Rasa kecewa Arifin yang tertahan sejak mengikuti rapat rencana proyek pembangunan aula bersama keluarga sang istri ternyata tidak pernah mereda. Kekecewaan itu justru semakin menumpuk hingga aula tersebut resmi berdiri. Ia merasa harga dirinya sebagai menantu tidak pernah dianggap, seolah hanya bayangan di balik ambisi istrinya.
Lebih parah lagi, selama proses pembangunan berlangsung, setiap langkahnya selalu diawasi oleh Rahmadi—sang abdi tua yang seakan lebih dipercaya mertuanya daripada dirinya sendiri. Bagi Arifin, ini bukan sekadar soal pengawasan dana, melainkan soal harga diri dan keinginan untuk membuktikan diri di hadapan sang kakak ipar.
Didorong oleh rasa kesal yang menumpuk, disertai niat tersembunyi untuk menyingkirkan pria sepuh itu, otak licik Arifin mulai berputar. Malam itu, di balkon kamarnya, ia menggenggam jemari istrinya. Dengan nada penuh bujuk rayu, ia menyalurkan kata-kata yang menghasut, membius pikiran sang istri dengan racun kecurigaan yang perlahan merayap ke dalam hatinya.
“Sayang, apa kamu enggak sadar? Si Rahmadi itu sengaja mengatur-atur proyekmu yang belum lama selesai agar dia bisa memegang kendali keuangannya,” bisik Arifin dengan nada manipulatif yang terlatih. “Aku curiga, dia sudah memainkan harga di nota-nota pembelian kayu jati oven dan material lainnya dari toko-toko langganannya itu agar terlihat mahal. Menurutku, orang kepercayaan ayahmu itu mau mengambil untung dari dana talangan Pamanmu di Sengkang.”
Mega tertegun. Di balik keraguannya, hatinya tersulut karena proyek aula itu adalah kebanggaan pribadinya. Ia ingin membuktikan diri di depan keluarga besar, bahwa ia mampu berdiri sejajar dengan kakak-kakaknya. Maka ketika Arifin menyuntikkan keraguan, egonya yang rapuh mudah meledak.
“Mas, kalau Mang Rahmadi beneran begitu, berarti selama ini dia cuma pura-pura bijak di depan orang tuaku. Padahal Ayah sama Bunda udah percaya banget sama dia,” ucap Mega dengan nada bergetar.
Arifin tersenyum sinis, menatap manik mata istrinya demi menyuntikkan racun kecurigaan. “Justru karena dia pegawai terlama yang merangkap sebagai orang kepercayaan orang tuamu, dia bisa dengan mudah memanfaatkan posisinya untuk berbuat apa saja di Rumah Sutra ini tanpa ada yang berani mencurigainya. Ingat, Sayang, orang paling jujur pun bisa mendadak silau kalau sudah melihat uang ratusan juta di depan mata.”
Mega menatap mata suaminya dengan rasa percaya yang mulai tumbuh. Dalam batinnya ia bergumam, “Kalau benar Rahmadi mengatur-atur proyekku, berarti kebanggaanku bisa runtuh. Aku tidak boleh membiarkan orang lain merusak mimpi yang sudah kuperjuangkan.”
Arifin pun tersenyum puas. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menyetir Mega. Melalui istrinya, Arifin kemudian bergerak mendekati Sultan.
Keesokan harinya, di divisi tekstil dan pakaian jadi, Arifin kembali melakukan aksinya untuk menyebarkan debu-debu halus mengandung racun hasutan kepada sang kakak ipar. Ia mendatangi ruang kerja Sultan yang jadi satu dengan gedung tenun—yang letaknya berjarak sepuluh meter di belakang bangunan kantor Rumah Sutra—lalu adik ipar Sultan itu menyodorkan salinan cetak laporan keuangan tandingan yang angka-angkanya sudah direkayasa semalaman.
“A Sultan, Aa harus lihat ini,” hasut Arifin sambil mengetuk lembaran kertas itu. “Ini laporan draf anggaran pembelian material aula panggung yang kami susun berdasarkan harga pasaran kota. Selisihnya jauh lebih murah dari laporan yang dibuat Rahmadi minggu lalu. Aa sebagai pimpinan divisi produksi, masa mau diam saja melihat aset Rumah Sutra diakal-akali oleh karyawan Paket C?”
Sultan yang sejak awal memang menaruh dendam batin dan rasa iri pada Rahmadi, langsung menyambar salinan cetak tabel laporan anggaran di atas meja. “Serius ini, Fin, harga materialnya lebih miring ternyata, ya?” Matanya berkilat murka ketika fokus memperhatikan harga-harga material bangunan yang tampak lebih murah di atas kertas rekayasa itu.
Dengan rahang yang mengetat, Sultan bangkit dari duduknya sambil menggebrak meja kerja dengan kencang. Dentuman itu menyebabkan para pegawai yang sedang menenun di aula ATBM, terutama yang posisinya tepat di depan ruang kerjanya terkejut seketika.
“Kurang ajar! Dia pikir dia itu siapa di sini?!” emosi Sultan meluap. “Baru terima pujian begitu aja dari Ayah, langsung merasa sok berkuasa di Rumah Sutra ini. Ini enggak bisa dibiarin, aku harus bertindak!”
Dengan napas memburu, Sultan menggenggam erat salinan cetak tabel laporan dari Arifin, kemudian melangkah cepat meninggalkan ruangan. Di belakangnya, Arifin berusaha mengejar sambil memanggil nama Sultan dengan nada panik, namun Sultan mengabaikan seruan adik iparnya. Sang anak sulung telanjur dibakar amarah yang sudah lama membara.
Melihat Sultan yang tak acuh, kepanikan menjalar di dada Arifin. Saat berbalik hendak kembali ke ruang kerja Sultan, ia justru berpapasan dengan Aulia, istri Sultan. Tanpa buang waktu, Arifin langsung mencegatnya.
“Mbak Lia! Tolong cegah A Sultan! Jangan sampai dia melabrak Mang Rahmadi sekarang. Ini bukan waktu yang tepat, posisi Mang Rahmadi sedang kuat. Kalau sampai dilabrak Aa, pasti percuma, tetap saja orang tua itu yang bakal dibela Ayah. Apalagi tadi saat saya mau ke ruangan A Sultan, saya lihat Mang Rahmadi sedang ngobrol berdua akrab banget sama Ayah di serambi belakang. Saya khawatir, nanti A Sultan malah bisa kena masalah!”
Aulia mengernyitkan dahi, menatap Arifin dengan heran. “Terus, kenapa kamu yang gelisah begitu, Fin? Ya, biarin aja Rahmadi dilabrak suamiku. Biar dia tahu rasa, dan enggak berani macam-macam lagi di rumah ini!”