Kabut di Rumah Sutra

Setiyarini
Chapter #1

Akar Sengkang di Tanah Pasundan

“KRISIK... KRISIK… KRISIK…” Suara gemerisik itu mungkin terdengar seperti rintik gerimis yang jatuh di atas dedaunan kering. Namun bagi Andi Fajar Putrajaya—sosok pengusaha sutra terpadu—bunyi gesekan konstan yang memenuhi ruangan-ruangan kayu di sudut ladangnya adalah detak jantung kehidupannya. Itu adalah suara gemerisik dari ribuan ulat sutra (Bombyx mori) yang sedang mengunyah daun murbei dengan rakus. Sebuah simfoni sunyi yang telah menghidupi seluruh garis keturunannya, merajut kokon yang kemudian disulap menjadi benang hingga menjadi mahakarya kain yang bernilai tinggi.

Hamparan lahan seluas empat hektar di kaki Gunung Kamojang, Dusun Sukajadi, Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, yang berudara sejuk dan berkabut tebal, menjadi tempat perlindungan yang sempurna bagi vegetasi pohon murbei putih (Morus alba) yang tumbuh subur, berdaun hijau lebar dan ranum. Bahkan, lahan ini sekaligus menjadi tempat bagi Fajar membangun dinastinya, sebuah replika dari mimpi besarnya yang ia bawa dari tanah kelahirannya yang jauh di seberang pulau.

Sementara itu, sebagian lahannya yang berada di sudut sebelah timur dengan luas tiga ribu meter persegi, kini telah bertransformasi menjadi kompleks inti Rumah Sutra Putri Fajar, yang di bagian paling depannya berdiri anggun hunian utama yang dijuluki "rumah induk" dengan luas lima ratus meter persegi. Di rumah induk inilah nadi kehidupan keluarga kecil Fajar berdenyut.

Segala keputusan besar, kehangatan di meja makan, hingga deru usaha sutra yang sudah ia bangun dan dikembangkan selama puluhan tahun bersama sang istri serta anak-anaknya, berpusat di rumah induk tersebut. Hunian yang ia rancang dengan mengadaptasi arsitektur rumah panggung kayu khas Bugis bernuansa modern itu, siap menyambut siapa saja yang melintasi gerbang utama.

Jauh sebelum Fajar membangun dan tinggal bersama keluarga kecilnya di kawasan kaki Gunung Kamojang, akar kehidupan Fajar sebelumnya tertanam sangat kuat di Kota Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan—pusat produksi sutra alam terbesar di Indonesia, tempat di mana jemari para leluhurnya telah memintal benang sutra menjadi kain tenun tradisional Bugis bermotif balo lobang secara turun-temurun sejak berabad-abad lalu.

Fajar adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Sejak duduk di bangku kelas lima sekolah dasar, Fajar bersama kedua adiknya—Restu dan Mentari—telah terbiasa berpeluh karena harus bekerja keras membantu kedua orang tua mereka memutar roda bisnis keluarga, yaitu mulai dari pemeliharaan bibit ulat sutra, pemilahan daun murbei yang layak untuk pakan ulat, penyortiran kokon, pemintalan benang, hingga pembuatan kain tenun sutra.

Namun jauh di lubuk hatinya, Fajar menyimpan mimpi besar. Ia tidak ingin sekadar menjadi perajin sutra konvensional yang belajar secara otodidak, melainkan ingin menggali lebih dalam tentang budidaya sutra dan murbei, serta mengembangkan bisnis keluarga melalui ilmu pengetahuan modern yang kelak diperolehnya di bangku perguruan tinggi. Dengan bekal itu, ia bercita-cita memajukan industri sutra alam yang akan dibangunnya sendiri.

Mimpi besar Fajar akhirnya menuntun pandangannya pada sebuah kampus negeri pertanian terkemuka di Bogor, Jawa Barat—Institut Pertanian Bogor (yang sekarang bernama IPB University)—Hingga tibalah saatnya di mana Fajar harus mengambil langkah besar untuk meraih impiannya tersebut.

Memasuki pertengahan tahun 1976, momentum emas itu akhirnya tiba. Berkat gagasan visioner Prof. Andi Hakim Nasoetion—saat itu menjabat sebagai Dekan Sekolah Pascasarjana IPB sekaligus Ketua Program Penerimaan Mahasiswa Baru—lahirlah sebuah terobosan radikal bernama Sistem Panduan Bakat.

Melalui program ini, IPB menyebarkan Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) ke berbagai SMA unggulan di seluruh Nusantara. Untuk pertama kalinya, penerimaan mahasiswa baru dilakukan tanpa ujian tulis, melainkan berdasarkan rekam jejak nilai rapor terbaik siswa, mulai dari semester satu hingga lima.

Inovasi ini muncul dari sebuah tantangan besar "IPB harus menjaring sekitar seribu mahasiswa baru", sementara citra perguruan tinggi pertanian kala itu dianggap kurang bergengsi dibanding universitas besar lain. Hingga kemudian, Prof. Andi Hakim merancang USMI sebagai jalan keluar—cara elegan untuk mendapatkan siswa terbaik sekaligus membuka pintu pemerataan pendidikan tinggi bagi anak-anak berbakat dari daerah.

Terobosan ini menjadi oase bagi anak-anak daerah berotak encer seperti Fajar, karena dengan sistem tersebut, ia tidak harus menyeberangi lautan ke Pulau Jawa hanya untuk mengadu nasib melalui tes ujian masuk tertulis. Di kemudian hari, inovasi luar biasa perekrutan mahasiswa yang digagas tahun 1975 tersebut diadopsi secara nasional dengan nama PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan), hingga akhirnya bermutasi menjadi SNBP (Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi) di era modern saat ini.

Memasuki paruh kedua tahun 1976, tepat di bulan Agustus, sebuah amplop cokelat besar berstempel resmi Institut Pertanian Bogor tiba di meja Kepala Sekolah SMA Negeri Sengkang, tempat Fajar menuntut ilmu. Di dalamnya tersimpan sebendel surat: lembar Undangan Seleksi Mahasiswa IPB (USMI), lengkap dengan formulir kosong untuk diisi data murid yang direkomendasikan sekolah.

Karena Fajar selalu berhasil mempertahankan prestasi di peringkat tiga besar sejak kelas satu, sang Kepala Sekolah tanpa ragu menuliskan namanya bersama beberapa murid lain yang menempati lima besar tertinggi. Formulir itu kemudian diketik manual dengan mesin tik, dilampiri salinan rapor, lalu dipaketkan kembali menuju Bogor pada awal September.

Lihat selengkapnya