Selepas kejadian kemarin malam suasana rumah berubah canggung. Setiap sudut ruangan seperti zona merah yang menampung beban kubu dan sekutu. Sisa-sisa asap perdebatan masih tertinggal di dada dan kepala setiap anggota keluarga. Udara pagi terasa mengkristal seolah badai dahsyat baru saja mereda. Semuanya memilih pelit bersuara lantaran berjaga-jaga agar tak terjadi perang dunia kedua.
Mereka bertingkah kikuk layaknya robot yang bergerak mekanis. Benteng ego dan gengsi terbangun kokoh sejak argumen hebat antar keluarga semalam. Belum ada tanda-tanda perdamaian selain dari hening yang mencekam. Mulut siapa pun di rumah ini seperti kamus bahasa yang minim kosa kata. Mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing berusaha saling menghindari.
Fatimah, wanita tua ini masih setia menopang pipinya di atas bantal tanpa benar-benar tidur. Lingkar hitam di matanya bukti waktu istirahatnya telah disita beban pikiran. Isak tangis sang cucu yang berontak akibat aturan kuno yang ia terapkan di keluarga terngiang-ngiang di kepalanya. Rasa bersalah merajai hati nenek ini. Sedang Dewi tampak tak acuh atas apa yang telah terjadi. Ia sibuk bersolek mempercantik diri.
“Dewi,” lirih nenek Fatimah. Tubuh ringkihnya bangun dari tempat tidur.
“Ya, Bu?”
“Menurutmu, apa selama ini ibu sudah bersikap berlebihan pada Sandrinna?”
Dewi menepuk-nepuk pelembab di wajahnya. “Kenapa ibu menanyakan ini?”
“Aku tidak tahu kalau selama ini aku sudah menyulitkan cucuku. Perkataannya semalam membuatku sadar ... aku bukan nenek yang baik.”
“Tidak, Ibu. Jangan risaukan hal kemarin. Kau tahu, Sandrinna itu memiliki temperamen yang buruk.”
Hening mengambil peran sejenak. Nenek Fatimah mencerna ucapan putri sulungnya itu. Tak bisa dipungkiri, ia menyadari karakter Dewi mirip dengannya. Siapa pun pasti akan kesulitan menjadi cucu dan keponakan mereka.
“Dewi, ibu rasa kau juga sudah bersikap berlebihan pada Sandrinna. Mulai sekarang kau harus perbaiki sifatmu ini,” tegur nenek Fatimah menatap serius.
“Kenapa aku disalahkan? Aku hanya bicara yang sebenarnya. Dia ‘kan memang seperti itu.”
“Pokoknya kau harus ubah sifatmu itu. Jangan ikut-ikutan lagi mengurus kehidupan Sandrinna. Dia sudah cukup kesulitan selama ini karena kita.”
Dewi menyungut. “Baiklah, baiklah.”
“Dan lagi, mulailah kemasi barang-barang kita sekarang. Besok kita balik ke kampung.”
“Apa? Kenapa tiba-tiba sekali, Bu?”
“Ya, kita harus segera balik. Berlama-lama di sini akan membuat orang di rumah ini merasa tak nyaman dengan kita.” Nenek Fatimah berangsur mengemas pakaiannya.
Di kamar mandi, Sandrinna menyapu sisa kantuknya dengan air dingin yang mengalir jernih di keran wastafel. Sensasi segar seketika menjalar ke seluruh sel kulit wajahnya memberi hidrasi alami. Tangisan emosional semalam meninggalkan jejak sembap membuat ia terpaksa harus memakai masker mata untuk menyamarkannya. Menyusul serangkaian perawatan kulit yang menetes licin di pipi; meresap hingga ke dalam pori-pori. Segala kotoran luntur, wajahnya yang tadinya kusam kembali bersinar. Sandrinna sekarang tampil segar di hadapan cermin.
Denting piring dan sendok mulai mengisi atmosfer rumah. Bu Intan tetap menjalakan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga yang siap memanjakan lidah keluarga tercinta. Ia bergerak serius tanpa suara. Sementara suaminya, Pak Hendra, beliau sibuk memperbaiki barang-barang elektronik yang rusak. Penglihatannya yang senja membuat ia sesekali membetulkan posisi kaca matanya seraya bekerja.
Satu-satunya yang berhasil memecah ketegangan di rumah ini ialah Rafael. Langkah santainya terdengar dari koridor kamar menuju dapur. Dengan rambut kusut dan baju rumahan yang dikenakannya, ia menghampiri sumber aroma masakan.
“Wah... sarapan kita pagi ini ketoprak. Ibu tahu saja makanan kesukaan kami,” puji Rafael, menciptakan senyum tipis di bibir sang ibu saat menata hidangan.