Kabut di Rumah Sutra

Setiyarini
Chapter #8

Urun rembuk sang Abdi

Atmosfer di dalam ruang tengah rumah induk yang biasa digunakan untuk kumpul keluarga terasa begitu tegang. Dua pilar utama Rumah Sutra—Bapak Fajar dan Ibu Putri—sudah duduk menunggu di kursi ujung meja jati panjang. Begitu seluruh anak, menantu, dan tangan kanannya mengambil tempat mengitari meja, Fajar langsung mengetuk permukaan kayu dengan ujung jari telunjuknya.

“Rahmadi, bagaimana hasil draf anggaran proyek aula Mega? Sudah kamu cek?” tanya Fajar langsung pada intinya.

Rahmadi membetulkan posisi kacamatanya sejenak. “Parantos siap, Kang Fajar,” sahut Rahmadi tenang. Pria sepuh itu kemudian meminta lembaran kertas HVS dari Arifin yang berisi sketsa tata letak, akses jalan, hingga kalkulasi anggaran.

Rahmadi meneruskan kertas penuh coretan revisi itu kepada Fajar. Pimpinan tertinggi Rumah Sutra tersebut mulai memperhatikan draf demi draf dengan saksama. Sementara Fajar dan Putri fokus mengamati, anak-anak dan para menantu mereka terdiam gelisah. Suasana ruangan mendadak sunyi, hanya terdengar suara jarum jam dinding yang berdetak konstan.

Beberapa detik kemudian, Fajar memecah keheningan. “Arifin, Mega. Apakah kalian merasa sebagai bagian dari Rumah Sutra ini, yang sudah berdiri jauh sebelum kalian lahir?” tanya Fajar, suaranya bariton dan bergetar menahan amarah. “Lalu kenapa kalian malah mau mengubah letak instalasi pipa aliran air ke kandang ulat kita?” Mega dan Arifin tertunduk dalam. “Niat kalian mewujudkan ambisi bisnis pasti Ayah dukung, selama gagasannya tidak mengganggu urat nadi usaha ini,” sambung Fajar kecewa. “Tapi sketsa awal kalian hampir saja memutus jantung usaha kita! Memindahkan pipa vital hanya demi mengejar matahari terbit? Itu konyol!”

Sebelum ketegangan meluap, Rahmadi menyela dengan bijak. “Hapunten, Kang Fajar. Semua rancangan sudah abdi revisi. Titik lokasinya sudah abdi geser sepuluh meter ke utara. Konstruksinya aman, pipa selamat, dan tamu tetap bisa menikmati matahari terbit Gunung Kamojang.”

Rahmadi kemudian menjabarkan aspek finansial. “Beberapa poin material yang harganya melambung di draf awal sudah abdi sesuaikan dengan patokan tiga toko bangunan langganan kita. Kalkulasi baru ini jauh lebih transparan, total biaya bisa ditekan hampir tiga puluh persen lebih hemat. Dana satu setengah miliar dari Sengkang akan sangat mencukupi, Kang.”

Mendengar laporan Rahmadi yang menyelamatkan kas dari pembengkakan fiktif, Fajar mengangguk puas. Sebaliknya, wajah Arifin masam; jemarinya meremas pensil hingga patah di bawah meja. Di seberang meja, Sultan melipat tangan dengan rahang mengeras, merasa siasat adik iparnya gagal di tangan Rahmadi.

Fajar menatap anak-anaknya tajam. “Dana satu setengah miliar ini adalah dana talangan dari Pamanmu di Sengkang, jadi pertanggungjawabannya harus jelas!” tegas Fajar. Ia merahasiakan bahwa separuh dana itu sebenarnya berasal dari tabungan Putri di Pasirwangi, agar rahasia "dana darurat" itu tidak diketahui anak-anaknya, termasuk Fajar, Arifin, dan Mega yang hanya tahu uang itu murni dari Sengkang.

Rahmadi kemudian memulai terobosannya. “Nyuhunkeun hapunten anu kasuhun, Kang Fajar, Ibu Putri... izinkan abdi urun rembuk.”

Sultan mendongak tajam. “Maksudmu apa, Rahmadi?! Ini bisnis tekstil warisan leluhur kami!”

Lihat selengkapnya