KA

Rico Tsiau
Chapter #56

Dua Wanita Dewasa

Petang itu Asuang benar-benar datang. Ia bawa contoh kain, minta Ai Phing pilih motif. Rencananya akan dibuatkan sarung bantal dan guling.

Ai Phing senang sekali. Ia akhirnya memilih motif berwarna bunga krisan yang terang. Mungkin karena Siau Cin yang mempengaruhinya.

Tapi Asuang yang risau. Ia tak menyangka akan ada Siau Cin di sana. Dan anaknya Asun itu tak menunjukkan akan segera pergi. Kedua remaja itu malah asyik membahas kualitas kain itu, yang menurut Siau Cin bisa berbulu kalau dicuci berulang. Tapi Ai Phing mempertahankan pendapatnya bahwa kain yang licin seperti itu biasanya awet.

Along mau tak mau merasa kasihan pada adiknya yang sudah capek-capek datang tapi terbentur hal sepele tak terduga seperti itu.

Tapi langit seperti memberikan jalan.

Tak lama, Ayin datang dengan sepeda motornya.

"Cin," serunya dari jalan.

Siau Cin melongok, "Ya?" serunya pada mamanya.

Ayin angkat empat jarinya. "Empat keranjang, baru masuk."

Siau Cin langsung lemas. Ia tahu maksudnya itu. Empat keranjang ikan asin harus ia sortir sebelum malam.

Seakan minta pertolongan, ia menatap Ai Phing penuh harap.

Ai Phing tertawa melihatnya. Tapi tak tega.

"Ya, nanti aku susul," katanya pada Siau Cin.

Siau Cin langsung sumringah. "Awas ya kalau tak datang," katanya.

"Ya, aku janji," tukas Ai Phing.

Setelah Siau Cin pulang dengan mamanya, Asuang menghela napas lega. Tapi satu lagi—matanya langsung melirik tajam ke bengkel.

Jangan-jangan Ahia lupa, pikirnya kesal.

Padahal sudah dua menit sejak kepergian Siau Cin, tak tampak Along berniat keluar ke tempat lain.

Tapi rupanya Along ingat. Gerinda dimatikan, colokan dicabut. Ia masih sempat mengelap tangannya dengan selembar kain kumal. Masih sempat menyalakan sebatang rokok. Lalu menyipit menatap isi—

Along berdecak sekali.

"Sebatang terakhir," gumamnya.

Lalu berjalan ke ambang jalan.

Asuang yang hampir mati karena kesal akhirnya tersenyum. Ia pura-pura bertanya;

"Mau ke mana?"

"Beli rokok," Along menjawab sambil lalu. Kemudian melangkah santai ke ujung jalan, ke warung terdekat.

Asuang geleng-geleng.

Dan sekaranglah saatnya. Hanya tinggal ia dan Ai Phing di teras rumah, berharap tak ada tamu tak terduga yang muncul tiba-tiba.

Meski demikian, ternyata tak mudah baginya untuk memulai. Padahal ia sudah menyusun kata-katanya dengan rapi, dengan halus agar mendarat tanpa terkesan ingin mengatur pergaulan keponakannya ini.

Tapi—

Mata itu. Sepasang mata yang kini menatapnya. Itu adalah sepasang mata milik wanita dewasa. Bukan mata seorang remaja yang tak mengerti kehidupan.

Runtuhlah segala yang telah ia susun sebelumnya. Kalimat-kalimat tertata itu telah menguap begitu saja. Saat itu, di teras itu—bukan tante dan keponakannya yang saling tatap. Melainkan dua wanita yang saling menghormati dan menyayangi satu sama lain.

Asuang mendekat. Ia duduk di depan Ai Phing. Tangannya bergerak ringan merapikan contoh-contoh kain yang ia bawa.

"Phing, Ako mau bicara."

Dua mata kembali bertemu. Entah bagaimana Asuang mendapat kesan bahwa Ai Phing telah menyiapkan diri untuk apa yang belum ia ucapkan.

"Ya."

"Ako ada dengar banyak orang bilang," Asuang berhenti sejenak. Matanya kembali ke kain di tangannya, membuka dan melipat kembali carikan kain yang sudah rapi sebelumnya. "Kau dekat dengan Ahao?"

"Kami hanya sesekali bertemu tak sengaja."

Asuang terkejut oleh tenangnya sikap itu. Saat itulah ia langsung sadar, ia tak lagi menghadapi seorang anak. Ia juga tahu, Ai Phing tak bohong dengan kata-katanya.

Tapi—

"Sejauh mana hubungan kalian?" Suara Asuang memelan makin rendah di ujung.

Lihat selengkapnya