KA

Rico Tsiau
Chapter #63

Penutup - Part 2

Wanita itu menggigit bibirnya tanpa sadar. Matanya masih terpaku pada kapal cepat di ujung dermaga. Tiket di tangannya ia genggam kuat.

Belum waktunya berangkat. Masih setengah jam lagi.

Tak jauh darinya, Alex Ngo memperhatikan istrinya diam-diam. Ia tahu kalau istrinya sudah begitu—menatap satu titik, menggigit bibirnya dan tangannya yang memegang kuat sesuatu—itu tandanya ia sedang gelisah, atau ada sesuatu yang membuat hatinya bergolak.

Alex tak berani yakin. Apakah kepulangan ini yang membuat istrinya demikian. Sejak tadi ia begitu.

Tapi Alex tahu satu hal. Ibu dari anaknya itu tak ingin diganggu di saat-saat ia demikian. Ia memilih menemani Siau Hok, putra mereka yang berusia empat tahun. Yang penuh semangat menghitung ikan buntal yang berenang di bawah dermaga, yang siluet warna-warninya tampak dari permukaan air.

"Empat, lima… tujuh." Celoteh bocah itu.

"Enam. Setelah lima, enam." Koreksi Alex otomatis.

"Enam ekor… hah, banyak." Siau Hok masih penuh semangat. Matanya masih mencari.

"Pa, bisa pelihara?"

Alex tertawa mendengarnya. Tapi matanya kembali ke istrinya. Wanita itu menghela napas sekarang ini. Entah apa yang ia pikirkan. Tapi Alex tahu, tak perlu tanya—nanti ia akan cerita sendiri.

Alex mengingat-ingat. Lepas dari dermaga ini, tujuan terakhir kapal cepat ini adalah kampung mertuanya tinggal—Bakau Panjang.

Ia hanya pernah tiga kali menginjakkan kakinya di sana. Dan tiap kedatangannya, hanya singkat. Paling lama dua hari.

Pertama, waktu mereka masih pacaran, dan istrinya dulu mengajaknya ke sana untuk diperkenalkan dengan papanya. Yang kedua, saat lamaran. Dan yang terakhir kalinya—yang berselang tak lama dari lamaran—adalah saat ia membawa wanita itu ikut bersamanya sebagai pengantin.

Setelah itu, berkali-kali ia mengajak istrinya menjenguk orang tua itu. Tapi selalu ditolak halus.

Saat Sincia atau Imlek, alasannya adalah keluarga pria adalah lebih utama. Saat Chengbeng, istrinya menjawab dengan berbagai alasan. Kesibukan kantor, cuti yang ditahan untuk saat-saat tertentu, Siau Hok rewel di tempat baru…

Alex menghela napas. Kadang ia berpikir, ia tak sepenuhnya paham istrinya. Meski wanita itu cukup terbuka padanya—mengenai apa yang ia pikirkan, ketakutannya, kegelisahannya, dan pilihan-pilihannya—segalanya.

Tetap saja. Ada satu titik waktu yang tak pernah mau ia bagi dengannya.

Alex tahu sangat sedikit mengenai masa remaja wanita itu di Bakau Panjang.

"Sembilan…" seru Siau Hok.

Ia berlari ke mamanya.

"Hati-hati," seru Alex.

Ai Phing segera menoleh, ia segera menyambar putranya.

"Apa yang sembilan?" katanya sambil tersenyum lembut.

"Ikan butal."

"Buntal."

Siau Hok mengulangi dengan serius.

"Buu-taal."

Ai Phing tertawa. Awalnya Siau Hok ikut tertawa, tapi ketika papanya juga tertawa—bocah itu sadar dialah yang ditertawakan. Ia merengut. Yang malah membuat papa dan mamanya semakin tertawa geli melihat tingkahnya.

Alex memperhatikan wajah Ai Phing. Raut ceria itu kembali. Matanya yang lembut dan menenangkan…

Kadang Alex berpikir, mata lembut itulah yang membuatnya jatuh cinta dan memilihnya sebagai teman hidup.

Sambil mendekap Siau Hok, mata Ai Phing jatuh ke tiketnya, ke tulisan berwarna emasnya.

KM Cucut Emas III.

Matanya kemudian beralih ke kapal yang sedang dibersihkan dengan sapu oleh dua ABK itu.

Bukan kapal itu yang hidup dalam ingatannya. KM Cucut Emas yang ini sudah generasi ketiga, lebih panjang dan lebar. Ia kehilangan lengkung lambungnya yang cantik seperti generasi pendahulunya, haluannya juga tak lagi lancip. Ai Phing sempat bertanya-tanya—ke mana perginya kapal yang ia kenal itu, yang generasi pertama.

Dermaga ini pun, papannya masih baru. Tiang betonnya pasti baru diganti tak lama ini. Lebih besar dan kokoh.

Tapi air selat itu masih berwarna sama. Ujung seberang masih seperti dulu—dari tempatnya sedang duduk itu tampak sebagai barisan siluet hitam di kejauhan.

Banyak yang telah berubah. Tapi banyak juga yang masih tetap sama.

Entahlah…

Apakah Bakau Panjang masih sama?

Rumah itu…

Masih seperti dulu?

Seperti apa Ka Thiam sekarang?

Lalu—

Papa.

Siau Hok meronta. Tak suka didekap lama-lama. Ai Phing melepaskannya, segera Alex mengekor putranya, menjaganya di tepian dermaga.

Ai Phing memperhatikan mereka berdua.

Pandangannya kemudian beralih.

Ke Bakau Panjang… ke tempat yang tak dapat ia lihat dari sana.

Along tak langsung pulang ke rumahnya. Ia dan Asun telah janji dengan Johan, kalau panen jatahnya adalah sebotol. Maka Along mengantarkannya.

Johan menyambutnya dengan kopi panas. Senang sekali dia dengan hadiah Sipcuanciu itu. Keduanya duduk mengobrol lama.

Sementara itu, Ka Thiam sudah seperti cacing kepanasan, berjalan mondar-mandir di teras. Ia sungguh berharap Ale segera muncul. Agar ia bisa segera keluar mencari papanya.

Lihat selengkapnya