"Phing, sini." Seru Ibu Hartini.
Ai Phing segera mendekat. Belum sempat ia buka suara, Hartini menunjukkan tumpukan buku PR yang tadi dikumpulkan anak-anak.
"Tolong Ibu, bawakan ke kantor."
"Baik," sahut Ai Phing.
Ia mengekor selangkah di belakang Ibu Hartini, membawa setumpuk buku.
"Taruh sini," tunjuk Hartini pada muridnya.
Ai Phing meletakkan buku di atas meja.
"Nak, duduklah sebentar."
"Ya," jawab Ai Phing sedikit penuh tanya.
Hartini menarik satu kursi untuk Ai Phing. Memberi aba-aba agar remaja itu duduk di sana. Ia sendiri menghenyakkan diri di kursi kesayangannya. Kini keduanya hanya terpisah oleh meja kayu dengan tumpukan buku di samping kiri-kanannya.
"Phing."
"Ya?"
"Kau menonjol sekali di pelajaran hitung menghitung," Hartini memulai.
Ai Phing belum paham arah gurunya. Ia memperhatikan.
"Salma masih murid dengan nilai paling tinggi, tapi dalam matematika kau unggul darinya. Bahkan Ibu perhatikan, kau rapi sekali dalam mencatat. Atau menata apa pun."
Ai Phing tahu ia hanya perlu diam sebentar lagi, sampai Ibu Hartini selesai dengan kata-katanya. Guru satu ini terkenal selalu membingungkan sebelum ia selesai menjelaskan.
"Apa rencanamu nanti, nak?"
"Err?"
"Maksud Ibu, kau jadi kan ke kota untuk melanjutkan sekolah?"
Ai Phing menggeleng.
"Oh… kau tetap di kampung? Lanjut di SMA baru?"
"Iya," Ai Phing mengangguk.
Hartini menghela napas. Ia paham.
"Tadinya Ibu pikir kau ke kota. Karena kalau begitu Ibu mau memberikan saran."
"Saran apa?"
"Begini, misalnya kalau kau tak ingin kuliah—"
Sebenarnya Hartini yakin, anak ini ingin. Tapi ia tahu latar belakang keuangan keluarga muridnya ini. Ia tak bermaksud merendahkan, tapi ia sangat paham seluk beluk kehidupan yang berkaitan dengan pendidikan anak di keluarga yang keuangannya tak bisa dipaksakan.
"—dan mau segera kerja setelah sekolah tingkat atas—maka Ibu mau sarankan sekolah kejuruan daripada sekolah umum."
Hartini berhenti sejenak. Melipat tangannya di atas meja.
"SMK, jurusan Akuntansi. Itu sangat cocok untuk kamu."
Kini Ai Phing paham kenapa ia diajak bicara gurunya ini.
"Tapi tak mengapa, SMA di kampung juga tak masalah."
Namun ternyata kata-kata Ibu Hartini membekas. Memantik sesuatu. Tak terlalu kuat, namun seakan terus berbisik pelan dari dalam dirinya.
…
Ujian sudah di depan mata. Sudah diumumkan tanggalnya. Untuk siswa tingkat akhir, begitu Ujian Sekolah usai, Ujian Nasional menanti.
Para murid sudah diwanti-wanti. Ujian Nasional memang penting, tapi jangan meremehkan Ujian Sekolah. Keduanya sejalan, sering sekali materinya tak jauh berbeda.
Tapi hampir semua murid tak merisaukannya. Toh nilai UN yang bagus tak membawa mereka ke mana-mana, SMA yang baru di kampung ini dipastikan akan menampung semua lulusan yang ada.
Kecuali beberapa anak. Yang tampak mati-matian mengejar angka, beberapa sekolah favorit di kota sulit ditembus dengan nilai pas-pasan.
Beberapa hari menjelang ujian, sepucuk surat datang lewat Asan yang bertemu Lai Sim di kota. Dari Apin, untuk Ai Phing.
Surat biasa. Beserta foto Cin Cin yang semakin besar, rambutnya dikepang dua.
Isi surat itu sendiri mengatakan bahwa lepas Chitgwe—bulan hantu—Apin akan membuka gerai. Warung kopi kecil-kecilan.