“Paket!”
“Ya, sebentar!” sahut Jena antusias.
Seorang kurir muda berdiri di depan rumahnya mengantar pesanan online yang ia beli minggu lalu.
“Atas nama Jena Monica?”
“Ya, benar, Mas.”
Pria itu menyerahkan benda di tangannya. “Ini paketnya ya, Kak.
“Oh, ya.” Jena mengambil alih beban tukang paket.
“Silakan tanda tangan penerimanya di sini, Kak.”
“Ini, sudah,” serahnya. “Terima kasih, Mas.”
“Sama-sama, Kak. Permisi!”
Kardus cokelat yang semula direkat selotip bening langsung dirobek. Segel pelindung kemasan Jena lepas, aroma khas buku baru merebak ke sistem olfaksinya. Seisi kamar seakan bersorak gembira merayakan penghargaan diri.
Di dalam kotak ekonomis itu, berisi 3 edisi buku Bahasa Inggris bagi pemula. Jena sungguh serius ingin belajar. Sesaat ia membuka jendela dunia yang ada di hadapannya. Aturan struktural bahasa, kata kerja, kata sifat sampai kata benda, semuanya terangkum lengkap dalam ketiga buku yang ia beli.
Satu ketukan jepret di gawainya mengabadikan buku-buku yang baru saja Jena baca. Foto pribadi ini segera ia kirim ke grup obrolan bersama sahabatnya. Setengah dari misinya untuk ke Australia terlaksanakan.
Wah... Aku tak menyangka, kau bahkan sampai membeli buku-buku ini untuk belajar. Sungguh terniat. Mantap!
Jena dan Kemala sudah selangkah menyiapkan keperluan mereka. Tapi Sandrinna, si pemilik ide ini masih belum juga bergerak menjalankan misinya. Kendala finansial bukan menjadi masalah utama baginya, melainkan restu kedua orang tua. Ibu dan ayahnya pribadi yang ketat juga protektif. Ya... hampir sama sebenarnya seperti orang tua Kemala. Hanya saja orang tua Sandrinna AMAT ketat.
Hahah... Aku sudah tidak sabaran ingin belajar kelompok dengan kalian. Bagaimana progres kalian sejauh ini?
Sandrinna terpaksa jujur soal kemajuannya yang masih berada di garis nol. Seraya menggigit kuku tangannya, ia memikirkan kalimat yang pas untuk diketik.
Aku belum bilang soal rencana ini ke orang tuaku. Bagaimana ini? Aku takut untuk mengatakannya pada mereka.
Di stasiun perawat nan kondusif, Kemala meregangkan punggungnya selepas menyelami lautan internet. Si paling terniat ini mencari informasi seputar “Working Holiday Visa” dan cara melamar jadi perawat di Australia. Perlahan, pendar putih layar laptop tergantikan dengan layar gawai sentuh di genggamannya.
Kerja kelompok? Hahah... bahasamu seperti anak sekolahan saja. Oh, ya. Aku rencananya hari ini ingin menghubungi Arhan.
Kemala merapatkan laptopnya. Sebotol air mineral di meja kerja membasahi tenggorokannya sebelum lanjut mengirim pesan lain.
San, kau itu sudah dewasa. Kau berhak menentukan jalan hidupmu sendiri selagi itu baik. Kau harus berani. Coba katakan saja dulu pada orang tuamu. Kalau memang tidak berhasil, baru aku dan Jena akan bantu mengatakannya pada ibumu.
Sesuai saran Kemala, Sandrinna memberanikan diri untuk berdiskusi dengan orang tuanya di waktu akhir pekan. Saat momen makan malam bersama keluarga, bibir kelunya bersuara tentang rencana masa depan yang sudah dibuatnya bersama para sahabat.
Pengakuan agendanya ini mengundang kecemasan semua anggota keluarga. Ayah dan ibunya sangat menentang keputusan Sandrinna yang mereka anggap hanya modal nekat saja. Sementara Rafael menyebut kakaknya gila. Tak ada satupun yang berpihak padanya.
Melihat reaksi mereka yang berlebihan seperti tentara otoriter, Sandrinna merasa impiannya sedang dieksekusi mati tanpa keadilan. Ia bagai kupu-kupu yang dipatahkan sayapnya saat ingin terbang ke tempat indah. Asanya sedari kecil memang sering dipasung, dikunci dalam sangkar norma orang tua.
“Pokoknya Ibu tidak akan mengizinkanmu pergi.”
“Kalau Ayah?” Sandrinna menoleh dingin.
“Ayah juga sama,” tegas Pak Hendra. “Kenapa kau tidak coba lagi saja daftar PNS. Sebentar lagi akan ada pembukaan CPNS. Siapa tahu kali ini rezekimu.”
“Iya, benar. Ibu setuju dengan yang dikatakan Ayahmu.”
“Apa?” lirih Sandrinna. Ia nyaris kehilangan kata-kata.