Sejak awal dibeli, tanah di Dusun Sukajadi, kaki Gunung Kamojang itu, adalah hamparan yang keras dan padat. Sentuhan cangkul tradisional masa lalu belum mampu menembus dan menggemburkan strukturnya secara optimal. Batu-batu andesit berukuran kecil dan sedang tampak berserakan di beberapa bagian. Namun, bumi Sukajadi tidaklah mati, tanahnya tetap menyimpan napas kehidupan berkat vegetasi liar dan jejaring akar purba yang memeluk lereng, menjaganya dari runtuhan erosi.
Setelah resmi menjadi pasangan suami-istri, Putri membuktikan bahwa ia bukan sekadar pelengkap hidup sang suami. Berbekal ilmu Proteksi Tanaman dari bangku kuliah, ia tahu persis cara melindungi pohon murbei dari serangan hama dan penyakit. Sementara itu, Fajar dengan latar belakang Agronomi memahami teknik menyuburkan tanah berbatu agar tanaman dapat tumbuh rimbun.
Keduanya saling melengkapi: Fajar mengolah tanah yang keras, sedangkan Putri memastikan setiap jengkal tanaman tetap sehat. Putri tidak pernah mengeluh meski telapak tangannya mulai kapalan akibat ikut turun ke kebun. Ia justru bangga bisa menerapkan ilmunya berdampingan dengan sang suami hingga lahan berbatu itu perlahan berubah menjadi hamparan hijau yang menenteramkan.
Namun, keberhasilan membangun kebun murbei di kaki Kamojang hanyalah langkah awal. Keputusan mereka untuk membangun hidup di Kecamatan Samarang ini segera membawa tantangan yang lebih besar. Sejak pertengahan abad ke dua puluh, wilayah sejuk di Garut yang dijuluki Swiss van Java ini telah masyhur sebagai bentengnya para perajin tenun sutra alam. Menembus pasar lokal yang sudah dipenuhi oleh para pemain lama dengan tradisi turun-menurun tentu bukanlah perkara mudah bagi sepasang pendatang seperti mereka.
Fajar dan Putri sadar, bila hanya mengandalkan cara lama para perajin lokal, usaha mereka akan tergilas dominasi para perajin senior Parahyangan. Karena itu, mereka memutuskan menguasai sektor hulu—mulai dari pengadaan bibit ulat, budidaya ulat sutra, budidaya murbei untuk pakan, hingga menjaga kebersihan kandang ulat—demi menghasilkan kokon dengan serat benang berkehalusan tinggi.
Waktu terus bergulir, seiring dengan roda generasi yang berputar. Sejak kedua orang tua Fajar menapaki usia senja, usaha sutra di Sengkang dikelola secara solid oleh kedua adiknya, Restu dan Mentari, bersama keluarga masing-masing. Restu bersama kedua anak laki-lakinya memimpin sektor hulu, menampung ratusan ribu kokon ulat sutra dan berton-ton daun murbei hasil budidaya warga Wajo. Sementara Mentari, dengan kecerdasan manajemen finansialnya, mengelola modal makro sekaligus mengayomi ratusan perajin lokal di kampung tenun Sengkang untuk memproduksi kain sutra bernilai ekspor tinggi.
Dari perputaran uang miliaran di tanah Bugis itulah, Fajar tetap mendapatkan haknya dari sebagian jatah warisannya yang diputar sebagai modal usaha sutra di Sengkang. Sebanyak tujuh puluh lima persen dari sisa jatah warisan sengaja ia tinggalkan di sana untuk menunjang modal pabrik sutra keluarga. Sebagai gantinya, Fajar menerima bagian keuntungan usaha secara rutin setiap empat bulan sekali yang jumlahnya tidak kecil—sebuah sistem pembagian hasil yang diatur secara adil dalam usaha keluarga besar. Dengan begitu, meski ia merantau dan fokus membangun kehidupan yang mandiri di luar Sengkang, denyut ekonomi di tanah kelahirannya tetap mengalir sampai ke tangannya. Bagi Fajar, uang itu bukan sekadar angka, melainkan pengikat takdir antara dirinya yang merantau dan nadi di tanah kelahirannya yang terus berdenyut.
Meski begitu, Fajar tidak mau bergantung sepenuhnya pada hasil usaha pabrik di tanah kelahirannya. Di Garut, mereka tidak melangkah dengan kepala kosong. Berbekal jaringan terpandang dari keluarga besar Putri, mereka berhasil mengikat kerja sama strategis dengan para pelaku usaha raksasa lokal. Jaringan juragan vila, perhotelan, hingga produsen dodol legendaris Garut sepakat menjadikan kain sutra hasil tenunan Fajar sebagai produk eksklusif untuk dekorasi dan cinderamata premium mereka.
Tak berhenti di situ, Fajar juga melibatkan mantan dosen pembimbingnya di IPB yang merupakan bagian dari konglomerat agraria. Lewat jaringan distribusi kopi dan logistik milik keluarga sang dosen, produk sampingan Rumah Sutra—seperti teh herbal dari daun murbei—bisa menembus pasar modern dengan cepat.
Kepercayaan dari para mitra kakap inilah yang menjadi jaminan bagi Fajar untuk melangkah lebih jauh. Berbekal reputasi bisnis yang bersih, ia berhasil mengajukan nota kesepahaman resmi—MoU (Memorandum of Understanding)—untuk memperoleh akses telur ulat sutra hibrida unggul (Bombyx mori) langsung dari Pusat Pembibitan Ulat Sutera (PPUS) Candiroto, Temanggung, Jawa Tengah milik Perum Perhutani. Telur-telur ulat sutra kecil itulah yang menjadi cikal bakal seluruh kekayaan Fajar Putrajaya dan Putri Maharani di Rumah Sutra miliknya hingga kini.
Namun untuk mengurus satu hektar kebun dan ribuan ulat yang sensitif bukanlah hal yang mudah. Semua itu tidak akan cukup jika hanya mengandalkan dua pasang tangan saja. Alih-alih mendatangkan buruh dari luar dusun, Fajar dan Putri memutuskan untuk membuat program pelatihan petani dan perajin sutra bagi warga dusun setempat. Bagi mereka, program pelatihan tersebut wajib diadakan demi mendapatkan pekerja yang benar-benar terampil serta mampu memahami rantai proses pembuatan kain sutra dari hulu ke hilir.
Pasangan muda ini kemudian membuka kesempatan bagi warga Dusun Sukajadi yang saat itu banyak yang membutuhkan pekerjaan. Dengan melibatkan kepala dusun dan aparatur desa setempat, program pelatihan yang diinisiasi oleh Fajar dan Putri tersebut mendapat sambutan hangat dari warga Dusun Sukajadi. Bahkan, banyak warga dari dusun yang berbeda pun berminat untuk mengikuti program pelatihan yang mereka buat.
Hingga kemudian, tibalah saatnya pasangan muda ini memberikan edukasi cuma-cuma. Selama lima minggu penuh, dengan sabar dan langkah taktis, mereka melatih para warga untuk menjadi petani murbei yang cakap, tidak hanya membudidaya tanaman, tetapi juga memilah daun yang tepat dan layak untuk pakan ulat, sekaligus mengolah teh daun murbei menjadi minuman herbal yang berkhasiat untuk kesehatan.
Selain itu, para peserta juga dilatih bagaimana cara merawat ulat, mengendalikan hama dan penyakit, memanen kepompong, hingga menjaga higienitas kandang. Tak hanya itu, mereka juga diajarkan cara merebus kokon, mengurai, memintal, dan menggulung benang, hingga menenun serta melakukan proses pewarnaan, baik pada benang maupun kain.
Di tengah keriuhan para peserta pelatihan tersebut, Fajar dan Putri sebenarnya sedang diam-diam menaruh perhatian khusus. Mereka sadar bahwa untuk membangun Rumah Sutra ini, mereka tidak hanya membutuhkan pekerja yang lihai secara teknis, melainkan seorang asisten utama yang rajin, cekatan, dan yang paling penting: memiliki etika serta integritas tinggi untuk memegang rahasia dapur perusahaan kelak.