KA

Rico Tsiau
Chapter #62

Penutup - Part 1

Keparat betul si Juned ini.

Ka Thiam benar-benar tak habis pikir. Padahal pesannya tadi jelas sekali.

"Tiga ekor. Sekilo satu ekor."

Eh, Juned sialan itu malah datang mengantar tiga ekor ayam dengan berat hampir enam kilo semuanya.

"Sorry. Sorry… aku betul-betul terlupa Thiam."

Ingin sekali Ka Thiam menjitak kepalanya. Tapi, yah… begitulah Juned. Lapak ayam potongnya memang ramai. Meski sudah dibantu dua sepupunya, tetap saja—dengan emak-emak yang mengerubungi dan cerewet soal potong delapan, potong empat belas, atau yang gigih menawar harga… ujung-ujungnya konsentrasinya pecah. Apa yang kau pesan jadi lupa.

Sekarang Ka Thiam menatap risau satu kantong plastik besar yang ditaruh dalam baskom di depannya. Juned sudah memotong-motongnya dengan rapi dan bersih.

Tapi—

"Banyak betul."

Ka Thiam menghela napas. Lagi pula, ayam potong yang mendekati dua kilo per ekor tak seempuk yang berat sekilo.

"Ale entah bakal tertawa atau malah kesal nanti…"

Ah, Ale.

Mau tak mau Ka Thiam tersenyum.

Entah sejak kapan ia mulai memanggil Bi Le dengan nama itu. Yang jelas, perempuan itu malah menyukainya.

Sobatnya itu… Ka Thiam berdecak kecil.

Bukan sobat lagi.

Ya, bukan.

Sebelum Festival Bakcang tahun ini, mereka akan bertunangan. Dan kalau tak ada aral melintang, selepas Perayaan Kue Bulan nanti, mereka akan menikah.

Dulu ia menganggap Bi Le cuma buntut kecil yang selalu ikut bermain. Entah sejak kapan buntut kecil itu tumbuh menjadi perempuan yang akan dipanggilnya istri.

Heran juga. Dulu Bi Le tomboi sekali. Lututnya selalu penuh bekas luka. Rambutnya jarang benar-benar rapi.

Tapi sejak SMA, entah bagaimana perempuan itu berubah. Jadi manis. Jadi lembut.

Lembut?

Ka Thiam mengerutkan dahi.

Pada orang lain mungkin.

Ale tak segan menjitaknya kalau gemas. Mengacak rambutnya sesuka hati. Bahkan kadang masih iseng menendang tulang keringnya kalau sedang kesal.

Namun entah mengapa Ka Thiam tak pernah keberatan. Kedekatan merekalah yang membuat Ale tak segan padanya.

Kalau dipikir-pikir, hubungan mereka bahkan tak pernah benar-benar romantis.

Tak ada bunga.

Tak ada surat cinta.

Tak ada pengakuan yang membuat jantung berdegup.

Justru semuanya bermula dari ngambeknya Ale.

"Kalau kau tak sadar-sadar juga, aku akan pergi ke kota. Kerja, lalu kawin sama orang kaya yang kutemui di sana."

Waktu itu Ka Thiam benar-benar tak mengerti.

"Ha?"

Kemudian Ale meledak.

"Kalau kau tak lamar aku, aku pergi!"

Ka Thiam bengong cukup lama.

"Ha?"

Ale mendengus kesal.

"Aku serius!"

Ka Thiam masih memandanginya beberapa detik lagi. Lalu terdengar satu decakan kecil.

"Baiklah…"

Lihat selengkapnya