Kabut di Rumah Sutra

Setiyarini
Chapter #7

Siasat yang terpatahkan

Di sebuah rumah panggung modern, di sebelah selatan rumah induk, atmosfer sibuk dan penuh ambisi tersorot jelas dari jendela ruang tengah Mega yang masih terang benderang. Di atas meja makan river flow berhias kaca tengah dari kayu trembesi, Mega dan Arifin sedang duduk berdampingan. Fokus mereka sepenuhnya tersedot pada coretan tata letak aula panggung yang diperintahkan untuk dibangun di dekat kompleks vila sektor barat.

Lembaran kertas HVS yang dipenuhi sketsa kasar berserakan di atas meja. Mereka harus mematangkan konsep pembangunan tersebut malam ini juga. Sesuai perintah mutlak sang perintis, besok pagi mereka diwajibkan bertemu dengan Rahmadi, sang tangan kanan orang tua mereka, untuk mendiskusikan sekaligus memvalidasi proyek aula itu langsung di lapangan.

“Mas, kalau si Rahmadi besok bersikeras minta letak bangunannya digeser, gimana?” tanya Mega gelisah sembari mengetuk-ngetukan pensil di atas kertas draf. “Titik yang kamu buat ini memang bagus pemandangannya, Mas, tapi aku jadi kepikiran sama omongan Mutiara soal pipa saluran air utama ke kandang ulat itu.”

Arifin terkekeh pelan, melipat tangannya di dada sembari menatap coretan draf bangunan di hadapannya dengan senyum penuh siasat. “Sayang, jangan terlalu naif. Rahmadi itu kan cuma karyawan tua yang enggak sekolah arsitektur modern. Tugas kita besok adalah membuat dia setuju sama tata letak aula yang mau kita bangun tanpa banyak protes. Aku sengaja menaruh aula eksklusif ini menempel dengan kebun barat, karena di situlah nilai jual pariwisatanya.”

Arifin menopang dagu, matanya berkilat menatap istrinya dengan lekat. “Dan dengar, Sayang, mumpung Ayahmu menyuruh kita menyusun teknis lapangan tanpa pengawasan arsitek formal, gunakan ini sebagai kesempatan emas. Bangunan terbuka seluas tiga ratus meter persegi ini sebenarnya cukup menghabiskan dana sekitar satu koma dua miliar rupiah saja kalau dikerjakan secara mandiri oleh Tukang Bas lokal. Jadi, di laporan tertulis yang kamu buat nanti, kita lebihkan saja anggarannya, kalau perlu kita bulatkan sebesar satu setengah miliar rupiah sesuai kuota maksimal dari Ayah.”

Arifin berbisik makin dalam, “Kita 'bikin lebar' sedikit biaya material kayunya, ornamen ukiran fiktif, dan upah tenaga kerja di sana. Selisih tiga ratus juta rupiahnya bisa kita amankan diam-diam untuk memutar modal proyek tempat wisata alternatifku di Jakarta. Tenang aja, Sayang, laporan pembukuannya akan aku bantu susun serapi mungkin agar enggak memicu kecurigaan Ayahmu maupun pamanmu di Sengkang.”

Mega terdiam sejenak, menelan ludah mendengar bisikan manipulatif suaminya. Ada sedikit rasa bimbang dan bersalah yang menyusup di hatinya. Namun, bayangan tentang keuntungan berlipat ganda dalam waktu singkat, serta keinginan kuat untuk membuktikan diri di depan Sultan dan adik-adiknya, membuat akal sehat Mega perlahan lumpuh di malam itu.

Di atas meja makan trembesi itu, sketsa pensil di atas kertas HVS bukan lagi sekadar rancangan aula panggung kayu yang estetik, melainkan benih-benih kabut manipulasi pertama yang siap mereka tebarkan di atas tanah Rumah Sutra untuk keesokan harinya.

Kepatuhan terhadap perintah mutlak sang ayah akhirnya membawa Mega dan Arifin melangkah ke ruang penyortiran daun pada keesokan paginya. Tempat itu terletak tepat di dekat gedung pemeliharaan ulat. Di sana, Rahmadi sedang sibuk memberikan bimbingan kepada dua pegawai baru, melatih mereka memeriksa tingkat kelembapan daun-daun murbei hasil petikan subuh.

“Mang Rahmadi, mau ngobrol sebentar, Mang,” sapa Arifin menghampiri Rahmadi sambil membawa lima lembar kertas HVS berisi konsep aula panggung, tata letak, dan rincian anggaran proyek pembangunan tersebut.

“Oh, iya. Mangga, Mas Arifin, Neng Mega,” sahut Rahmadi dengan logat Sunda yang kental disertai senyuman ramah.

Begitu kertas HVS diletakkan Arifin di atas meja kerja kayu, atmosfer ruangan seketika berubah kaku. Rahmadi membetulkan letak topi petnya, lalu sepasang matanya yang sarat pengalaman menatap lembaran kertas draf itu dengan saksama.

“Aula berbentuk panggung kayu tradisional-modern ya, Mas Arifin?” tanya Rahmadi, suaranya tenang namun menuntut.

“Iya, Mang. Ayah yang memberi kami jatah kuota lahan dua ribu meter persegi di sektor barat ini,” tegas Arifin, sengaja berlindung di balik nama sang ayah mertua agar Rahmadi tidak banyak mendebat.

Rahmadi terdiam sejenak, jemarinya yang kapalan karena puluhan tahun mengurus kebun perlahan menelusuri garis tata letak yang digambar Arifin. “Emm... tapi kalau abdi lihat tata letak bangunan aula yang Mas Arifin buat ini, posisi fondasi utamanya nanti akan memotong jalur pipa saluran air utama di kebun barat,” ujar Rahmadi.

Lihat selengkapnya