Malam itu, udara serasa menghimpit meja makan.
Tak ada yang benar-benar berubah. Nasi tetap mengepul di tengah meja. Semangkuk sayur bening. Sepiring ikan goreng. Sambal belacan dan rebusan daun ubi yang Ai Phing buat sore tadi.
Semuanya sama. Ya, semua sama seperti hari-hari sebelumnya. Baik Ai Phing dan Along dapat melihatnya seperti itu.
Namun justru karena semuanya tetap sama, itulah yang tak sama.
Ka Thiam datang paling akhir. Rambutnya masih sedikit basah.
"Hari ini Juned kalah lagi," katanya sambil menarik kursi. "Layangannya nyangkut di pohon jambu."
Tak ada yang menanggapi. Bocah itu tak menyerah.
"Bi Le hampir nangis lagi."
Ai Phing biasanya akan tertawa mendengar cerita begitu. Atau pura-pura membela Bi Le. Malam itu tidak.
Ia hanya mengambilkan nasi untuk adiknya.
"Banyak?"
"Banyak."
Sendok bergerak pelan.
"Lauk?"
"Ikan saja."
Ai Phing mengangguk. Sepotong ikan berpindah ke piring Ka Thiam. Gerakan tangannya tetap cekatan. Terlalu cekatan. Seperti seseorang yang memilih sibuk agar tak perlu mengangkat wajah.
Along diam-diam memperhatikan. Wajah anak gadisnya itu tenang. Malah terlalu tenang. Padahal beberapa jam lalu...
Bayangan itu datang lagi. Tangan Ahao yang berada begitu dekat dengan kepala Ai Phing. Tatapan Ai Phing ketika menyadari dirinya berdiri di bawah pohon mangga.
Dan kalimat lirih itu.
"Papa."
Along mengambil nasi. Suapan pertama terasa hambar.
Ka Thiam masih berceloteh.
"Hari ini Pak Guru marah sama Fikri."
"Hm," jawab Ai Phing pendek.
"Karena dia tidur di kelas."
"Hm."
"Terus..."
Cerita itu terus mengalir. Sendirian. Baru kali itu Along menyadari betapa besar peran Ka Thiam di meja makan mereka. Selama ini ia mengira anak itu hanya ribut. Kini ia sadar, celoteh itulah yang setiap hari mengisi rumah.
Yang menutupi jeda-jeda. Yang membuat mereka tetap seperti keluarga biasa. Tanpa Ka Thiam, mungkin rumah ini memang akan sesunyi ini.
Along menyesap air. Matanya kembali jatuh pada Ai Phing.
Anaknya makan seperti biasa. Tak tergesa. Tak kehilangan selera. Sesekali mengambilkan sayur untuk adiknya. Sesekali menyuruh Ka Thiam mengunyah pelan.
Masih Ai Phing yang sama.
Atau... ia memang sedang berusaha terlihat sama?
Pertanyaan itu membuat dada Along kembali berat. Ia ingin bertanya.
"Sejak kapan kau mengenal Ahao?"
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Sejauh apa hubungan kalian?"
Pertanyaan-pertanyaan itu berdesakan sampai ke tenggorokannya. Namun setiap kali hampir keluar, semuanya menguap.
Karena setiap kali ia memandang wajah anaknya, yang ia lihat bukan gadis yang sedang berbohong.
Anaknya ini, yang selama ini tak pernah membuatnya susah. Anak yang mengurus rumah. Mengurus adiknya. Mengurus dirinya.
Lalu bagaimana mungkin anak seperti itu berdiri bersama Ahao sore tadi?
Along menggenggam sendok lebih erat.
Sesuatu bergolak di dalam, mendesak kuat untuk melompat keluar. Nyaris tak tertahankan lagi, rasanya begitu menyesakkan.
Tapi kepada siapa ia harus memuntahkannya?
Kepada Ahao? Ai Phing?
Kepada dirinya sendiri karena membiarkan semuanya terjadi?
Atau kepada waktu yang diam-diam membuat Ai Phing tumbuh besar tanpa pernah ia sadari?
Di ujung meja, Ka Thiam masih bicara.
"Besok aku mau bikin layangan baru."
"Kertas apa?" tanya Ai Phing akhirnya.
"Yang merah."
"Merah cepat robek."
"Yang biru?"
"Boleh."
"Kalau Cici bantu?"
Ai Phing tersenyum kecil.
"Nanti kita lihat."
Ka Thiam langsung berseri-seri.
Along menatap senyum itu. Senyum yang sama. Yang sejak lama mampu membuat rumah ini terasa hangat.
Namun malam ini, ia justru takut pada senyum itu. Takut karena ia mulai sadar. Anaknya telah memiliki dunia yang tak lagi selalu ia ketahui.