Hari berganti sebagaimana mestinya. Menghadirkan episode baru—penuh cerita.
Arunika mengintip segan lewat celah gorden, bias sinarnya menyilaukan penglihatan Sandrinna. Mengganggu tidurnya. Pun dering alarm tak sopan berulang kali menjerit memenuhi kamar. Mesin pengingat waktu ini agaknya lupa, kalau ia tak perlu lagi membangunkan Sandrinna untuk pergi kerja. Sandrinna mematikannya. Tubuh mungilnya masih setia tenggelam di antara kasur lajang dan selimut katun krem.
Angan-angan kembali ke alam mimpi; menunda pulang ke dunia nyata, BATAL. Nada panggilan telepon mengambil alih tugas alarm. Atma yang sempat terpisah dari raga terpaksa balik lagi ke buana. Dalam kondisi mata memicing, tangan kanannya meraba-raba gawai di atas nakas samping ranjang.
Sandrinna menguap. “Apa?”
“Pagi, Bu Guru! Ah, tidak. Aku lupa. Pagi, Sandrinna. Calon wanita sukses.”
“Kau salah makan pagi ini? Ada apa? Cepat katakan. Aku mengantuk.”
“Jangan lupa kita ke kos Kemala nanti malam. Aktifkan terus ponselmu.”
Suara Jena di ujung telepon terdengar lebih lepas dari biasanya. Ia jelas jauh lebih baik dari sebelumnya. Sandrinna bisa merasakannya, Jena sedang bekerja penuh semangat.
“Kau sudah mengatakannya semalam. Aku ingat.”
“Hehehe... aku sengaja mengulangnya. Kau suka menghilang tanpa kabar meski kita sudah buat janji.”
“Kapan aku seperti itu?”
“Terkadang. Pokoknya jangan lupa.”
“Hmm, baiklah.”
“Bagus. Hei, ada pembeli. Sudah dulu, ya.”
Kemala si anak indekos yang sering menampung sahabatnya itu sekadar kongko atau sesekali membiarkan mereka menginap, sedang terbirit-birit mendorong tandu beroda bersama timnya.
“Korban kecelakaan paralayang. Sepertinya panik karena cuaca tiba-tiba berubah. Dia terjatuh ke pantai dalam keadaan menungkup di atas batu karang,” terang seorang pria tim SAR dengan napas tersengal. Kemala mendengarkan sembari fokus mendorong tandu ke depan.
Ruang IGD mendadak tegang diisi raungan keluarga korban. Adik perempuan bersama ibu dan ayahnya. Liburan keluarga yang tadinya harmonis malah berubah tragis. Abang sekaligus putra dari keluarga ini, gagal mendarat.
Derap langkah pasukan malaikat medis berpacu menghajar waktu demi tugas mulia. Menyelamatkan nyawa seorang manusia. Pria malang terbaring tak bedaya, bercucuran darah dipenuhi luka lebam di sekejur tubuhnya. Dokter dan perawat saling berbagi tugas menangani pasien ini.
“Tanda vitalnya?” tanya dr. Rumi.
“75 per 60, denyut jantung 120,” lugas Kemala.
Dokter Rumi menyimak seraya membungkus sepuluh jarinya ke dalam sarung lateks putih. Sebuah pergerakan dingin presisi dari seorang dokter residen bedah tahun ke 2.
“Baiklah. Perawat, Kem, tolong ambilkan mesin ekokardiografi sekarang!”
“Baik, Dok.” Kemala segera melesat.
Dinding rumah sakit menjadi rekam sejarah betapa mencekamnya situasi saat ini. Pakaian noda darah ditempeli partikel-partikel pantai, dikoyak paksa dari tubuh pasien itu oleh seorang perawat pria.
“Ini, Dok,” serah Kemala.