“Eropa?”
“Eh, tidak mugkin. Yang benar saja kau. Itu terlalu jauh,” lugas Jena seraya menumpahkan remahan kerupuk ke mangkuk.
“Jangan Eropa, di sana ada salju. Aku tidak sanggup dengan cuaca dingin,” respons Kemala.
“Tampaknya kalian berdua sangat serius ingin kabur.”
“Memangnya kau tidak, Jen? Kau betah hidup di sini dengan setumpuk masalah?” tanya Sandrinna. “Korupsi, inflasi, piala dunia gagal, lapangan pekerjaan yang dijanjikan ... mana? Selain itu, gaji di negara ini kecil. Bahkan untuk lulusan universitas tak sebanding dengan biaya kuliah yang sudah dikeluarkan.”
“Ya, benar,” ujar Kemala mengangguk.
Jena tertegun tersedak kenyataan. Retorika logis menyadarkannya akan fakta yang tak dapat disangkal. Detik itu juga ia berubah pikiran.
“Iya juga ya. Jadi, bagusnya kita kabur ke mana?”
Sandrinna menjetik jarinya. “Oh, ya. Aku ingat sekarang. CV pria itu ... Arhan.”
Ide konyol Sandrinna ini sekarang menuai protes di antara sohibnya. Meja kedai seketika beralih jadi panggung sengit idealisme. Kemala enggan menghubungi Arhan untuk menjadi pembuka jalan mereka ke Australia. Begitu pula Jena, ia tak mau melibatkan orang asing ke dalam rencana hidupnya. Gemertak rasionalitas pun beradu dengan ego yang membara. Namun menurut Sandrinna, ini satu-satunya cara agar mereka bisa melihat dunia baru. Rencana masa depan itu menggelayut kokoh di netra kopinya.
Sandrinna tak gentar. Ambisi pagi ini mengalahkan panasnya kuah soto di dalam mangkuk, membakar ketakutan masa depan yang semula tampak suram di kaca mata kehidupan. Ia menghela napas tipis, merapikan benang argumentasi secara logis penuh taktis. Menurutnya, menapaki negara asing untuk pertama kalinya tidaklah mudah. Butuh persiapan matang sebelum terbang ke sana. Alangkah baiknya membangun relasi dengan seseorang yang tahu syaratnya kerja dan tinggal di sana. Diskusi terus mengalir merobohkan bendungan perbedaan di antara mereka. Pelan-pelan keraguan di hati Kemala dan Jena memudar. Retakan visi akhirnya berhasil menyatu dalam kesepakatan bulat.
“Kalian bilang Eropa terlalu jauh dan tidak sanggup tinggal di negera bersalju,” jelasnya dengan sabar. “Karena itu aku rasa Australia pilihan yang tepat. Negara ini dekat dari Indonesia dan tidak semua wilayahnya memiliki salju.”
Di hadapan Sandrinna, dua kawannya itu merenung tertampar kebenaran mutlak. Rasa gengsi mereka kalah telak dengan realitas.
Jena melepas sendok di tangannya. “Perkataanmu masuk akal. Baiklah, aku sekarang setuju.”
“Oke, bagus! Kalau kau bagaimana, Kemala?” toleh Sandrinna gesit.
“Aku sependapat. Tak ada salahnya kita memulai hal baru,” ucap Kemala. “Nanti aku akan coba menghubungi Arhan itu.”
Negara yang ingin mereka tuju resmi diketuk palu. Berhubung Kemala akan pergi kerja; Jena harus mengantar Sandrinna pulang sebelum sif siang, pembahasan ini bersambung lewat pesan suara. Mereka meninggalkan kedai sarapan melewati arah jalan yang berbeda. Rajutan asa dadakan ini membuka tantangan baru dalam hidup Sandrinna dan kawan-kawan.
Setiba di rumah sakit, Kemala mulai memikirkan kapan dirinya harus menghubungi Arhan dan menimbang keputusan untuk berhenti kerja. Sementara Jena lebih khawatir pada persiapan finansial sebelum berangkat ke negara Kanguru. Di demensi lain, si pencetus ide gila harus meminta izin orang tuanya terlebih dahulu. Entahlah ia akan berani mengatakannya atau tidak.
Satu malam menginap di kos Kemala, Sandrinna pulang membawa energi kekalahan tim sepak bola kebanggaannya. Bahunya jatuh menggendong beban patah hati dunia olahraga. Mukanya ditekuk menaruh sandal kodok di atas rak. Rafael yang melihatnya mengambil kesempatan untuk bersikap usil.
“Kau kenapa?” Ia bertanya seraya memakai sepatu kerja. “Abang-abang timnasmu kalah?”gelaknya.
“Jangan pancing emosiku. Suasana hatiku sedang tidak baik sekarang.”
“Sudahku bilang, kalau tidak ingin kecewa jangan ditonton.”
“Sekali lagi kuperingati, aku sedang tak ingin bercanda sekarang,” tukas Sandrinna. Langkah gontainya menuntun ia ke sofa ruang tengah.
Rafael tegak usai mengunci simpul sepatunya. “King Indo lolos pildun? Mana pernah, mimpi kali,” ejeknya.
“Woi,” hardiknya. Sandrinna balik badan menjambak adiknya itu. “Mimpi katamu? Sialan. Jangan pernah kau menghina tim kebanggaanku lagi.”
Rafael menjambak balik. “Aku bicara fakta. Kau harus bisa terima kenyataan. Lepaskan aku. Kau merusak tatanan rambutku,” dorongnya. Ia buru-buru kabur dari rumah.
Sandrinna mengejar Rafael sampai pagar depan. “Awas kau, ya. Akan kubalas saat kau pulang.”
“Silakan saja,” sahutnya berlari mundur seraya melet.
Di hunian lain, berjarak ratusan meter dari rumah Sandrinna, kontras kepulangan Jena sangat terasa. Gemuruh di dadanya masih melanda selepas diterjang prahara keluarga. Begitu sampai rumah, kejadian buruk semalam terus berputar diingatannya seperti kincir angin yang memompa trauma. Tempat tinggal ini lambat laun seperti neraka jiwa yang mengazabnya. Ia dibakar hangus api kebencian. Lahir tanpa izin di keluarga yang tak bisa dipilih, menjadi rasa sesal Jena pada Tuhan.
Daun pintu depan berderit gusar. Tungkainya yang seberat timah ia seret paksa ke dalam kubus semen yang membatasi dirinya dari dunia luar. Jena menurunkan tas di bahunya ke kepalan, membiarkan keasingan menyambutnya pasca pertengkaran. Lengang mencekam atmosfer rumah. Junior molor di kasurnya; Laura kakaknya sudah duluan berangkat kerja. Ironisnya, ibu dan ayahnya tengah bincang santai menyesap teh hangat di depan televisi.
Secepat itu ternyata kalian berbaikan.
Satu hal yang kini Jena mengerti, tak peduli seorang anak benar atau salah, saat ia berusaha membela salah satu dari orang tuanya, pada akhirnya mereka hanya akan memilih pasangannya.
Bu Wulan mendapati Jena mematung di ambang pintu. “Oh, Jena. Kau sudah pulang?”
“Hm,” sahutnya dongkol. Semuak itu ia kini dengan keluarga.
Diiringi tatapan sinis, Jena menuju bilik peristirahatannya. Sejenak ia tediam di tepi kasur. Tangannya kemudian menggeladah sebuah kotak kayu merah muda di lemari pakaian. Ada harta karun berharga terkubur di dalamnya. Kalung dan gelang emas yang dibelinya dengan gaji selama bertahun, ia sembunyikan diam-diam untuk investasi jangka panjang. Usai meraba kilau emas itu penuh cinta, Jena meraih gawainya berdialog lewat maya.
Hei, Sandrinna. Seandainya kita jadi kabur ke Australia, bagaimana aku dan Kemala akan berkomunikasi di sana? Kami ‘kan tidak bisa Bahasa Inggris.