Begitulah langit di Bakau Panjang. Tak mudah ditebak.
Mendekati hari Chengbeng begini, seharusnya matahari tetap perkasa. Tapi hari itu, hatinya melembut. Ia mengalah, memberi jalan pada hujan.
Deras.
"Duh!"
Ka Thiam nyaris mengumpat.
Hujan seperti inilah yang membuat bisnis kacau. Padahal tepat di hari ini, ada tak kurang dari delapan ton getah yang harus berpindah ke kapal. Belum lagi dua setengah ton pinang kering dalam karung, yang sejak dua hari lalu disusun rapi agar mudah dibawa keluar.
Kapalnya memang telah berlabuh sejak subuh di dermaga kecil yang ia bangun di belakang bangsalnya.
Tapi—tentu saja. Tak ada satu pun pekerjanya yang masuk.
"Kalau masuk pun, tak bisa kerja," keluhnya.
Ia mendecak. Decak yang selalu diledek Ale—mirip papanya.
Di teras, sambil memandang langit, ia garuk-garuk kepala. Berusaha berdamai dengan nasibnya.
"Besok baru bisa bongkar," gumamnya lagi.
"Apa?" sahut Along dari samping.
"Besok baru bisa muat ke kapal," jawab Ka Thiam.
Along memandang langit.
"Kalau tak hujan," katanya pelan.
Ka Thiam menghela napas. Tanpa sengaja matanya jatuh lagi ke dinding teras.
Coretan, atau lebih tepatnya gambar dengan spidol bengkel.
Sebuah pesawat yang sayapnya besar sebelah. Lingkaran-lingkaran kecil yang mungkin dimaksudkan sebagai awan. Lalu monster yang bentuknya aneh dan menyedihkan yang sedang ditembaki pesawat itu.