benar."
"Kan aku cuma tanya."
"Kenapa pula tanya begitu?"
"Kakaknya Ijal... Kak Santi katanya nikah bulan depan."
"Terus?"