Kabur ke Rumah Paman Seto

Paman Bulan
Chapter #2

Puisi dan Sepeda

"Akhirnya duduk juga, Dis," ucap Seto pada Yudis, bocah tetangga yang biasa membantunya ketika kedai sedang ramai.

Masih belum belum pukul sembilan, masih belum waktunya tutup, tapi stok mi sudah habis.

Mangkuk dan gelas dari para pembeli yang baru saja pergi masih bergeletak di meja, belum mau mereka bereskan.

Tak lama setelah mereka duduk, sebuah motor masuk ke halaman kedai. Seorang yang membonceng turun. Sebelum mesin motor sempat dimatikan, Yudis segera berteriak kalau mi-nya sudah habis. Seorang yang tadi turun kembali naik, dan motor pun segera berbalik meninggalkan kedai. 

Malam Minggu memang selalu ramai dan sering bikin mi cepat habis, apalagi malam ini adalah malam dimulainya musim liburan anak-anak sekolah. 

Seto berdiri, "Kita beres-beres, Dis?"

Yudis berdiri, "Gass!"

Seperti anak sekolah yang senang ketika bel pulang berbunyi, Seto dan Yudis selalu senang ketika tiba waktu untuk beres-beres dan menutup kedai. 

Yudis akan membereskan meja dan kursi, mengangkat mangkuk dan gelas ke bak wastafel. Seto akan mengurus bagian dapur, merapikan dan membersihkan alat-alat masak, lalu mulai mencuci apa saja yang kotor sebelum akhirnya Yudis menyusulnya dan membilas apa saja yang telah dicuci Seto.

Suara sendok beradu dengan gelas, gelas dengan mangkuk, mangkuk dengan mangkuk; suara kursi digeser, suara semprotan pembersih, dan suara radio bersatu padu mengisi acara beberes mereka. Angin berhembus dari sawah di belakang kedai, dan di jalan depan deru kendaraan tak putus-putusnya terdengar.

"Enak ya kalau cepet habis gini, Lek?" ucap Yudis yang sudah mulai membilas di sebelah Seto.

Seto tertawa tipis.

"Jujur, aku lebih suka tutup ketika memang waktunya tutup."

"Kenapa begitu?"

"Kalau ramai kita harus gerak terus. Gak enak karena gak ada jeda buat istirahat. Lebih enak kalau gak ramai, tapi juga gak sepi. Pelan-pelan asal jalan terus."

Yudis yang kini tertawa tipis.

"Bilang aja faktor usia, Lek. Alon-alon waton kelakon kan? Mbah Pi juga sering bilang gitu."

Seto terkekeh karena merasa disamakan dengan nenek-nenek.

"Kita kan tinggal di desa, Dis, kenapa harus buru-buru kayak orang kota? Sans duls gak sih?" ucap Seto berusaha sedikit menggunakan bahasa anak muda.

"Tapi, kan, kalau tutup lebih cepet, waktu buat istirahat jadi lebih banyak. Malam Minggu begini, apa dirimu gak ingin bersantai, Lek? Jalan-jalan, atau pacaran, mungkin?"

Seto tidak langsung menjawab.

Di wastafel tinggal sendok-sendok dan garpu-garpu. Seto menyelesaikannya dan mencuci tangannya. Ia mengambil teko elektrik, mengisinya dengan air, dan menyalakannya. 

Yudis yang tidak segera mendapat jawaban, bertanya lagi.

"Jadi, bener yang dikatakan orang-orang, Lek? Aku sih mendukungmu untuk tidak menikah. Tapi, pacaran kan beda sama menikah, Lek."

Seto tidak pernah menjelaskan dirinya kepada siapa pun. Namun, kepada Yudis, bocah yang ditinggalkan kedua orang tuanya dan harus tumbuh diasuh dan mengasuh neneknya, barangkali ia bisa sedikit berbagi.

"Nanti, deh, kutunjukin puisi yang seru dan lucu, yang bisa menjawab pertanyaanmu itu."

"Yaah, puisi lagi! Gak dulu, Lek," ucap Yudis cengengesan, menyelesaikan bilasan terakhirnya dan mencuci tangan.

Di meja dapur, Seto yang sedang membuat dua gelas kopi, tersenyum kecil.

"Ini puisinya beda. Anak-anak seusiamu banyak yang suka kok."

"Gak deh, sekian dan terima kasih."

"Dasar! Sesekali mbok baca puisi, jangan main game terus."

Lihat selengkapnya