Asun juga serba susah. Ia tak bisa menceritakan ini di teras rumah Along. Kini mendapati Along yang sedang pulang membeli rokok, Asun yang berpapasan dengannya, menghentikannya.
Semula ia mengira ini akan lebih mudah. Tak ada yang mendengar. Tapi ternyata sulit juga memulainya. Asun mengeraskan hati, ia harus bilang.
Setelah obrolan remeh tentang pelek sepeda motor yang baling, Asun memberanikan diri.
Ia kenal betul watak kawannya. Kata-katanya dipilih dengan hati-hati. Tak ada tuduhan. Bukan pula seperti menyampaikan laporan. Tak ada kata-kata 'sekadar mengingatkan'—Along tak butuh yang itu.
Hanya soal rumor yang tersiar. Gosip kampung. Dan ia pernah melihatnya sendiri. Seharusnya pertemuan kedua anak itu tak berarti apa-apa. Hanya kebetulan, dan di tempat umum—semua dapat melihatnya. Dan karenanya, pasti tak ada yang aneh-aneh.
"Tapi—"
Asun sengaja membiarkan kata terakhirnya menggantung. Ia tahu cukup di situ saja. Selanjutnya biar Along yang mencerna.
Along berdecak.
Tapi ia tahu Asun tak menanggapi gosip, tapi jika kawannya itu sampai padanya karena hal ini, maka gosip ini tak bisa ia abaikan. Apalagi tadi Asun mengatakan bahwa ia melihat sendiri Ai Phing dan Ahao.
Along juga tahu, sikap Asun sekarang ini adalah kepedulian seorang sahabat. Apalagi, Ai Phing kawannya Siau Cin, anaknya. Dan sering kali Ai Phing ke rumahnya, lalu membantunya menyortir dan menyusun ikan asin. Hubungan dekat dua keluarga inilah yang membuat kawannya sampai padanya hari ini.
Dan cerita Asun itu…
Sepeda yang seharusnya dikayuh, tapi Ai Phing tak menaikinya dan malah mendorongnya sambil berbicara dengan Ahao sepanjang jalan sepi menuju rumahnya.
Sejak kapan keduanya saling bicara seperti itu?
Along mengernyit.
Ia tak bisa membayangkan anaknya bisa terlibat pembicaraan panjang dengan orang yang baru dikenalnya.
Tapi—sejak kapan Ai Phing mengenal Ahao?
Along tak tahu.
…
Tanpa Along sadari, ia lebih memperhatikan Ai Phing di rumah.
Tapi, tak ada yang berubah dari sikap gadis remaja itu. Ia masih Ai Phing yang mengurus rumah. Mengurus adiknya. Mengurus keperluan papanya. Masih akrab dengan sapu dan kain pel, masih memanaskan lauk untuk makan malam.
Bahkan menyetrika baju. Lalu kadang mengomeli adiknya yang seragamnya entah bagaimana bisa kena getah rambutan atau bahkan robek di ujungnya.
Asuang beberapa hari ini lebih banyak datang berkunjung. Tapi tak ada apa pun yang adiknya bahas dengannya. Bahkan Along mendapat kesan, Asuang menghindarinya. Atau itu hanya perasaannya saja, entahlah.
Tapi Asuang, di setiap kunjungannya terakhir ini, lebih banyak bicara dengan Ai Phing. Dari yang bisa Along tangkap, pembicaraan antara tante dan keponakan itu, topiknya agak melompat-lompat.
Dari urusan dapur, ke kawan sekolah. Lompat lagi ke beras merek entah apa, lalu bergeser ke siapa saja teman-teman Ai Phing. Tak lama, tentang SMA tapi selalu ujung-ujungnya jatuh ke tempat sama—selain kawan sekolah, siapa saja teman remaja itu atau siapa saja kenalannya.
Ai Phing memang menyebut beberapa nama. Tak berteman dekat, hanya kenalan di luar kawan sekolah. Ada Bang Jansen, Kak Ami…
Along menajamkan telinga.
Hendra yang drop out dari kuliah karena biaya, Neni yang kerap menemani ibunya menjual sayur dan santan kelapa. Dan beberapa nama lagi yang kira-kira sebaya atau tak terlalu tua darinya.
Lalu…
Ahao.
Nama itu akhirnya disebut. Tapi nada itu ringan, sepintas dan tak berarti. Seperti menyebut jingga dalam barisan warna pelangi.
Along tercenung. Lama. Ia berdecak halus, lalu menghela napas, kembali ke pekerjaannya.
Asuang pula tak mendesak, tak pula secara khusus membahas satu nama. Pada akhirnya ia hanya bilang;
"Kadang kita harus hati-hati pada niat orang."
Ia menatap mata Ai Phing.
"Tak semua orang berniat baik pada kita."
Hanya itu. Hanya pesan seorang tante pada keponakannya.