Seminggu berlalu dengan tenang. Segala rutinitas yang padat membuat hari-hari terasa mengalir bagai labi-labi yang melarikan diri di kubangan lumpur. Cepat sekali. Tahu-tahu langit sudah gelap. Dan mungkin karena lelah, begitu mata terpejam—rasanya sekejap saja ayam jantan sudah berkokok.
Hari itu juga akan seperti biasa, pikir Along.
Ya, masih langit pagi yang sama. Yang belum lagi pukul tujuh matahari sudah galak sekali. Awan masih menggantung malas, yang herannya ketika matahari mendekat mereka malah lari, seakan sungkan menghalangi barang sekejap. Angin dari ujung selat pun berbau asin dan kadang membawa aroma lumpur bakau dan solar.
Tadi ia masih sempat mengintip bak betonnya yang besar. Air masih separuh lebih, seharusnya masih aman. Dari pengalaman tahun-tahun yang panjang, Along tahu persediaan masih cukup sampai penghujung musim kemarau ini.
Tapi ketika di teras, menatap hari yang bakal gerah ini, Along rindu juga pada hujan. Dan kalau hujan, minimal ia bisa beristirahat sehari.
Di tengah kesibukannya pada proyek pagar, langganan masih datang. Tak dapat dihindari lagi, ketika mereka minta tolong—Along masih lanjut mengelas di malam hari di bengkelnya.
Along bercermin di kaca spion.
Ia tahu. Ia tak setua itu. Tapi belakangan, rasanya ia lebih gampang lelah.
Atau mungkin memang sudah tua.
Along geli sendiri memikirkan hal itu. Tapi hanya sejenak, pikiran itu menguap begitu saja dari kepalanya.
Pagar Mat Pekak. Ali dan Lomek pasti sudah menunggunya.
Pekerjaan pagi itu lancar, tanpa masalah berarti. Kecuali Lomek yang terpaksa berhenti dan duduk cukup lama, pasalnya serbuk besi masuk ke matanya ketika ia memotong besi. Dan ketika ia kembali, matanya memerah. Ali meledeknya, Along juga menimpali. Tapi Lomek malah ikut tertawa.
Siang datang. Buk Yatimah—istrinya Mat Pekak—pulang dari rumah makan padang membawa dua bungkus nasi. Seperti biasa, Along tak ikut makan. Ia harus ke rumah Bi Suat menjemput rantangan. Karena selama ia bekerja di rumah ini, Bi Suat tak mengantar rantang, rumah Along terkunci.
Anak-anak akan segera pulang sekolah. Maka Along bergegas.
Hari itu ia sampai lebih dulu di rumah, kadang Ka Thiam sudah menunggu di teras, atau kalau Ai Phing yang sampai lebih dulu—ia yang akan membukakan pintu. Karena kunci serep rumah ia yang pegang.
Tak lama, anak-anak pulang. Mengganti pakaian, lalu ketiganya duduk dan makan bersama.
Ka Thiam dengan celotehnya yang biasa. Ai Phing dengan senyumnya yang tak lepas mendengar adiknya yang terus berkicau seakan tiada habisnya.
Sebelum Along berangkat kerja, Ai Phing menemuinya. Hari ini ada tugas prakarya, kerja kelompok.
"Kerjainnya di rumah Salma."
Along mengangguk pada putrinya.
"Kalau lambat selesai, pulangnya agak sore ya."
"Hm." Along mengangguk lagi.
Tak perlu risau soal Ka Thiam. Petang seakan tak pernah cukup untuknya di depan kelenteng atau kalau tidak, lapangan bola di samping SMP adalah tempatnya menghabiskan waktu dengan Juned dan yang lainnya. Termasuk Bi Le yang sejak peristiwa layangan putus makin dekat dengan Ka Thiam.
Segalanya berjalan normal.
Tak ada firasat apa pun. Bahkan sepeda motornya yang tiba-tiba susah dihidupkan pun hanya peristiwa biasa. Dan bahkan kotoran ayam di jok sepeda motornya pun tak membuatnya berpikir macam-macam. Hanya umpatan seperti biasa yang ia keluarkan sambil membersihkannya dengan sabut kelapa.
Tapi ketika ia istirahat sejenak dari kerja, ketika sebatang rokok ia nyalakan, Ujang yang kebetulan pulang dari mencari buluh untuk joran pancing lewat depan rumah Mat Pekak, dan memutuskan singgah melihat-lihat.
Ali menuangkan segelas kopi dari termos untuk Ujang. Obrolan pun mengalir. Lomek bertanya pada Ujang di mana mencari buluh, panjang dan lurus, jenis yang cantik dan kuat untuk joran.
"Di tepi kebun pinangnya Syafi'i," jawab Ujang.
"Tok Pi'i?"
"Ho'oh."
"Banyak yang cari di sana?" timpal Ali.
"Tak banyak juga. Tapi aku jumpa Ahao di situ."
Along mengangkat wajahnya.
Ahao.
Bukannya ia sedang kerja?
Ujang tak tahu Along menatapnya. Perhatiannya jatuh pada besi angker yang dipotong pendek-pendek namun ukurannya sama panjang satu sama lain.
"Budak tu kan kerja ikut Wak Janggut?" kata Ali.
"Ngecat dinding dah selesai," jawab Ujang. "Sampai nanti meja dan kursi masuk, baru kerja lagi. Pak Kadir bilang semua mau dicat juga."
Along tertegun cukup lama. Sementara obrolan mengalir lagi entah ke mana. Ia tak benar-benar mengikuti. Sambil menyesap kopinya perlahan, pikirannya melayang.
Anak itu punya waktu keluyuran lagi.
Ai Phing sedang di rumah Haji Tamar.
Tapi jika Ahao mencari joran, ia tentunya sibuk dengan hobi itu. Duduk diam di rumahnya, meluruskan joran buluh dengan bantuan api tungku. Kalaupun keluar mungkin buat beli rokok, atau bisa saja menuju lubuk ikan.
Dan tentunya—
"Long,"
"Ha?" Along menoleh ke Ali.
"Lanjut?"
"Lanjut," jawab Along.
Pekerjaan dilanjutkan. Ujang masih duduk-duduk sebentar memperhatikan ketiganya bekerja. Namun ketika teringat jorannya, ia pun pulang.
Nyaris pukul lima ketika ketiganya memutuskan menyudahi hari. Bagian-bagian rumit telah selesai, jeruji pagar dengan motif kotak-kotak yang rapi dan presisi membuat ketiganya tersenyum puas.
Tinggal memasangkannya di tiang pagar cor beton. Tiga atau empat hari kerja lagi, proyek ini kelar. Along tak mengambil jasa ngecat, ia tak ahli soal itu. Mat Pekak pun setuju menyerahkannya pada Lomek. Along merekomendasikan Ali, itu pun tuan rumah setuju.
Segalanya mengalir lancar.
Begitulah Along pulang petang itu. Dengan travo dan gerinda dalam kotak yang terikat di belakang jok motornya. Mana tahu nanti malam ada orang minta las sesuatu.
Sesekali ngadat, sepeda motornya meluncur pulang melewati jalan cor semen yang retak dan berlubang di banyak tempat.
…
"Selesai juga," seru Salma sumringah.
Enam remaja putri itu menatap puas hasil prakarya mereka. Miniatur rumah adat Melayu yang dibuat dari stik es krim yang direkatkan dengan lem kayu yang lambat kering.