Kabar dari Priangan

Ridhawd
Chapter #29

Surat balasan

Itu adalah malam yang membuat Jaka lupa pada dosa dan batasan, segala pelajaran dari pesantren tak berguna sedikitpun di hadapan Asmarani, dalam rengkuhannya aroma mangir tersemai mencekat penciuman. Ada hasrat yang memuncak.

Dengan keberanian ia lepas rengkuhan itu perlahan, dalam tatap yang bertemu tercipta mufakat tanpa kata, kemudian dengan sadar ia dekati mulut gadis itu, ciuman pertama melekat lembut, basah, manis, hening, menggetarkan.

Tak ada protes dari gadis itu, hanya tatap mata yang terjatuh di atas pangkuan.

"Kita akan berjuang, Asmarani."

Jaka bergetar, bertarung dengan segala hasrat yang paling berbahaya, ia lirik wajah yang tak lagi menatapnya, ia menyesal, ia minta maaf.

Asmarani mengangguk pelan, hatinya masih berdebar. Mengapa mesti meminta maaf? Ia hanya gadis biasa, betapa ia juga menginginkannya. Peduli apa? Hanya bibir yang dicium, ia masih punya selaput dara. Dan Suradipati tidak layak mendapatkannya..

Maka malam itu ia kembali dengan perasaan yang bercampur, menggenggam janji lelaki yang begitu ia cintai, dan layaknya bocah kecil pada ibunya, sepenuhnya ia menaruh yakin pada mulut lelaki itu, keduanya harus menikah, sebab yang lain-lain tidak boleh tersetuh lagi kecuali hanya untuknya.

****

Ciuman pertama itu membuatnya merasa semakin berani, sebuah ikatan tak kasat yang terjalin di antara ia dan Asmarani. Di sini begitu tercela, sekalipun di tempatnya kebanyakan priayi seusianya tidak lagi perjaka.

Lihat selengkapnya