Kabar dari Priangan

Ridhawd
Chapter #30

Sebuah kesepakatan

Wedana tersentak melihat kedatangan Sultan Haji di balongnya, pakan ikan yang tersisa disebar alakadar, tidak khusyuk seperti awal melihat ikan mas berkerumun rakus.

Pada air kolam ia bersihkan tangan amis sisa pakan menyambut iparnya.

Yang disambut mendengus, ada nyala di matanya, maka begitu Wedana mengarahkan duduk pada saung bambu di tepian. 

Sultan Haji baru saja tiba, mengetahui Wedana sedang di balong ia bergegas menyusul.

Angin sore semilir menerbangkan bau lumpur tak dihiraukan keduanya, juga senja yang memudar bukan persoalan, sebab Wedana sedang dibubuhi pertanyaan tak henti. Dan Sultan Haji selalu punya cara membuat lawan bicaranya menjadi kecil.

"Hari ini saja, kami sudah datang sekeluarga." Kalimat itu sudah berulang terlontar dari mulut Sultan Haji.

Dan Wedana teringat penolakan keras putrinya.

"Tunggu apa lagi? Akad nikah bisa dilakukan dengan sederhana. Pihak kami sudah siap."

Wedana benar-benar kelabakan, namun di sana ia tak punya pegangan. Hanya tatap kaku mengarah pada ikan-ikan yang berenang tenang.

"Asmarani belum lagi siap menikah, Kang." Ia menelan ludah yang tercekat.

Terdengar dengus kasar dari Sultan Haji, juga decak kecewa yang dibuat-buat. Dan ia melontarkan nasihat tak karuan.

Baginya penolakan Asmarani bukanlah pemberontakan, itu adalah hasil dari didikannya sendiri. Ia telah berhasil. Ia ingat betapa sering kali berkeluh kesah pada anak gadisnya agar ikut memikirkan segala jalan keluar persoalan keluarga, hingga pemerintahan desa.

Ia ingat betapa banyak buku yang ia belikan untuk Asmarani dan selalu habis terbaca, maka gadis yang sejak kecil sudah merdeka tidak akan bisa dikekang apalagi diarahkan pada jalan yang menurutnya tidak sesuai.

Hingga hari ini, ia belum lagi menemukan keunggulan Suradipati, selain lulusan Leiden dan keponakan istrinya. Ia dilema, sebab moleknya hampir tak terdengar, tertutup dengan nyaring sumbang.

Segala laporan tentangnya telah ia terima, juga pengakuan Aswan tentang pengalaman masa kecilnya dengan Suradipati. Maka ia butuh pertimbangan, ia butuh waktu untuk berpikir matang.

Lihat selengkapnya