Kabur Aja Dulu

Nadya Suhendra
Chapter #4

Tidak Semua Rumah Berisi Keluarga

“Pagi, Perawat Kem. Kau sudah mau pulang?” sapa rekan seangkatan Kemala. Genggaman wanita itu berisi secangkir latte panas dan roti lapis kacang.

Kemala menyandang tasnya menebar senyum tipis. “Hmm, ya.”

Setelah 2 hari menginap di rumah sakit karena kesibukannya, pagi ini Kemala menyeret tubuhnya keluar dari ruang nakes beraroma medis yang menyengat kuat hidung runcingnya. Kaki jenjangnya mengarah ke pintu lift. Hitungan menit berlalu, pintu lift menganga besar. Sosok Andre telah berdiri di depannya.

“Pagi, Dok,” sapa Kemala sedikit membungkuk.

Andre mengangguk, memperhatikan tampang kurang tidur cinta rahasianya itu. Sekujur tubuh Kemala menegang berdiri di samping Andre. Hanya ada mereka berdua di dalam lift ini.

“Istirahat dan makan yang cukup. Kau tampak seperti boneka porselen pagi ini.”

Kemala terheran menanggapi Andre. “Hah? B–baik, Dok. Terima kasih.”

Mereka berpisah di lantai 2. Andre keluar dengan gagah menyibak jas putihnya, menyusul Kemala turun di lantai 1 membawa sisa penat di badannya. Sambil melangkah lamban bibirnya berkicau mengirim pesan suara ke grup obrolan.

Hei. Apa hari ini jadi? Kita nongkrong di mana, jam berapa?

6 menit kemudian Kemala mencapai area parkir rumah sakit. Nasehat Andre tadi berputar liar di kepalanya. Ia pikir, apa ada yang salah dengan penampilannya? Mengapa Andre berkata demikian? Ia perlahan mendekati kaca pintu mobil. Dalam pantulan bayang yang enggan menipu dirinya, netra Kemala naik-turun memeriksa penampilannya. Seragam kerja yang sudah compang-camping, riasan tipis di wajah memudar dan rambutnya sekarang terlihat lebih seperti penyihir daripada perawat. Ia terhenyak melihat dirinya yang berantakan. Pesan masuk dari Jena memutus pandangannya dari cermin.

Tentu saja jadi. Ini akhir pekan. Perempuan lajang seperti kita mengapa harus mengurung diri di rumah? Yang benar saja kau Kemala. Jangan jadi jomblo menyedihkan. Kedai kopi atau kafe mungkin? Aku akan memesan semua menu di sana. Supaya para pasangan kekasih tidak kebagian untuk membeli apa pun. Jamnya, kau dan Sandrinna saja yang atur.

Celotehan Jena di pesan suara mengundang gelak kedua sobatnya. Kemala tertawa kecil mendengar lewat earbud di balik kemudinya, Sandrinna terkekeh membalas lelucon Jena di tempat tidurnya.

Hei, Jena. Ini masih pagi. Kau membuat rahang dan perutku sakit karena tertawa. Kau tidak perlu memperjelas kalau kita ini “jomblo menyedihkan”. Lagi pula, sejak kapan kau jadi jomblo? Di antara kita hanya aku dan Kemala yang tidak mempunyai pasangan. Sedang kau selalu putus-nyambung dengan pria kayamu itu, hahaha.

Di awal 20-an, Jena mempunyai tekad untuk mengincar pria-pria tampan lagi mapan. Alasannya masuk akal di pemikiran kedua sohibnya. Karena ia sudah letih menjadi tulang punggung keluarga. Ia ingin menyelamatkan dirinya dari garis kemiskinan. Begitulah ungkap Jena, pada Kemala dan Sandrinna saat merayakan ulang tahunnya yang ke 22. Saat itu banyak pengunjung kafe yang datang bersama pasangan mereka sehingga gadis pemilik rambut belah tengah ini berkecil hati melihatnya. Sejak itu, ia mulai unjuk bakat dalam urusan asmara berkelas. Ia membangun relasi mengikuti komunitas hobi untuk bertemu dengan orang yang ingin ia tuju. Di situlah awal mula dirinya berkenalan dengan Leo. Pria lulusan bisnis dan manajemen yang sekarang bekerja di perusahaan rintisan miliknya sendiri. Hubungan mereka bak jembatan goyang yang acap kali putus kala hujan badai melanda, kemudian diperbaiki untuk disambung ulang. Lantaran beda cara pandang dan kesetaraan.

“Sandrinna, bangun! Kau tidak sarapan?” panggil ibunya melengking.

“Ya, Bu. Aku sudah bangun. Sebentar,” sahut Sandrinna keras.

Telapak tangannya sekarang tampak mengelus-elus area lambung dan pusar.

Ais... ini bukan lapar. Tapi urusan darurat.

Selera humornya yang terpancing oleh Jena berhasil mengaduk-aduk alat pencernaan Sandrinna pagi ini. Secepat kilat ia meloncat dari ranjangnya berlari bersama setelan piama lucu ke kamar mandi. Berniat membuang kotoran besarnya segera, tak ia sangka malah berebut hak kloset dengan adiknya.

Lihat selengkapnya