Setelah kepergian adiknya, Along lama terpekur. Lima batang rokok telah habis di asbak. Kopinya tandas sejak tadi, gelasnya kini mulai dikerubungi semut. Beberapa orang lewat di jalan, menyapanya. Sejenak ia tersadar, mengangkat tangan membalas sapaan. Setelah itu tenggelam lagi dalam pikirannya.
Ia baru beranjak dari teras ketika langganan pertama datang.
Di bengkel, kabel ditarik. Gerinda menggerung. Travo las berdengung, lalu disusul desir kawat las yang meleleh di atas besi pijar.
Harga disebut. Uang diterima. Terima kasih diucap. Tawa ramah mengumandang. Semua berlangsung seperti hari-hari biasa. Hanya saja, pikiran Along tak benar-benar berada di sana.
Gosip itu memang ada dasarnya. Dan orang kampung memang begitu.
Apa yang harus kulakukan?
Asuang benar. Tapi... menemani? Membuat Ai Phing tetap merasa dipercaya?
Along tak sepenuhnya mengerti yang seperti itu.
Andai saja—
Ia berdecak pelan.
Tentu saja Siu Lan tak mungkin hidup kembali. Tak mungkin ada lagi yang memahami anak perempuan itu sebagaimana seorang mama. Menemani. Mendengar. Membuatnya merasa dipercaya.
Tapi...
Andai saja mereka tak bercerai.
Andai saja Siu Lan tak meninggal karena kanker.
Along mengembuskan napas panjang. Dengan ujung sepatu botnya ia menggeser travo las ke samping, lalu berjalan keluar. Lama ia berdiri memandang jalan di depan bengkel.
"Mengawasi…"
Kata itu terdengar lebih akrab baginya.
"Ya."
"Mengawasi."
…
"Phing, tolong aku."
Ai Phing melongok ke teras. Siau Cin berdiri di sana dengan napas memburu. Wajahnya memelas, seolah baru saja terjadi perkara besar.
"Apa?"
"Biasa," tukas Siau Cin cepat.
Ai Phing langsung tersenyum. Tak perlu dijelaskan lagi. Pasti ikan asin membludak.
"Mana Ka Thiam?" tanya Siau Cin lagi, tergesa.
"Pergi main—"
"Aihhh…!"
Keluhan itu panjang sekali, membuat Ai Phing nyaris tertawa.
"Sebanyak itukah ikan asinnya?"
Siau Cin mengangguk lemah.
"Baik, tunggu sebentar."
Ai Phing bergegas ke belakang. Mematikan keran air mandi. Menutup pintu dapur. Lalu berlari keluar sambil mengencangkan ikat rambutnya agar tak mudah lepas. Di lorong ia menyambar sebuah topi. Matahari sedang garang. Ia tak ingin wajahnya terbakar.
Di ambang pintu ia mengangkat tangan kepada Siau Cin.
"Sebentar."
Siau Cin mengangguk tak sabar.
Dari samping teras, Ai Phing berseru,
"Pa."
Tak ada jawaban.
"Pa!"
Kali ini Along muncul dari balik pintu bengkel.