Kabut di Rumah Sutra

Setiyarini
Chapter #5

Keputusan mutlak sang Perintis

Bapak Andi Fajar Putrajaya melangkah masuk menuju ruang tengah dengan perlahan, dengan kekuatan tubuh yang bertumpu pada tongkat kayunya. Di belakang sang ayah, Bunda mereka, Ibu Putri Maharani, menyertai dengan wajah cemas. Kedatangan kedua pilar Rumah Sutra itu seketika mengunci semua argumen yang tadi memercik bak sumbu petasan yang hampir meledak di atas meja makan kayu jati.

Melihat ayahnya mendekat, Satria segera bangkit dari duduk lalu menyodorkan kursi yang semula ia tempati. “Duduk di sini, Yah,” tutur Satria sembari menuntun sang ayah duduk dengan hati-hati.

Ibu Putri kemudian mengambil tempat di sebelah suaminya, tepat di samping Mutiara. “Kalian bisa, kan, berdiskusi dengan kepala dingin? Ayah dan Bunda sudah mendengar semua hal yang kalian perdebatkan sejak tadi,” tegur Ibu Putri dengan nada tegas, tatapannya menyapu anak-anak dan para menantunya.

Fajar menarik napas berat, jemarinya mencengkeram erat kepala tongkat kayu. “Ayah sudah mendengar semuanya,” ujar Fajar. Suaranya bariton, rendah, namun bergaung penuh wibawa di ruang tengah itu. “Ayah dengar bagaimana kalian meributkan dana dan keuntungan, membagi-bagi lahan, bahkan sebelum Ayah dan Bunda kalian menutup mata.” Fajar mengalihkan fokusnya, menatap anak keduanya. “Mega, Ayah mengerti ambisimu. Ayah izinkan kamu membangun aula impianmu itu.”

Sontak, mendengar kalimat ayahnya yang baru terucap sepotong, wajah Mega langsung semringah. Sorot matanya tampak berbinar. “Hah?! Serius, Yah? Terima kasih banyak, Yah!” sahut Mega kegirangan. Ia bangkit dari kursi dan langsung memeluk erat tubuh renta sang ayah. Namun, beberapa detik kemudian, pelukan itu perlahan terlepas. Tubuh Mega mendadak kaku setelah mendengar kelanjutan ucapan ayahnya.

“Tapi, di sini Ayah dan Bunda yang memegang keputusan mutlak,” lanjut Fajar, matanya menatap tajam tanpa kompromi. “Kamu hanya boleh memakai jatah lahan di sektor barat dengan kuota maksimal dua ribu meter persegi, yang dekat dengan dua bangunan vila di sana. Konsep bangunannya pun tidak boleh berupa gedung beton yang kaku dan angkuh. Di atas lahan dua ribu meter persegi itu, silakan kamu membangun aula dengan konsep tradisional yang terbuka dan menyatu dengan alam.”

“Tapi, Yah? Cuma dua ribu meter persegi untuk aula? Enggak salah, Yah?” sahut Mega dengan wajah bersungut-sungut, mencoba menawar jatah tanah.

“Cukuplah, Teh. Dua ribu meter persegi itu luas. Kalau Teteh menolak tawaran Ayah, biar Mutiara saja yang pakai lahannya. Kan, bisa aku pergunakan buat kegiatan ekowisata di tengah kebun,” celetuk Mutiara, tiba-tiba menyela kalimat kakaknya. Sementara itu, Mega yang tidak senang dengan maksud adiknya, memasang wajah masam seketika.

“Kalau kamu mau bangun di atas lahan yang luas, dana yang dibutuhkan juga pasti besar. Sekarang Ayah mau tanya,” sergah Fajar, suaranya mendadak meninggi dengan sorot mata tajam menghujam anak keduanya. “Bagaimana dengan pemasukan dari dua unit vila, kafe, dan resto yang kamu kelola sekarang? Apa nominal kas yang tersimpan cukup memadai untuk membangun aula di atas lahan dua hektar yang jadi angan-anganmu itu? Dua hektar, Mega! Lahan murbei sumber kehidupan kita mau kamu babat habis hanya untuk aula seluas dua hektar?!”

“Bunda sangat kecewa kalau kamu membabat lahan dua hektar di sana, Mega. Memangnya orang mau menyewa aula setiap hari? Kamu mau menutup usaha Rumah Sutra yang sudah Ayah dan Bunda rintis selama puluhan tahun ini?!” cetus Putri dengan nada kecewa dan emosi yang tertahan. Mega dan Arifin seketika terdiam, tertunduk tak berani menatap wajah kedua orang tua mereka.

Lihat selengkapnya