Lepas dari hubungan beracun tidak menjanjikan hidup Jena putus dari rantai masalah. Masih ada beban lain yang dipikulnya dan sangat ingin ia hapus dari takdirnya. Di sebelah kipas angin tua nan bergerak syahdu, Jena duduk mengalkulasi tanggungan hidupnya pada catatan usang dan bantuan kalkulator ponsel. Gajinya bulan ke bulan hanya seperti tamu yang datang sebentar di rekening konvensional. Terkuras pengeluaran bulanan yang mahal lagi kejam. Biaya harian dirinya yang tak terduga, uang kuliah Junior dan hutang cicilan rumah.
Sebagai anak tengah, Jena bak roti lapis yang terjepit di antara tanggung jawab finansial dan emosional bagi 3 generasi dalam keluarganya. Ia dana darurat sekaligus penyelamat saat keuangan di rumah tengah sekarat. Sering kali pula mengalah pada hal-hal yang tidak seharusnya ia lakukan demi kepuasan hati salah satu anggota keluarga.
Tabungan masa depannya kian menipis akibat sering dipinjam sang ibu dengan dalih untuk membayar cicilan rumah dan belanja dapur. Seakan dirinya saja yang harus bertanggung jawab atas keluarga. Sungguh tidak adil bagi Jena.
Pena ditangannya menggores kasar di atas kertas seolah mengejek nasibnya yang belum mapan. Memang sialan. Gaji pas-pasan, kebutuhan melebihi sultan. Sesekali jarinya menghitung manual, menerka-nerka jumlah rupiah yang sudah ia kumpulkan dan habiskan. Putus dari Leo membuatnya harus kembali lagi pada kenyataan. Setidaknya mantan kekasihnya itu pria yang royal. Ia dengan senang hati memenuhi kebutuhan Jena sewaktu pacaran. Namun sekarang sudah berbeda, mereka tidak lagi bersama. Jena kini dituntut keadaan harus pandai-pandai mengendalikan keuangan. Ia mencoret kolom pertama: tabungan menikah. Impian ini sementara ia hilangkan dari daftar persiapan masa depan. Di kolom kedua bertuliskan ‘uang semester Junior’, membacanya langsung menambah hawa gerah di tubuh Jena. Pikirannya kusut menghadapi ini. Ia kesal adiknya menjadi sesepuh kampus yang entah kapan akan wisuda. Kopi hitam membasahi mulutnya sebelum kemudian tangannya mengentak cangkir dengan emosi. Semua jerat inflasi tadi ia tinggalkan di meja begitu saja.
“Hei, sedang apa kau?” sentak Jena. Ia masuk ke kamar Junior dengan napas yang memburu. “Oh, bermain gim. Sudah kuduga.”
“Ada apa?”
“Sampai kapan kau akan menjadi donatur kampus?”
“Apa maksudmu?”
“Kapan kau akan menyelesaikan kuliahmu? Aku tak pernah melihatmu mengerjakan skripsi selain dari memainkan hal yang tak penting ini.” Jena merampas ponsel dari tangan Junior.
“Berikan ponselku. Kenapa kau ini?”
“Kau itu sudah semester 10. Kenapa masih saja bermalas-malasan? Apa kau tidak berniat untuk wisuda?”
Junior berkilah. “Aku sudah berusaha. Aku sudah mengajukan proposal dengan dosen pembimbingku.”
“Lalu?”
“Apa?”
“Bagaimana dengan kelanjutan proposalmu itu?”
Mahasiswa teknik itu sekarang kebingungan untuk menjawab. Ekspresinya terlihat mendongkol.