Sejak resmi menganggur, aktivitas Sandrinna berjalan layaknya jam analog berputar 1×24 jam di lingkaran yang sama setiap harinya. Pagi bergumul dengan tugas rumah, siangnya tidur, sorenya bangun dan malamnya bermalas-malasan. Makan dan minum tidak ketinggalan tentunya. Tapi meski begitu agenda acaranya banyak. Sebagaimana istilah orang-orang “PENGACARA” (pengangguran banyak acara). Jadwalnya penuh.
Laga kualifikasi piala dunia 2026 zona Asia putaran 3, segera dimulai. Semangat Sandrinna berapi-api menyambut tayangan ini yang akan disiarkan secara langsung di berbagai media 2 hari mendatang. Tak ada yang mengira, gadis feminin ini merupakan satu dari jutaan penggemar Tim Nasional Indonesia di masa sekarang. Sepak bola hadir sebagai penghibur di tengah huru-hara hidup yang menerpanya. Bagi Sandrinna sepak bola adalah romansa yang berbeda, lebih dari sekadar kisah cinta dua manusia. Puluhan atau bahkan ribuan orang mencintai yang sama dalam satu tujuan. Menang. Hanya di dunia sepak bola dirinya bisa meluapkan segala dimensi emosi sekaligus. Bersorak, tegang, marah, sedih dan senang di waktu bersamaan.
Dua hari lagi. Ah, aku benar-benar tidak sabar untuk menonton pertandingan ini.
Sedari tadi jarinya sibuk menggulir, matanya tidak lepas pandang dari layar ponsel melihat sekumpulan video yang muncul di halaman rekomendasi. Media sosialnya seperti telah membaca minat dan hiburan yang sering ia tonton akhir-akhir ini. Pertandingan sepak bola. Mendadak Sandrinna terjeda menggulir. Otaknya mulai mencari cara bagaimana agar bisa menyaksikan tayangan yang sedang dinantinya ini. Ayahnya bukan peminat sepak bola melainkan badminton dan politik. Sementara hanya ada satu televisi di rumah mereka. Maka, jalan satu-satunya mengajak kedua temannya untuk nonton bareng di luar.
Ayo, kita nonton pertandingan ini di angkringan.
Pesan singkat Sandrinna baru saja berkunjung ke “Sahabat Kandung”. Nama grup obrolan yang ia ciptakan bersama dua kawan dekatnya itu 11 tahun yang lalu.
Apa ini? Aku tidak kenal mereka. Tidak menarik.
Begitulah tanggapan Jena yang blak-blakan seusai melihat poster jadwal tanding pemain kesebelasan. Perhatiannya beralih lagi ke tanaman hias di pekarangan rumah, menyuguhkan minuman segar ke dalam pot-pot bunga. Salah satu kegiatan rutinnya setiap akhir pekan. Berkebun.
Aku tidak suka sepak bola.
Menyusul Kemala membalas dengan gaya khasnya. Datar dan singkat. Satu-satunya hobi perawat sirkuler ini TIDUR di hari libur. Usai menanggapi pesan grup, ia menyelimuti matanya memakai penutup mata tidur bermotif boneka.
Bibir Sandrinna mengernyit menyimak bacaannya di ponsel. Ia sudah menduga balasan pesan seperti apa yang akan dikirim para konconya ini. Penolakan tanpa basa-basi.
Kemala si pemburu tiket konser musisi idolanya, Jena si anak alam yang senang menjelajah. Mereka sama sekali bukan penggemar sepak bola. Ketiganya punya minat yang bertabrakan. Dan Sandrinna, ia tak sudi menganggap dirinya sebagai penggemar sepak bola yang ikut-ikutan. Istilah zaman sekarang “Fans Fomo”. Ia benci dengan kata-kata ini. Karena baginya sepak bola sesuatu yang bisa dipelajari bukan soal matematika yang sulit dipecahkan. Menghafal nama pemain kesebelasan, susunan pemain tiap akan tanding, posisi tiap pemain dalam tim, aturan bermain selama durasi kurang lebih 90 menit, jenis pelanggaran, tendangan, lemparan dan masih banyak lagi istilah-istilah dalam sepak bola yang menarik untuk dipelajari bagi yang berkeinginan.
Tak kehabisan akal, Sandrinna menggunakan jurusan andalannya merayu Jena dan Kemala agar bersedia menemaninya nonton bareng.
Ayolah, sahabatku. Aku mohon. Apa kalian tega membiarkan aku yang pengangguran ini merasa kesepian? Aku bosan di rumah, aku butuh hiburan. Lagi pula di tanggal ini hari libur nasional. Kalian tidak akan masuk kerja.
Deretan pesan teks Sandrinna seakan merunduk menyatukan telapak tangannya—meminta pengabulan. Hati sahabat mana yang tak luluh membacanya. Jena dan Kemala berhasil termakan bujuk rayu teman termudanya ini.
---2 hari kemudian---
9 jam sebelum pergi nonton bareng; kala bumi berotasi bersama pijaran mentari mengantar aroma oksigen dari klorofil yang menari-nari. Sandrinna menghampiri ibunya dalam keadaan muka bantal.
“Ibu, nanti malam aku akan pergi bersama Kemala dan Jena.”