Kabur Aja Dulu

Nadya Suhendra
Chapter #1

Keindahan di Atas Langit

Dewasa usia berkelana ….

Patah,

Tumbuh,

Merekah,

Masa kecil telah lama pamit. Sebab, angka-angka baru setiap tahunnya datang bertandang. Dulu bayi kecil yang diajar cara berjalan, kini dewasa yang dipaksa menunggangi kereta kehidupan. Menyusuri ambisi, mencari mimpi, hingga bertemu realitas. Nampaknya, hanya khayal saja yang dapat bebas. Nyatanya, sering kali hidup memaksa kita untuk tetap waras. Kepala riuh sekaligus batin yang gaduh—nyaring menjerit di kesunyian. Dewasa membawa manusia pada ragam genre kehidupan dan perasaan. Kesedihan, kegembiraan, kehilangan, menerima dan menemukan lagi sesuatu yang pernah hilang.

Kala fisik dan mental lelah bertarung dengan kerasnya kehidupan, rumah seharusnya menjadi tempat ternyaman bagi siapa saja untuk pulang. Akan tetapi, tidak semua rumah layak huni. Setiap manusia memiliki rumah yang berbeda. Dan rumah kami … tidaklah berbentuk rumah.

“Apa ini?” Wanita berparas oriental itu menatap benda yang baru saja ia terima penuh penasaran.

“Saya ingin mengundurkan diri, Bu.” Kalimat ini mendadak keluar dari mulut Sandrinna setelah bertukar amplop putih dengan atasannya. “Ini hari terakhir saya bekerja di sini.”

“Lho, kenapa?”

“Saya rasa pekerjaan ini tidak cocok dengan saya,” dalihnya, berusaha meyakinkan. Padahal batinnya sedang menggerutu atas perlakuan yang sering diterimanya di sini. “Saya ingin beristirahat dulu untuk sementara waktu.”

“Oh, begitu. Ya, sudah. Tidak apa-apa. Memang tidak semua orang bisa mengajar dengan sepenuh hati. Mungkin kamu memang lebih cocok bekerja di bidang jurusan kamu, di bidang yang kamu sukai.”

“Terima kasih untuk kesempatan yang sudah pernah Ibu berikan kepada saya. Ya, saya memang akan mencari pekerjaan lain yang lebih saya sukai.” Sandrinna membalas perkataan atasannya itu, sebelum akhirnya memasukkan amplop yang ia genggam ke dalam tas selempangnya. Gaji terakhirnya di tempat ini.

“Ya, sama-sama.” Naora menyambut jabatan tangan Sandrinna.

“Baik. Kalau begitu permisi, Bu.”

“Silakan!”

Tidak semua orang bisa mengajar dengan sepenuh hati. Tahu apa dia? gumam Sandrinna tak terdengar. Ingatannya memutar ulang ucapan atasannya tadi. Kakinya terus mengayun disertai wajah datar.

Hanya hitungan bulan ia bekerja sebagai guru Bahasa Inggris di sekolah swasta ini. Padahal, pekerjaan ini sudah susah payah ia dapatkan. Tapi apa boleh buat? Baginya kesehatan mentalnya jauh lebih penting. Tak melulu soal status. Senior yang berlagak dirinya pemilik sekolah—senang lapor sana-sini, hingga tugas menumpuk yang tidak sesuai deskripsi pekerjaan, hal ini sungguh telah mengacak-acak habis emosinya. Kalau mengajar dengan sepenuh hati atau tidak, tentu saja ia ‘mengajar’ murid-muridnya dengan sepenuh hati. Tangki cintanya penuh untuk mereka. Bahkan, sebelum hari ini mengundurkan diri dari pekerjaannya, ia sempat dilema untuk membuat keputusan. Bagaimana juga hatinya telah terhubung dengan bocah-bocah kecil itu. Sore ini, ia berencana akan memberikan hadiah pada murid-muridnya yang ia beli dengan gajinya yang tak seberapa. Selama beberapa menit Sandrinna berdiri berpangku tangan, menyandarkan tubuhnya pada tembok sekolah seraya menciptakan irama lewat sepatunya nan elegan. Tak lama, yang dinantinya muncul.

“Miss…,” teriak gadis kecil berkepang kuda. Ia berlari ke arah Sandrinna penuh antusias. “Ada apa, Miss?” Cahaya tersenyum lebar.

Sandrinna mendaratkan tangannya dengan lembut ke pundak gadis kecil itu. “Cahaya. Teman yang lainnya mana?”

“Mereka di dalam kelas, Miss. Masih beberes. Sebentar lagi sepertinya sampai.”

“Ohh…” Sentuhan Sandrinna beralih ke kepala Cahaya. Ia sesaat memainkan rambut murid kecintaannya itu. “Ya, sudah. Kita tunggu yang lain dulu, ya.”

“Miss…” Terdengar lagi suara murid perempuan lainnya.

Sandrinna menoleh ke arah suara. “Uti…,” balasnya memanggil. “Sini, Sayang.”

Selang hitungan detik menyusul beberapa murid laki-laki.

“Miss Sandrinna…,” panggil mereka serentak.

“–Miss hari ini ulang tahun?”

“–Iya, Miss?”

Lihat selengkapnya