Negara gonjang-ganjing, merah putih berdiri sakral setengah tiang. Demokrasi dan kesejahteraan sosial mati dijajah para penguasa lapar. Drama konstan tanah air seakan mempermainkan nasionalisme anak bangsa habis-habisan. Seperti kecelakaan beruntun yang menelan banyak korban, isu dan problematik ibu pertiwi telah menyiksa mayoritas pribumi. Krisis ekonomi, kasus korupsi, anomali bencana alam, hingga konflik politik dan sosial menjadi momok menakutkan bagi Indonesia di masa depan. Persetan dengan iming-iming partai politik, selepas merayakan kemenangan, rakyat mereka anggap habis manis sepah dibuang.
Sandrinna, Kemala dan Jena generasi bangsa yang dipaksa sehat di negara yang sekarat. Mereka berdiri di kaki sendiri—meniti puncak karier tanpa uluran tangan negara. Sepanjang tahun tahun 2025 masalah hilir mudik menyerang tanpa segan. Semesta menyuguhkan asam dan garam ke hidup mereka sesukanya. Ibarat bianglala yang sebentar-sebentar berhenti, lalu berkitar lagi.
Ini bukan pertama kalinya Kemala dimaki-maki keluarga pasien, mentalnya sudah kebal menghadapi hal ini. Cara ia mengatasi setiap masalah selalu sama. Tenang.
“Permisi, Bu Perawat.” Seorang ibu menghampiri Kemala di ruang jaga.
“Ya, Bu. Kenapa?”
“Apa anak saya boleh makan dan minum sedikit saja? Dia merasa lapar dan haus sekarang.”
“Tidak boleh, Bu. Pasien harus puasa sebelum operasi. Jika tidak, akan berakibat fatal nantinya. Kecuali Ibu mau jadwal operasi anaknya diundur.”
“Apa? Diundur?”
Ibu itu bersedekap angkuh menumpahkan emosinya dengan lantam. Urat lehernya menegang, menuding Kemala lewat kalimatnya yang pedas. Di matanya Kemala hanyalah seorang perawat biasa yang ilmunya tak setara dengan dokter. Ia merasa anaknya sedang diabaikan. Stasiun perawat berubah gaduh karenanya. Kemala tak melawan, di belakangnya ada dr. Andre menyimak dedikasinya sedang direndahkan.
“Berani sekali Anda mengatur ulang jadwal operasi anak saya. Cepat tanyakan dokternya sekarang. Dia yang lebih tahu daripada perawat sepertimu.”
“Ibu, ini sudah sesuai arahan dokter dan prosedur medis. Dokter Andre dia—”
“Panggil dokternya sekarang!” bentak si ibu.
“Ada apa ini?” Suara penuh wibawa memecah selisih panas.
Andre pasang badan untuk Kemala. Bukan sekadar cinta, tapi atas nama kemanusiaan dan peduli pada sesama rekan kerja. Netra Kemala terkunci pada satria tegap di sampingnya. Riak paras Andre tegas pun sikapnya profesional. Dokter rupawan itu mengupas ilmu sainsnya di depan publik amat santun. Ia memaparkan, anjuran puasa bagi pasien pra operasi itu wajib. Ini dilakukan agar tidak terjadinya pneumonia aspirasi (infeksi paru-paru) yang berisiko untuk keselamatan pasien. Kerennya lagi, ia mampu membuat si ibu tadi merasa bersalah berkat kalimat pamungkasnya.
“Dan juga, Ibu. Saya ingin Anda minta maaf dengan perawat ini,” pinta Andre. Ia menggeser Kemala penuh kasih ke sisinya. Semua wanita yang menyaksikan adegan romansa itu merasa iri dibuatnya. “Perawat Kemala namanya. Dia yang sudah merawat anak Ibu bersama tim perawat lainnya. Dokter dan perawat di rumah sakit ini saling bekerja sama untuk menyelamatkan pasien. Tidak ada yang namanya ‘lebih tahu atau lebih hebat’. Semuanya sama. Sama-sama berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan pasien.”
Sebuah tamparan keras yang berhasil menyadarkan si ibu. Ia membungkuk, memohon maaf pada Kemala.
“Maafkan saya, Bu Perawat. Saya sudah bersikap kasar pada Anda tadi. Saya benar-benar menyesal.”
Kemala mengangkat bahu ibu itu pelan. “Tidak apa-apa, Ibu. Saya mengerti kecemasan yang sedang Anda rasakan.”
Usai berdamai, ibu dari pasien kardiak sarkoma itu meninggalkan stasiun perawat.
“Kau baik-baik saja?”
“Ya, Dokter. Terima kasih.”
“Sama-sama.”