Kabur Aja Dulu

Nadya Suhendra
Chapter #17

Kabur Aja Dulu

“Ternyata masalahmu lebih berat dari masalahku.” Sepasang tangan Sandrinna berpangku di lututnya menaruh simpati pada Jena.

“Tak apa-apa. Kau akan baik-baik saja setelah ini.” Kemala menepuk-nepuk punggung Jena membiarkannya menangis sesenggukan.

“Terima kasih kalian sudah mau mendengarkanku.” Jena menyapu lesu air matanya. “Maaf, aku jadi banyak megeluh di depan kalian.”

“Tak masalah. Memang sudah seharusnya kita saling bersandar sebagai sahabat. Tapi, jujur saja kau tampak jelek saat menangis,” kelakar Sandrinna. “Apa kau mau kupakaikan masker mata?”

“Ais... sialan kau ini.”

“Oh, kau mengumpat padaku. Itu berarti kesedihanmu sudah berkurang sekarang. Bagus!”

Kemala gelak seraya menguncir rambutnya.

Jena mendengus, bersuara dalam keadaan parau. “Aku tak mau dipakaikan masker mata.”

“Jadi kau mau apa? Makan? Bagaimana kalau kita makan mi instan saja?” ajak Kemala.

“Bagus sekali! Aku setuju. Kau ada sedia mi di kos?”

“Ya, ada.”

“Baiklah. Biar aku yang masak,” tawar Sandrinna.

“Masak yang enak. Awas kalau sampai tidak enak.”

“Ya..., Nona Jena. Siap! Saya laksanakan!”

Suasana emosional bermutasi ke ruang lega yang mengahadirkan canda dan tawa. Kompor mini portable menyala mekanis menjulurkan pijarnya. Sandrinna lanjut menumis irisan daun bawang, tomat dan jamur. Sang juru masak mengaduk mi kuah kaldu ayam seraya mengatur rencana. Ia berkicau mengenai putaran akhir kualifikasi piala dunia 2026 zona Asia. Besok malam Indonesia akan tanding melawan Irak. Laga yang sudah dinanti-nanti banyak anak bangsa, menjadi penentu Tim Nasional Indonesia untuk tampil di panggung dunia.

Ajakan Sandrinna nonton bola kali ini disahut antusias tanpa penolakan yang disertai alasan-alasan klasik. Ia berhasil membuat sahabatnya terpikat pada dunia sepak bola. Tak perlu usaha keras lagi membujuk mereka untuk pergi, Kemala dan Jena langsung sepakat mau ikut. Gelora mengudara bersama kepulan asap di atas panci aluminium, lembaran mi perlahan melunak siap disantap. Suapan pertama dihadiahkan untuk Jena si cengeng. Ketiganya berbagi mi dalam panci yang sama sembari memprediksi hasil skor pertandingan besok. Pesta pora hidangan malam sederhana ini ditutup dengan instrumen tenang yang mengundang rasa kantuk. 3 jam setelahnya lampu kamar indekos berhenti beroperasi.

Minggu, 12 Oktober 2025

“Kalian sudah siap?”

“Siap!” seru Sandrina dan Jena

“Baiklah. Ayo, berangkat!”

Kemala mencengekeram setir menuju tongkrongan. Mobil matiknya segera beralih fungsi jadi ruang konser mini yang memutar lagu piala dunia dari masa ke masa. Ide siapa lagi kalau bukan Sandrinna suporter fanatik sepak bola. Suara mesin mobil mengaum melintasi padatnya jalan raya, jendelanya dibiarkan tersingkap agar nyanyian mereka terdengar oleh pengendara lainnya. Lirik lagu berbahasa Spanyol dan Inggris, hingga tarian bebas di kursi masing-masing memeriahkan perjalanan mereka.

Jiwa-jiwa muda itu sampai di kafe mebawa sejuta harap penuh optimisme, memesan mie goreng dan bandrek jahe. Tak ketinggalan pula membeli air mineral bergambarkan idola mereka.

Sandrinna meraih botol minuman di kulkas. “Aku beli ini, yang ada foto Ole Romeny nya.”

“Hei. Tolong bantu aku cari yang ada foto Rafael Struick,” ujar Jena. Ia menggeledah sampai ke barisan belakang kulkas.

Lihat selengkapnya