Masa hiatus yang sempat Sandrinna nikmati, kini berubah jadi pergulatan batin yang menyiksa diri. Rupiah di dompet mulai menuntutmya harus kembali berpetualang mencari kerja.
Bulan pertama, zona nyaman mulai terasa tak aman. Sebulan sudah Sandrinna menganggur tanpa penghasilan. Berbagai adegan dewasa dalam hidupnya mulai ditampilkan. Menghemat pemakaian perawatan kulit, mengisi botol sampo dengan air, hingga menggunting kemasan tabir surya. Bahkan beberapa daftar keinginannya tertahan untuk diwujudkan. Kemiskinan benar-benar sedang menempelnya.
Bulan kedua, optimisme muncul menghantam kemalasan. Langkah pertama dimulai dengan memoles riwayat hidup di depan laptop. Ditemani secangkir teh hijau hangat, Sandrinna lanjut mencari informasi lowongan kerja di aplikasi karier dan media sosial. Berjam-jam berselancar—menilik pekerjaan sesuai minat dan jurusan, namun belum juga ia temukan. Ia tak menyerah.
Bulan ketiga, beberapa informasi lowongan yang dirasa cocok, akhirnya mendorong Sandrinna untuk menulis surat lamaran kerja sebagus mungkin. Belasan surel meluncur setiap harinya ke berbagai perusahaan di dalam kota. Bagai menerbangkan layang-layang ke antariksa, harapan Sandrinna membubung tinggi untuk mendapatkan panggilan wawancara. Menyedihkannya, tak satupun dari kotak keluar itu mengirimkan umpan balik.
Bulan keempat, undangan wawancara mulai meramaikan ponselnya. Membuka kesempatan baru untuk memamerkan kemampuannya melalui tatap muka. Setiap jengkal tapak kakinya ia iringi dengan doa sedari rumah sampai duduk di kursi tanya jawab.
“Seandainya Anda diterima kerja di sini, bagaimana nantinya Anda akan mengenalkan kafe ini ke khalayak?”
“Sebagai lulusan komunikasi yang memiliki bekal tentang media dan pemasaran, saya termasuk orang yang kreatif dan paham caranya mencapai target,” jawabnya penuh percaya diri. “Di era serba digital ini semuanya tak lepas dari isitilah tren. Maka, tugas saya adalah menciptakan konten-konten unik yang mengandung unsur kekinian.”
Rekruter mengangguk menelaah berkas Sandrinna. Kemudian menyusul pertanyaan terakhir.
“Kenapa pengalaman kerja Anda sedikit dan tidak pernah bertahan sampai setahun?”
Mendadak Sandrinna tegang melontarkan kalimat tak beraturan. Seperti sudah susah payah menghafal materi sebelum ujian, tapi soal yang keluar justru di luar pemahaman. Ia menjadi buyar. Belum selesai bicara, dirinya dijeda di tengah usaha merangkai untaian kata.
“Baiklah. Saya rasa cukup, Nona. Anda sudah menjawabnya dengan baik.” Rekruter menutup pelan berkas Sandrinna. “Untuk informasi selanjutnya akan saya kabari lagi.” Sepenggal kalimat klasik dikemas dengan janji manis menutup peluang karier.
Bulan kelima, putus asa mengoyak sebagian rasa percaya diri dan semangat. Sandrinna mulai mempertanyakan kemampuan yang semula ia banggakan lewat llisan maupun tulisan. Ambisi gugur dibunuh kebisingan jiwa. Memicu gangguan mental dan kelelahan fisik yang tak wajar. Sanndrinna mulai menghadapi fase depresi dalam dirinya. Ia cenderung mengurung diri di rumah, mengurangi interaksi sosial demi menjaga kewarasan yang hampir punah.
Di situasi lain, roda kehidupan sahabatnya masih berputar seperti biasa. Jena dan Kemala sibuk menggeluti profesi mereka setiap harinya. Menerima gaji pas-pasan setiap bulan. Masalah berbeda justru menjadi ujian mereka berdua.
Transaksi Sedang Diproses, Mohon Tunggu. Silakan Ambil Duit Anda!
Uang tunai senilai Rp 1.800.000 terjun dari mesim ATM. Upah Jena sebagai barista junior kesian kalinya, siap menjadi penyelamat hidupnya sebulan ke depan. Ia meninggalkan bilik kaca dingin membawa lembaran renyah di dompet. Secercah senyum bahagia menemani jalan pulangnya.
Sial, euforia setelah gajian tadi rupanya berlangsung singkat. Separuh hasil keringat Jena raib setibanya ia di rumah. Ibunya balik menghampiri ke kamar mengucap alasan klise seperti biasa.
“Jena, Ibu boleh tidak minta uang tambahan?”
“Tambahan, Bu? Memangnya uang yang aku kasih tadi kurang?”
“Eh, tidak. Bukan begitu. Uang tadi lebih dari cukup.” Ibunya memasang ekpresi kasian. “Sebenarnya ... ini masalah hutang rumah kita. Uangnya masih kurang untuk angsuran bulan ini ke bank.”
Jena tertegun menelan kecewa. “Bu, aku sudah sering bantu bayar angsuran rumah. Aku mengerti ayah sedang menganggur. Tapi, kakak ‘kan juga bekerja. Gaji dia lebih besar dariku. Tidak bisakah sesekali Ibu minta uangnya juga?”
“Kakakmu sudah kepala tiga. Dia pasti sedang susah payah menabung biaya pernikahannya sekarang.”
“Jadi, Ibu pikir aku tidak punya biaya kebutuhan?”