SORENYA di kafe langganan mereka; tiga sekonco ini saling melontarkan peliknya hidup yang dijalani di penghujung usia kepala dua. Wanita generasi Z yang sekarang menginjak 27 tahun itu mengomel pada drama-drama kehidupan yang mereka lakoni setiap harinya. Di saat kenalan sebaya mereka sudah sibuk mengurusi suami dan anak, Sandrinna beserta konconya masih saja kewalahan menafkahi diri mereka sendiri.
Kalimat demi kalimat meluncur dari lidah mereka bercampur emosi kekesalan. Setiap curahan yang ditumpahkan akan ditanggapi satu per satu dengan nasihat baik dan candaan akrab. Di meja kafe itu hidangan manis sebagai pelengkap obrolan mereka.
“Kalian bayangkan saja, setiap mau pergi kerja aku selalu merasa cemas. Aku harus memaksa senyuman ramah dengan orang yang memperlakukanku buruk,” keluh Sandrinna. “Senior apanya. Memangnya dia langsung bisa dengan tugasnya saat pertama kali masuk kerja? Bertanya saja tidak boleh. Tidak suka sedikit, lapor atasan. Aku tidak mengerti mengapa atasan itu selalu membelanya. Semua tugas di luar tanggung jawabku dia berikan padaku. Sialan!” sambungnya muak.
Kemala dan Jena ikut terbawa suasana mendengar omelan konco termuda mereka. Ya, usia mereka bertiga beda hitungan bulan. Jena si tertua dan Kemala si tengah.
“Aku heran dengan jenis manusia seperti itu. Kenapa mereka punya banyak tenaga untuk menjilat atasan, sekaligus menjadi pemutus rezeki orang?” bela Kemala seusai menyeruput matcha dingin.
“Benar. Hei, ngomong-ngomong siapa nama seniormu itu? selidik Jena penasaran. Roti kroisan memenuhi kunyahannya sambil menoleh ke arah Sandrinna.
“Rahma,” sungut Sandrinna. “Ah, aku kesal sekali kalau mengingat dia.”
Kemala tertawa kecil melihat aksi geram Sandrinna. “Tenangkan dirimu,” suruhnya lembut.
“Bersiap-siaplah. Tahun depan pendaftaran calon pegawai negeri sipil akan dibuka. Kau mau cari alasan apa lagi untuk berbohong dengan ibu dan ayahmu?” canda Jena pada Sandrinna.
“Ah, kau ini. Iya ya, kau benar juga.”
Ikut mendaftar seleksi calon pegawai negeri sipil, sudah jadi permintaan tahunan orang tua Sandrinna sejak ia lulus kuliah. Jelas-jelas ini berseberangan dengan impiannya. Namun ibu dan ayahnya tetap saja berharap putri mereka ini akan lulus seleksi. Dua tahun ke belakang Sandrinna pintar membuat alasan; dokumennya tidak lulus skrining, kemudian tahun ini ia diterima kerja jadi guru. Tapi tahun depan....? Sandrinna sekarang gigit jari memutar otaknya.
“Hei. Kenapa kau melamun?” sikut Kemala.
Sandrinna melepas gigitannya. “Hah? Tidak. Aku hanya heran saja. Mengapa generasi orang tua kita senang sekali memaksa keinginan mereka pada anaknya?” ucap Sandrinna berpangku tangan.
“Kau benar. Entahlah, aku juga tidak tahu mengapa,” desah Kemala.
Pupil Sandrinna seketika berputar menangkap Kemala penuh rasa ingin tahu.
“Apa ibumu masih sering menjodohkanmu dengan anak temannya?”