Panggilan telepon bersahutan menyambut pasien darurat, lobi rumah sakit riuh. Para tenaga medis dan kesehatan sibuk melenggang dalam balutan seragam mereka yang identik, memeriksa tiap ruang bangsal pasien. Sedang keluarga pasien tiada henti merapalkan doa mengusir ketakutan yang merajai dada mereka. Permohonan itu semata-mata demi orang terkasih yang tengah bergulat melawan sakit di ranjang pesakitan.
Kemala Ayunda. Perawat tahun ke 3 ini sedang mencuri waktu di sela jam kerjanya untuk sekadar makan malam. Sayangnya, belum sempat nasi goreng yang tadi dibelinya lewat pesan-antar meluncur ke tenggorokan, sebuah perintah mendesak datang memanggilnya.
“Perawat, Kem. Dokter An memintamu untuk ikut membantu di ruang operasi,” beri tahu perawat lain di ambang pintu ruang nakes. Sekilas ia melirik makanan dan minuman yang tersedia di meja Kemala. “Segera!” lanjutnya, kemudian menutup pintu tanpa Kemala sempat menjawab.
Kemala menghela napas, memandangi jam antik di pergelangan tangan kirinya. Pukul 19.00. Sudah kesekian kalinya ia melewatkan jam makan malam yang seharusnya tepat waktu. Berprofesi sebagai perawat sirkuler telah menyita banyak waktu senggangnya. Sebab, sering kali tugasnya merangkap. Rumah sakit sudah seperti rumah kedua baginya. Sungguh, ia sebenarnya bekerja dalam penuh tekanan. Kemala menggilas makanannya dengan sigap di mulut lalu menuju kamar operasi.
Perawat berwajah dingin. Julukan yang disematkan sesama rekan kerja Kemala untuknya. Karena meski sudah bertahun menjadi rekan seprofesi, Kemala jarang bersikap akrab pada mereka. Ia manusia minim kalimat bila bersama orang yang tidak dekat dengannya secara emosional. Paras tirus, tubuh kurus, serta kulit kuning langsat dengan rambut kusutnya selalu ia ikat ke belakang. Penampilannya ini sudah cukup menjelaskan ia orang yang acuh dan apa adanya. Justru inilah yang membuat Andre William menaruh hati diam-diam padanya. Senior Kemala di rumah sakit. Dan sekarang, ia harus tertahan di kamar operasi bersama pria ini juga tim bedah dan perawat lainnya.
“Anestesi?”
“Clear!”
“Instrumen?”
“Ready!”
“Asisten bedah?”
“Ready!”
“Sirkuler?”
Sikap Andre nan terkesan otoriter seketika memecah keheningan mengalahkan seramnya bunyi monitor. Seakan-akan hidup dan mati semua yang bertugas di ruangan ini bergantung padanya. Salah sedikit saja, habislah kalian.
“Cepat sedikit!”
Kemala bergegas membantu seluruh tim bedah mengenakan setelan operasi mereka. Hingga giliran Andre, pria semampai berwatak dingin yang mengalahkan dinginnya kamar operasi, bermulut pedas tingkat ekstra, ia langsung berubah salah tingkah karena perawat wanita ini. Detak jantungnya menggila layaknya sedang balapan di arena pacuan kuda. Ia mencuri pandang pada Kemala dari balik masker medis yang menutupi sebagian rupanya. Kemala yang cuek tidak menyadari ini. Si pemilik nayanika berwarna coklat itu memancarkan sinar nan lebih terang daripada gemintang di gelap gulita. Jelas ini tatapan cinta. Sepersekian menit seusai Kemala menyelimuti tubuhnya dengan gaun bedah, Andre mengerjap—menarik dirinya kembali ke dunia nyata.
Netra Andre berkeliling memperhatikan timnya yang sudah siaga di depan pasien kecelakaan—pria muda usia belasan. Dua residen, Ayana dan Ali yang tengah menempuh pendidikan spesialisasi tampak begitu yakin dan siap untuk melakukan operasi. Dua koas, Hazel dan Dahrian mengepal kuat tangan mereka membuang kecemasan di dada. Ini kali pertama mereka ikut ke ruang operasi. Selepas melangitkan doa, dengan satu anggukan dokter residen dan koas langsung paham perintah Andre—senior mereka. Mereka siap tempur.
“Pisau bedah,” pinta Andre pada seorang perawat instrumen.
Sepuluh jari Andre menari lincah di atas meja operasi. Ia begitu piawai dalam bidangnya. Performanya sebagai bedah spesialis kardiotoraks tak perlu diragukan lagi.
Sementara Kemala yang sudah duduk di pojokkan, ia tetap siaga menunggu perintah lainnya seraya menyaksikan jalannya operasi.
Di sisi lain, Jena baru saja menapaki kakinya di rumah.