Malam yang panjang itu terlewati.
Pagi menjelang, namun ia mengundang gerimis ke langit Bakau Panjang. Rasanya sudah lama tak begitu—hari-hari yang telah lama di musim kemarau yang ternyata sangat garang ini. Para warga menatap langit dengan gelisah.
Beberapa berharap hujan turun lebih deras dan lama. Setelah air membasuh bersih debu dari atap, air akan ditampung. Tapi gerimis tak cukup berdaya pada debu yang menempel lama.
Along hanya menampung di drum besi. Tak berani langsung menyalurkan selang dari ujung talang ke dalam bak utama.
"Kenapa tak tampung ke bak?"
Along menoleh pada Ka Thiam.
"Airnya masih kotor."
"Kalau gitu kenapa tampung?"
Along berdecak kecil.
"Nanti kalau kotorannya mengendap, airnya bisa buat cuci-cuci."
Ka Thiam mengangguk. Tapi sejenak kemudian, keningnya berkerut lagi.
"Kalau langsung tampung di bak, kotorannya kan mengendap juga."
"Tak sama," jawab Along.
Pagi itu, semua tetap berjalan seperti biasa. Hanya saja, Ai Phing tak lagi bisa melihatnya sebagai pagi yang biasa.
Ai Phing memperhatikan. Sejak tadi papanya hanya berbicara dengan Ka Thiam. Menjawab setiap pertanyaan adiknya dengan sabar, meski biasanya Ka Thiam sudah disuruh diam sejak tadi.
Tapi tak sekali pun papanya menoleh ke arahnya.
Sarapan pagi itu nasi goreng.
Ai Phing menatap piring papanya yang belum ia sentuh. Tutup gelas kopinya juga tak pernah ia buka.
"Kalian sarapan dulu," begitu tadi katanya. Lalu menyibukkan diri dengan air hujan.
"Pa, kami berangkat dulu," kata Ka Thiam akhirnya, ketika waktu ke sekolah telah tiba.
"Hm."
Ka Thiam seperti masih menanti sesuatu. Tapi karena papanya hanya diam, ia berkata,
"Tenang… kami bawa payung."
"Ya."
Biasanya kalau hujan begini, papa yang paling ribut.
"Payungnya?"
"Tasmu tutup plastik?"
"Jangan ngebut."
Pagi ini tak satu pun pertanyaan itu keluar. Bahkan tak menoleh ketika mereka beranjak ke depan. Tak membantu mengeluarkan sepeda yang disimpan di bengkel. Tak melambai di teras.
Ai Phing tak tahu harus berkata apa.
"Ci."
Ai Phing menoleh.
"Kenapa matamu?"
"Apa?"
"Bengkak."
"Masuk debu."
Ka Thiam mengangguk kecil. Tapi matanya masih memandang wajah kakaknya.
"Kapan?"
"Jangan banyak tanya, berangkat sana. Awas payung jangan lepas."
Ka Thiam tak bertanya lagi. Ia langsung berangkat. Ai Phing juga tak menunggu Siau Cin lagi. Gerimis seperti ini, biasanya ia diantar papanya dengan sepeda motor.
Lagi pula, pagi itu Ai Phing tak ingin berlama-lama di rumah.
…
Siang itu, pintu depan terkunci. Ka Thiam duduk di teras, tak bisa masuk ke dalam.
Papa belum pulang, pikir Ai Phing.
Itu biasa. Sejak papanya bekerja di rumah Mat Pekak, memang begitu. Terkadang pekerjaan membuatnya sedikit terlambat menjemput rantangan dari rumah Ayi Bi Suat.
Tapi ketika pintu dibuka, Ai Phing ke dapur dan menemukan rantangan itu di atas meja.
Papa sudah pulang. Lalu pergi lagi.
Sesibuk itukah dia?
Ai Phing memandang rantangan di atas meja. Baru sebentar lalu diletakkan di sana.