Di ruang tengah sebuah rumah kecil di pinggir sawah, seorang bocah masih berseragam SMA membuka buku puisi asal saja.

Ia mengambil bolpoinnya dan mulai menggambar bebas di halaman puisi yang kosong. Ia tersenyum. Ia membayangkan wajah marah pamannya saat tahu kalau bukunya telah ia coret-coret.
Seorang lelaki dengan celemek muncul dari arah dapur.
"Makan dulu, Keponakanku," ucap lelaki itu dengan nada riang.
"Baiklah, Pamanku," jawab si bocah SMA tak kalah riang sembari menutup buku puisi dan meletakkan bolpoinnya.
Ketika mereka berjalan menuju dapur, si keponakan terus tersenyum melihat wajah pamannya yang ceria, yang belum tahu kalau bukunya baru saja dicoret-coret.