“Dokter,” panggil Kemala.
Langkah Andre terjeda. “Ya?”
“Terima kasih. Karena tadi kau tidak buru-buru pulang. Terima kasih juga sudah menyelamatkan pasien tepat waktu.”
Untuk pertama kalinya, Kemala memberanikan diri melewati batas dengan seorang pria dalam cara sederhana. Memberi ucapan hangat bernama “Terima kasih”. Lantas Andre terheran dibuatnya.
“Hah? Ah, ya. Sama-sama.”
Drama rumah sakit 12 jam akhirnya TUNTAS. Operasi tamponade jantung berjalan lancar. Serangkaian tugas pasca operasi: merawat pasien, mengurus laporan operasi, hingga serah terima pasien dengan perawat lain untuk kelanjutan perawatan, menutup rutinitas medis Kemala hari ini. Segala atribut dinas yang seharian membalut daksanya ia lepaskan, membiarkan benda mati itu terkurung gelap di loker besi. Aroma antiseptik dan tanggung jawab profesi pudar—berganti setelan santai yang memerdekakannya dari tugas perawat. Dunia luar sudah menantinya. Mobil Kemala melaju pulang.
Sesampainya di indekos, kepulangan Kemala disambut dingin suara mesin akses pintu yang seolah marah sering ditinggal pergi penghuninya. Dengan langkah gontai ia menjatuhkan tubuhnya pelan ke sofa. Di bawah cahaya temaram, matanya berbelok menangkap sebuah pigura foto di atas nakas.
“Kau lagi apa di atas sana? Apakah kehidupan di sana lebih baik daripada di sini?”
Jemari cantiknya membelai lembut pada kaca foto. Tatapannya sendu membendung renjana, memungut serpihan kenangan indah masa kecil bersama saudara kembarnya. Kemy. Takdir merenggut paksa sosok perempuan remaja yang duduk di samping Kemala dalam foto itu. Kehilangan kakaknya adalah salah satu momen terburuk dalam hidup Kemala.
Usai puas merayakan rindu dalam selembar foto lama, lengkung bibirnya memulangkan kembali pigura itu ke atas nakas. Sebelum menyiram sisa-sisa lelah yang lekat di tubuhnya, dalam satu panggilan Kemala mempersilakan kedua sahabatnya untuk datang.
“Halo,”
Suara Sandrinna terdengar di ujung telepon. Bising kendaraan dan angin malam menggantung di udara membelah jalanan. Satu tangannya bertengger di pundak Jena, berjaga-jaga agar ia tak jatuh dari tumpangan liar yang mendebarkan jantungnya. Ia berbicara dalam mode pengeras suara.
“Kalian jadi ke sini? Aku sudah di kos sekarang.”
“Ya, jadi. Kami sekarang lagi di jalan mau ke kos kau.”
“Apa kau menumpang dengan Jena?”
“Ya. Kau tahu, ibuku tak akan mengizinkanku bawa motor sendiri ke kosmu. Jaraknya terlalu jauh.”
Kemala tertawa kecil. “Ya, aku tahu. Baiklah. Kalian hati-hati di jalan.”
“Ya. Eh, tunggu. Kau ingin makan dan minum apa?”
“Kalian memangnya sudah beli? Aku juga bingung.”
“Belum. Ini kami mau ke kedai ayam dulu. Cepat katakan kau mau apa?”
“Aku juga sudah beli beberapa camilan. Hmm, kalau begitu aku mau soda kaleng saja.”
“Soda kaleng?” respons Sandrinna dan Jena kompak.
“Ya. Kenapa?”
“Tidak. Kau biasanya selalu menjaga pola asupanmu. Tumben sekali. Kau baik-baik saja?”
“Aku tidak apa-apa. Memangnya tidak boleh sesekali minum soda. Jangan khawatir.”
“Baiklah, baiklah. Kami belikan. Hei, nyawaku sekarang sedang di ujung gas motor. Sudah dulu, ya.”
Sandrinna berbonceng seraya sesekali menghalau angin yang mengacak rambutnya. Mengingatkan Jena juga untuk melaju dalam kecepatan sedang agar nyawanya tak terbang. Tak jauh dari indekos Kemala, ada kedai ayam popular yang kebetulan berdekatan dengan minimarket. Mereka singgah di sana untuk menukar kupon ayam dan belanja camilan lainnya.
🦘🦘🦘
Belasan menit berakhir. Deru klakson serta riuhnya pusat belanja bertukar dengan irama bel yang bertalu-talu; beradu dengan gemerisik kantong plastik berisi kudapan malam. Sandrinna dan Jena sedang menanti suara klik menyambut mereka. Begitu penghuni indekos merespons, sensor biometrik pintu digital membuka akses—mempersilakan sang tamu masuk.
“Kami datang..., Bu, Perawat.” Jena begitu semringah mengangkat plastik kresek setengah dada.