KA

Rico Tsiau
Chapter #64

Penutup - Part 3

"Sudah pulang," sahut Asun.

"Belum sampai rumah," tukas Ka Thiam dengan kening berkerut.

"Aih.. papamu bukan lagi anak kecil yang bisa hilang diculik orang." Kata Asun lagi sambil tertawa membayangkan Along diculik seseorang.

Ka Thiam tak menjawabnya.

"Coba ke tempat Johan, kalau tak salah kata Along dia mau singgah sana." Celutuk Asun lagi.

"Oh, baik."

Ka Thiam langsung tancap gas tanpa mengucapkan terima kasih pada Asun.

Asun berbalik ke dalam rumah, tapi sedetik kemudian ia menoleh ke punggung Ka Thiam yang sedang menjauh.

"Anak itu… kenapa gelisah begitu?" gumamnya.

Tapi tak ada yang menjawabnya.

Di kedai Johan yang ramai, sang tuan menyambutnya sambil lalu.

"Sudah pergi," itu saja katanya ketika ditanya Ka Thiam.

"Papa ada bilang dia mau ke mana lagi?"

Johan benar-benar sibuk, ia hanya menggeleng. Lalu kembali ke pelanggannya. Tapi ketika anak muda itu telah menghilang dari ambang pintu gerai, matanya memicing…

"Anak itu… kenapa macam dikejar hantu?" gumamnya.

"Ha? Apa?" Seorang pelanggan yang sedang mengetes blender yang akan dibelinya itu bertanya.

"Ah, bukan apa-apa."

Johan kembali ke kesibukannya.

Wak Saman yang sedang menyeruput kopi hanya menggeleng ketika ditanya. Pak Sutardi yang kini sudah pensiun sebagai Kepala Desa malah menawarkan diri ikut mencari, Ka Thiam menolak halus.

Juned sialan itu justru terkekeh.

"Kau cari bapakmu mau minta uang jajan?"

Dalam keadaan lain mungkin sudah ia jitak kepala Juned. Tapi kali ini ia hanya mendecak. Juned rupanya juga tak melihat papanya.

Dari kedai Johan ia langsung menuju kelenteng. Orang-orang sedang sibuk mempersiapkan Capgomeh. Lampion digantung. Meja-meja mulai ditata. Bau hio bercampur suara palu dan tawa para panitia.

Tapi tak seorang pun melihat Along hari itu.

"Aih…" Ka Thiam mendesah.

Ia telah mencari di semua tempat yang ia tahu sering didatangi papanya. Tapi orang tua itu tak dapat ia temukan.

Ia tak memakai arloji, tangannya merogoh ke kantong. Menatap makin risau angka jam yang tertera di layar handphone-nya itu.

Tak terpikir olehnya menanti Cici-nya di dermaga. Ka Thiam tancap gas pulang ke rumahnya.

Rumah harus disiapkan. Mumpung ada Ale. Masih sempat kalau mau masak sesuatu, atau mengemas entah apa.

Dan mungkin saja papa sudah di rumah.

Harapnya.

Dermaga kampung yang baru dirombak habis-habisan itu tampak ramai. Ada yang datang menanti Cucut Emas berlabuh, menyambut seseorang yang datang atau pulang. Ada pula yang sekadar melihat keramaian, lalu berbincang dengan seorang kenalan.

Tambahan sayap baru di pelabuhan itu membuat tempat itu tampak jauh lebih luas. Kapal penumpang akan dilabuhkan di bagian kiri, yang kanan pula untuk kapal barang. Itulah salah satu hasil kerja Sutardi, S.E. sewaktu ia menjabat sebagai Kades.

Orang-orang mengingatnya.

Tak hanya itu. Di sudut tengah, sebuah bangunan ditambahkan sebagai ruang tunggu, dengan gerai-gerai kecil penjual makanan dan minuman yang mengisinya.

Di jalan menuju dermaga, seorang pria yang masih muda sedang menggandeng anak perempuannya yang masih kecil menuju ke pelabuhan.

Beberapa orang tersenyum menyapanya dengan ramah, ia membalasnya dengan riang. Sementara anak gadisnya tampak tak sabaran ingin berlari. Tujuannya satu, gerai penjual es krim di ruang tunggu dermaga itu terkenal paling enak.

Pria itu tersenyum melihat kuncir rambut putrinya yang bergoyang-goyang mengikuti langkahnya.

Anak ini tak pernah bosan dengan es krim dari gerai itu.

"Tapi memang enak," gumamnya.

Di rumahnya, teras sepi. Pintu bengkel papanya masih terkunci.

Ka Thiam mendesah. Lalu berjalan ke dapur.

Ia mendengar suara orang menyikat kamar mandi. Saat itulah ia baru sadar, lantai masih sedikit basah. Baru dipel tak lama.

Ale.

Dari tudung saji di meja makan, aroma harum menguar. Ia langsung mengenali bau itu—ayam goreng dengan banyak bawang putih.

Ka Thiam membuka tudung. Benar. Ayam goreng kecokelatan porsi besar masih mengepulkan asap. Cah buncis campur wortel, sup kentang dan kol. Telur dadar yang irisan bawang bombaynya tampak menggoda.

Ale mempersiapkan semua ini.

Ka Thiam tersenyum ketika gadis itu berjalan keluar dari kamar mandi. Peluh membasahi keningnya, tapi ia tampak lega.

"Selesai," serunya riang ketika mendapati Ka Thiam terbengong-bengong melihatnya.

"Ketemu?" tanyanya kemudian.

Ka Thiam menggeleng. Ia mendekat, diraihnya kedua tangan gadis itu. Tapi setelahnya malah diam memandang wajahnya.

"Kau kenapa?"

Kembali Ka Thiam hanya tersenyum.

"Kau akan mengecup keningku seperti biasa?"

Kali ini Ka Thiam menjawab,

"Tak mau."

"Ha?"

"Banyak keringat." Jawab Ka Thiam tersenyum simpul sambil menatap kening Ale yang basah oleh peluh.

Sepersekian detik kemudian—

"Aduh!" Ka Thiam menjerit.

Kaki Ale mendarat di tulang keringnya. Namun setelahnya gadis itu malah tertawa riang.

"Rasakan!"

Ka Thiam menariknya, lalu mengecup kening itu.

"Nah sudah," katanya.

Ale memberinya kecupan di pipi. Lalu menatap wajah Ka Thiam beberapa saat.

"Senyummu jelek."

Ka Thiam mengerutkan dahi.

"Kenapa?"

"Karena matamu masih gelisah."

Ka Thiam hanya tersenyum tipis.

"Kau tak menunggu di dermaga?" tanya Ale.

"Tak usah."

"Hm."

"Kita tunggu di rumah saja. Kau nanti makan siang di sini, ya."

Ale mengangguk.

Orang-orang Bakau Panjang rupanya masih sama. Sejak zaman KM Cucut Emas generasi pertama hingga kini angka romawi III tersemat di buritannya, mereka tetap menganggap lewat sedikit dari pukul dua belas berarti kapal terlambat.

"Hari ini Cucut terlambat," seru seseorang ketika bayangan kapal itu mulai tampak di kejauhan.

Saat itu pukul dua belas lewat tiga menit.

"Terlambat."

Tanpa sadar Ai Phing ikut memberi vonis ketika melirik arlojinya. Ia tersenyum tipis. Namun, ketika bentuk dermaga itu semakin jelas, senyum itu perlahan memudar. Jemarinya meremas pelan botol air mineral yang tinggal setengah isinya.

Perlahan…

Dermaga itu tak lagi ia kenal. Tampak lebih megah.

Deru mesin merendah. Dengan satu sentakan halus, kapal melambat. Dengung percakapan mulai memenuhi ruang penumpang.

Semakin dekat.

Degup aneh memenuhi rongga dadanya. Ai Phing sedikit menunduk. Matanya jatuh pada plang di ujung dermaga.

Selamat Datang di Desa Bakau Panjang.

Lihat selengkapnya