Kabur Aja Dulu

Nadya Suhendra
Chapter #8

Usia Dewasa Penuh Tuntutan

Kemenangan Tim Garuda melawan Tim Naga kemarin malam, memberikan dopamin bagi jiwa Sandrinna sampai pagi. Pesona Ole Romeny saat mencetak goal, selebrasi yang dilakukannya bersama kawan-kawan terus terbayang di dalam kepala gadis ini. Kebahagiaan serupa ia rasakan pula ketika Indonesia menang melawan Arab Saudi tahun lalu. Saat itu Marselino Ferdinan berhasil membobol gawang lawan dengan skor unggul 2-0. Selebrasi dingin pria yang juga bermain di klub Eropa ini menjadi viral di momen bersejarah malam itu.

Tak terhitung entah kali ke berapa ia memutar video detik-detik Ole Romeny cetak goal ke gawang China. Tayangan ulang itu seolah lebih mengenyangkan perutnya ketimbang bubur ayam yang sedari tadi tidak berkurang di mangkuknya. Sandrinna senyum-senyum sendiri terhipnotis tontonannya. Sekeliling meja makan mengamati tingkah lakunya.

“Sebahagia itukah kau?” Rafael melirik ponsel kakaknya.

“Hmm, sangat bahagia. Kau tidak nonton pertandingan ini tadi malam?”

“Buat apa? Lebih baik aku menonton liga Eropa.”

Sandrinna memutar badannya. “Kenapa? Ini negaramu, tanding melawan negara lain.”

“Jika tidak ingin kecewa lebih baik jangan ditonton.”

Mulut Sandrinna mengernyit. “Kau sungguh tidak nasionalis.”

“Memang,” sahut Rafael dengan gaya menyebalkan. Ia menyambung sarapannya lagi.

Di kursi lain, perkataan pedas menyambar dari wanita berambut putih yang berubah ditelan usia.

“Hanya itu saja yang kau tahu? Di usiamu ini kau seharusnya sudah mengurus rumah tangga, bukan lagi hura-hura,” sindir neneknya.

“Nenek! Kenapa harus membahas ini?” Sandrinna mendesis kesal.

“Tidak bolehkah? Aku ini sedang memberitahumu.”

“Ibu, mungkin saja Sandrinna sudah merencanakan pernikahan dengan pacarnya.” Bibinya menoleh. “Ya ‘kan, Sandrinna?”

“Tidak ada rencana pernikahan, Bibi.” Suara Sandrinna sedikit meninggi.

“Maksudmu?” Ekspresi bibinya berpikir keras. “Kau punya pacar atau tidak?”

“Tidak punya.” Sandrinna merebahkan ponselnya di meja. Sendok di mangkuknya lanjut menyentuh bubur ayam. Sesuap, dua suap, bibinya melemparkan pertanyaan lagi.

“Sudah berapa umurmu sekarang?”

“27,”

“Umurmu sudah 27 dan kau masih belum punya pacar? Kenapa tidak dicari?”

Alis Sandrinna mengkerut. “Mau dicari ke mana, Bibi?”

“Ya, harus dicari. Masak begitu saja kau tidak tahu? ‘Kan bisa cari kenalan di dunia maya. Bukankah seperti ini cara anak zaman sekarang mencari teman dan pasangan?”

“Tidak semudah itu, Bibi. Bahkan di dunia nyata meski sudah kenal dan dekat belum tentu berjodoh.”

“Apa yang mudah bagimu, kerja saja kau tidak bertahan lama,” sela neneknya. Orang tua dari pihak ibu Sandrinna ini melontarkan cemoohnya. “Ibumu bilang kau sudah berhenti kerja. Kau bukan guru lagi, lebih baik menikah saja. Apa lagi yang kau tunggu?”

Lihat selengkapnya