Kabur Aja Dulu

Nadya Suhendra
Chapter #3

Tentang Sandrinna

Layaknya prajurit yang kalah di medan perang, Sandrinna pulang—kembali menyandang status pengangguran. Tak peduli seberapa keras usaha yang ia kerahkan, sejauh mana langkah membawanya pada satu tujuan, pada akhirnya ia hanya berhenti di tempat yang tak diharapkan. Menyerah tanpa syarat. Satu-satunya cara agar ia bisa terlepas dari energi negatif dan beban emosional.

Dunia kerja sangat tidak ramah padaku. Sepertinya aku tidak cocok untuk bekerja.

Di meja makan Sandrinna termangu menelan segala pikirannya. Menikmati pemandangan sajian di depan mata sudah cukup membuat rongga perutnya terasa penuh. Sejak tadi sendok di tangannya hanya ia bawa berputar-putar mengelilingi piring.

“Kau tidak makan?” Ibunya bertanya.

“Jangan bilang kau diet?” Rafael mengangkat ikan goreng di piring, kemudian mengarahkannya ke muka Sandrinna. “Lihatlah, tubuhmu sudah sama kurusnya dengan tulang ikan ini.”

“Ais… sialan. Kurang ajar.”

Dengan tampang tak berdosa Rafael terkikik melanjutkan suapannya ke mulut. Adik semata wayang Sandrinna ini memang senang mengolok-olok dirinya. Begitulah cara ia menunjukkan kasih sayang bersaudara.

Di kursi utama, sang kepala keluarga hanya tertawa kecil melihat buah hatinya mengeluarkan kata-kata.

“Kenapa? Kau tidak suka lauknya?” tanya ibunya lagi.

“Eh, tidak. Bukan seperti itu, Bu.” Sandrinna mengurangi setengah air di gelasnya. Dengan keberanian yang dipaksakan ia kembali bersuara. “Itu … sebenarnya aku … aku sudah berhenti kerja hari ini.”

Serempak semua anggota keluarganya menoleh ke arah Sandrinna.

“Wah… luar biasa!” ucap Rafael, takjub.

“Apa katamu tadi?” Sosok yang dihormati Sandrinna akhirnya membuka suara.

“Dia bilang dia sudah berhenti kerja, Ayah. Dia menjadi pengangguran lagi sekarang,” jelas Rafael seperti api yang menyambar kompor.

Lihat selengkapnya