Berjarak 4 langkah dari tempat Kemala dan ibunya duduk, Andre sejak tadi menyimak pembicaraan ibu dan anak itu di meja belakang. Kemala tidak tahu ia ada di sana. Mendengar soal perjodohan tadi saja sudah cukup membuat Andre patah semangat, sekarang hatinya ikut pula tercerai-berai saat tahu Kemala tidak ada rencana menikah dalam hidupnya. Dokter spesialis itu terus menyantap makan siangnya sembari fokus lagi menguping.
“Kau ini bicara apa. Jangan bicara sembarangan.”
“Aku serius, Ibu,” tutur Kemala mantap. “Karena itu jangan pernah memaksaku lagi untuk berkencan dengan anak temanmu itu. Aku tidak ingin memberinya harapan palsu.”
Esti sungguh tak mengerti jalan pikir putrinya. Tubuhnya menjelma kaku, dunianya serasa runtuh mengetahui niat Kemala yang tak ingin menikah. Hatinya hancur sebagai seorang ibu. Selama ini ia berharap kelak Kemala akan hidup bahagia bersama pasangan dan keturunannya di masa depan. Agar di hari tuanya ia tak sendirian dan kesepian. Pundak Esti menegak, sepuluh jarinya saling menggenggam di atas meja dibarengi muka protes.
“Kau sadar dengan apa yang kau ucapkan? Kenapa bisa kau berpikiran untuk tidak menikah? Ada apa denganmu, hah?”
“Ibu sungguh tidak tahu?” Kemala mengangkat dagunya menahan tangis. “Ah, wajar saja. Selama ini kau hanya peduli dengan dirimu sendiri,” lanjutnya.
“Kemala, apa maksudmu? Bagaimana mungkin ibu tidak peduli padamu?
“Apa pun itu, aku tidak akan menikah.” Kemala pamit meninggalkan ibunya yang mematung. “Terima kasih untuk makan siangnya,” pungkasnya membungkuk.
Sebagian luka merupakan rahasia besar bagi korban kejahatan dunia. Mereka menimbunnya di relung jiwa sampai penuh, membiarkan luka itu membengkak lalu meledak bersama bom waktu. Tiap anak manusia yang tumbuh dirundung nestapa, mereka membangun singgasana pribadi untuk melindungi diri. Sebuah cara bertahan hidup untuk tetap menjaga kewarasan. Ada kalanya hubungan antar manusia itu serumit benang kusut yang sulit untuk dirapikan ke posisi semula. Ya, inilah hidup.
Baskara berangsur lenyap dilahap cakrawala, bentala segera berganti rona hitam pekat. Mengantar desir angin dan tamu tak diundang ke dalam jiwanya para manusia, mereka bergantung binal di dada dan kepala.
Di bilik tidur yang memisahkan dirinya dari anggota keluarga, Sandrinna terbahak-bahak menikmati siaran komedi “Lapor Bang!” lewat ponsel pintarnya. Tontonan ringan yang berhasil menggelitik perutnya malam ini. Hiburan semacam inilah yang ia butuhkan di tengah perang dingin yang berlangsung antara ia dengan nenek dan bibinya. Dirinya enggan berbaur bersama mereka. Sesekali suara tawanya yang berlebihan mengusik pendengaran semua yang ada di ruang tengah; neneknya sedang menyulam syal, bibinya memoles masker wajah, ibunya memotong buah apel, ayahnya menonton debat politik dan Rafael melakukan latihan beban.
“Ah, berisik sekali,” gerutu bibinya yang sibuk menempelkan krim teh hijau ke pipinya yang sudah menua. “Rafel, kakakmu sering seperti itu?”
“Seperti apa, Bibi?” Ayunan barbel di lengan Rafael ikut melamban seiring otaknya yang bekerja. Sepersekian detik kemudian ia berbicara lagi. “Oh... tertawa seperti orang gila?”
“Ya, terserah apa katamu. Seringkah?”
“Tidak. Dia seperti itu hanya saat tertekan saja. Semacam menghibur diri, Bibi.”
“Begitukah?” tanya neneknya ragu.
“Ya, Nenek.”
“Ibu, apelnya,” tawar ibu Sandrinna pada orang tuanya.