Kabur Aja Dulu

Nadya Suhendra
Chapter #14

Skenario Tuhan

Sinar madu berpendar menerangi sejumlah dokumen medis di meja. Ruang pribadi itu sepi, terkunci pikiran sang raja yang sedari tadi melanglang buana. Napas segar pendingin ruangan serta ketukan pena di ujung jari yang monoton, melantun pelan menjadi penyumbang suara. Dokter Andre terpaku di atas kursi putar yang didudukinya. Ia sekarang terlihat seperti peserta olimpiade matematika, setengah mati mencari jawaban di dalam kepala.

Tempo hari lalu, telinganya tanpa sengaja meraba diam obrolan Kemala dan ibunya di kantin rumah sakit. Soal niat gadis itu yang tak ingin menikah dan menyalahkan ibunya atas kejadian di masa lalu, masih menjadi teka-teki yang sulit Andre pecahkan. Kemala—perawat yang diam-diam ia simpan di jantung hatinya, suaranya saat itu gemetar bersembunyi di balik kondisi jiwanya yang rapuh. Batinnya bagai diterpa badai hingga porak-poranda. Malang orang tersayang.

Galau mengakar melilit pria kepala tiga ini. Bukan sekadar kritis karena cinta, nalarnya pun tersiksa menebak trauma yang dialami sang pujaan hati. Andre mendesah lelah, mencubit batang hidungnya seraya merunduk. Menyandang gelar dokter spealisasi ia terbiasa melakukan bedah anatomi. Namun, wanita idamannya itu justru berjuang melawan penyakit psikologi. Andre sangat berharap dirinya bisa menjadi penawar luka untuk Kemala. Perlahan ia harus menemukan caranya. Ketukan ritmis dari luar menyentak kecil khayalan Andre.

“Masuk!”

Tuas pintu terbuka mekanis memunculkan Kemala bersama pria lanjut usia.

“Dokter, hari ini jadwal kontrol Pak Brahim.”

“Oh, ya. Silakan duduk!”

“Terima kasih, Dok!” ucap pasien.

Selagi Kemala mendampingi Andre melakukan konsultasi medis dengan pasiennya, sosok pria jangkung berkulit kuning langsat tengah mencarinya di bagian resepsionis.

“Perawat Kemala sedang menemani pasien ke ruang dokter,” beri tahu staf resepsionis. “Apa Anda sudah buat janji sebelumnya?”

“Tolong sampaikan padanya, saya Arhan. Putra dari teman ibunya. Katakan saya sedang menunggunya di sini.”

“Baiklah, tunggu sebentar. Saya akan menghubunginya.”

“Terima kasih,” tutur Arhan tersenyum.

Dokter Andre hampir selesai dengan sesi konsultasinya. Netra hangatnya fokus mengedukasi pasien pengidap sakit jantung itu. Jelas sekali ia pria yang amat mencintai profesinya dan bekerja penuh ketulusan.

“Baiklah. Segitu saja. Ada yang mau ditanyakan, Pak?”

“Eh, begini, Dok. Apa saya boleh berolahraga?”

“Boleh. Tapi olahraga ringan saja. Lalu, pastikan juga untuk rutin minum obat yang sudah diberikan.”

“Baik, Dokter.”

“Ya,” kata Andre. Ia lanjut menulis resep obat baru untuk pasien tersebut.

Di sebelah Andre, Kemala berdiri profesional memeluk papan catatan medis. Dering ponsel di saku bajunya tiba-tiba menginterupsi. Ia gelagapan ingin menolak panggilan telepon tersebut.

“Angkat saja,” suruh Andre. “Siapa tahu penting.”

“Baik, Dok.”

Kemala mengangkat telepon, berbicara dengan seorang staf resepsionis.

“Halo. Kenapa?”

“Maaf mengganggu, Perawat Kem.”

“Tak apa. Cepat katakan!”

“Ada seorang yang ingin bertemu denganmu. Dia sedang di bagian resepsionis sekarang.”

“Siapa?”

“Dia bilang namanya Arhan.”

Lihat selengkapnya